Memoar, Opini, Kata Hati

Jumat, 24 April 2015

Kado Terindah


Sore yang cerah. Awan-awan berarak riang di langit. Ada yang bergerak cepat, dan ada yang jahil berlama-lama menutupi sinar matahari. Awan yang tampak riang ternyata tak mendukung suasana hatiku. Ah, cukup banyak hal yang sedang kupikirkan. Ulangan biologi di esok hari memang menjadi salah satunya. Tapi bukan hal itu yang mengganjal di hatiku. Ya sudahlah, kurasa tak ada gunanya bila memikirkan itu terus. Tak terasa lamunanku sepanjang perjalanan pulang sudah membawaku ke pintu rumah. Segera aku bergegas masuk ke rumah. Seperti biasa ada oma di ruang tamu. Rupanya ia sedang menjahit kancing seragamku yang lepas.


"Oma, Aldo udah pulang, nih …”

“Hei, Aldo sudah pulang. Ganti baju dulu gih, ada bubur ketan item tuh di kulkas.”

Aku masih terdiam di sofa ruang tamu. Memperhatikan oma yang dengan seksama masih menjahiti kancing seragamku. Jahitan kancing yang tak terlepas pun satu persatu dijahitnya lagi agar tak mudah lepas. Oma memang sungguh teliti. Kalimat itu pun kembali meluncur dari bibirku. Entah sudah berapa kali aku mengucapkannya.

“Papi mami kapan pulang ya, Oma?”

Oma terhenti sejenak dari kegiatannya menjahit kancing seragam. Ia menatap wajahku dalam-dalam dan kemudian tersenyum lembut ala ABG di iklan kosmetik.


“Aldo sayang, oma tau kamu kangen papi mami. Tapi mungkin papi mami emang lagi sibuk sama kerjaannya. Kalo mereka free pasti mereka nyempetin waktu buat pulang nengokin kita. Yang paling penting mereka sehat-sehat aja di sana.”

Aku hanya mengangguk-angguk pelan. Berusaha memaklumi kalimat demi kalimat yang dikatakan oma. Mungkin sudah puluhan kali aku berusaha memakluminya. Apa boleh buat memang begitu adanya. Lebih baik aku segera bergegas ke kamar dan ganti baju.

Aku, oma dan adikku Alma memang hanya tinggal bertiga saja di rumah. Papi dan mamiku sudah lima tahun tinggal dan bekerja di Jerman. Lapangan pekerjaan di tanah air memang agak sulit dicari. Tak mengherankan bila bekerja di Jerman dengan penghasilan besar menjadi salah satu pilihan hidup. Aku masih kelas 1 SMP ketika papi dan mami memutuskan untuk bekerja di Jerman. Alma yang usianya terpaut lima tahun denganku juga masih sangat kecil waktu itu. Kami berdua sangat beruntung memiliki oma yang sangat menyayangi kami. Oma meyakinkan papi dan mami untuk bekerja di Jerman dengan tenang karena ia yang akan menjaga kami dengan baik. Keadaan finansial keluarga kami tak pernah kekurangan, bahkan lebih dari cukup. Setiap bulan papi dan mami pasti rutin mengirimkan biaya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Oma tetaplah oma. Fisiknya memang sangat kuat dan jarang sekali sakit. Ia sangat menyayangi aku dan Alma. Aku tak pernah mendengar ia marah padaku atau Alma. Kesalahan atau kekeliruan yang kami buat biasanya akan dikoreksi oma dengan tutur katanya yang lembut namun tegas. Mungkin ia adalah orang paling sabar yang pernah aku temui. Selain harus ditinggalkan oleh anak dan menantu, ia masih harus menjaga serta mendidik aku dan Alma. Hal yang mungkin tak pernah dan tak ingin dibayangkan oleh orang-orang seusianya. Aku senantiasa mengingatkan Alma dan diriku sendiri agar tak terlalu membebani oma. Pekerjaan rumah yang dapat kami kerjakan seperti mencuci piring dan membersihkan kamar mandi selalu kami kerjakan untuk meringankan pekerjaan oma. Aku dan Alma juga tidak pernah merengek minta dibelikan sesuatu. Kurasa uang saku yang diberikan papi dan mami sudah lebih dari cukup untuk jajan dan keperluan sekolah.

Malam itu aku sudah selesai membaca catatan biologi. Aku duduk-duduk di teras menikmati semilir angin malam yang sejuk. Aku terdiam lama sekali, sebelum Alma menghampiri aku dan berkata,

“Mas Aldo, papi mami kapan ya pulangnya. Sebentar lagi kan mas Aldo ulang tahun yang ke 17.”

Mendengar ucapan Alma, aku termenung beberapa saat. Apa yang diucapkan adikku adalah hal yang dari kemarin-kemarin mengganjal di hatiku. Di hari spesial itu apa papi dan mami akan menyempatkan diri meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk pulang ke rumah. Sudah tiga tahun papi dan mami tidak pulang ke rumah. Aku kangen sekali dengan papi dan mami, Alma dan oma juga pasti kangen mereka.

“Mas Aldooooo… kok malah bengong sih?”

“Eh… Hmm… papi dan mami pasti pulang kok kalo sempet. Kalo mereka ga pulang ya mungkin emang lagi banyak kerjaan. Papi mami kan kerja buat kita semua. Yang penting kamu jangan nakal, jadi ga nyusahin oma tuh. Hahahaha…”

“Uuh, Mas Aldo ngomongnya gitu terus. Bosen tau. Bulan lalu aja aku ulang tahun tapi papi sama mami ga pulang. Kalo nanti papi mami pulang pas Mas Aldo ulang tahun, aku sirik banget. Weeee…”

Alma meledekku seraya menjulurkan lidahnya lalu ia berlari masuk ke kamarnya. Aku kasihan melihat adikku itu. Sebulan yang lalu ia berulang tahun. Ia ingin sekali papi dan mami pulang di hari ulang tahunnya. Ia juga request kado berupa seekor anak anjing golden retriever pada papi dan mami. Jangankan mengabulkan keinginan Alma untuk pulang ke rumah, seekor anak anjing saja akhirnya tak menjadi kado ulang tahun untuk adik semata wayangku itu. Padahal tahun-tahun lalu papi dan mami selalu mengabulkan permintaan kami di hari ulang tahun. Bagaimana dengan aku?

Seperti tahun-tahun lalu, papi mami menanyakan aku mau kado apa di hari ulang tahunku setahun yang lalu. Aku meminta sebuah sepeda motor, tak perlu yang baru, bekas pun tak apa-apa. Aku meminta kado itu bukan tanpa alasan. Aku merasa perlu sepeda motor agar dapat bepergian dengan mudah dan hemat ongkos. Deengan sepeda motor, aku pun dapat mengantar oma pergi ke pasar atau ke tempat lainnya. Tapi ternyata keinginanku tahun lalu itu tidak terkabul. Papi dan mami mengirimkan aku satu set lengkap seri novel Harry Potter. Aku merasa sedikit kecewa, tap tak apalah karena novel-novel itu dapat melengkapi koleksi bukuku. Papi dan mami memang paham kalau aku hobi membaca buku.

Tahun ini aku tak lagi meminta kado sebesar dan semahal sepeda motor. Aku hanya ingin memiliki sebuah mp3 player yang dapat menemaniku ketika sedang bersantai. Sebenarnya bukan mp3 player yang menjadi keinginan utamaku. Bagiku, melihat papi dan mami pulang ke rumah untuk menengok kami adalah hal yang paling penting.

Hari-hari berlalu dengan cepat dan diisi dengan rutinitas seperti biasanya. Tak terasa besok adalah hari ulang tahunku. Malam ini aku hanya ingin bersantai di kamarku. Kurasa sudah saatnya aku mendewasakan diri. Besok umurku genap 17 tahun. Tak apalah bila papi dan mami tidak pulang ke rumah tahun ini. Ya, memang sepertinya tidak pulang lagi. Biasanya bila akan pulang, mereka pasti telepon dulu untuk memberi kabar. Tapi sampai sekarang tak ada kabar, berarti papi dan mami belum akan pulang ke rumah. Tak lama kemudian aku pun tertidur pulas.

Tak terasa hari sudah beranjak pagi. Aku masih bermalas-malasan di kasur karena ini adalah hari minggu. Aroma nasi kuning yang sedap masuk ke kamarku melalui celah-celah pintu. Hmm… sedap sekali aromanya. Oma memang selalu memasakkan nasi tumpeng lengkap dengan lauk dan kue-kue basah di hari ulang tahunku atau ulang tahun Alma. Aku segera keluar kamar dan berjalan menuju meja makan. Wow, kue-kue basahnya lengkap sekali dan sepertinya jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Ada risoles mayonnaise, klepon, ├ęclair, bugis mandi, dadar gulung dan kue lumpur coklat.

Kue lumpur coklat?

Seingatku, di rumah tidak ada yang suka dengan kue lumpur coklat. Oma pun sudah lama tidak membuat kue lumpur coklat. Biasanya hanya mami yang suka sekali makan kue lumpur coklat. Mami?

Setengah terkejut dan tak percaya, aku berlari ke kamar papi dan mami. Kamar itu sudah lama kosong. Oma yang rajin membersihkan kamar itu dan mengganti spreinya, dan sesekali aku ikut membantunya. Kamar itu masih kosong seperti biasanya. Tapi di salah satu sudutnya ada tumpukan tiga koper besar yang tergeletak di lantai. Tak salah lagi. Papi dan mami pasti sudah pulang. Aku kebingungan selama beberapa saat, dan tanpa berpikir panjang segera berlari ke arah teras. Sebuah pemandangan yang tak dapat kupercaya berada tepat di depanku. Alma dan mami sedang memberi semangkok susu pada seekor anak anjing golden retriever. Mami cantik sekali, ia tampak tampil santai dengan kaos dan celana pendek. Rambut panjangnya terurai, ia masih tampak sama seperti tiga tahun yang lalu. Mami menoleh ke arahku dan tersenyum manis sambil berkata,

“Akhirnya si ganteng ini bangun juga… yaa ampun bangunnya siang banget sih ”

“Uh.. ehh.. mami… mami kapan pulang? Kok ga ngabarin ke rumah?”

Aku berlari memeluk mami yang masih memegangi semangkok susu. Rasanya senang dan lega sekali melihat mami di teras pagi itu. Mami memelukku sambil membelai lembut rambutku.

“Kamu bau banget… mandi dulu gih”
“Papi mana, Mi?”

Belum sempat mami menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada suara motor berhenti di depan rumah. Papi datang mengendarai satu unit sepeda motor baru bergaya retro ala skuter vespa. Ia bergegas masuk ke rumah dan kemudian menyambut pelukanku.

“Apa kabar sayang… sehat-sehat kan. Selamat ulang tahun yang ke 17 ya. Semoga kamu selalu sehat-sehat, happy, tambah sayang sama kita semua. Wish you all the best.

“Papiii… aku kangen papi mami. Kenapa ga bilang-bilang kalo mau pulang”

“Kan kita mau bikin surprise buat kamu sama Alma. Hahahahahaha … Papi sama mami bawa kado ulang tahun kamu tahun lalu. Sepeda motor yang kamu mau. Papi sama mami bukannya ga mau beliin kado untuk kamu taun lalu. Tapi taun lalu kan umur kamu masih 16, sekarang udah umur 17 jadi udah bisa bikin KTP dan SIM. Udah cocok dan legal buat bawa motor kemana-mana.”


Kami sekeluarga pun masuk ke rumah dan bersenda gurau di ruang tamu. Papi dan mami bukan hanya membawakan kado ulang tahun yang aku inginkan di tahun lalu. Mereka juga membawa kado ulang tahun Alma, seekor anak anjing Golden retriever berumur 2 bulan lengkap dengan sertifikat lahir dan buku vaksinnya. Melihat papi dan mami pulang ke rumah tepat di hari ulang tahunku adalah kado terindah bagiku di umur 17 tahun ini. Tapi rupanya mereka masih menyiapkan satu kejutan lagi untukku, satu unit mp3 player keren berlambang buah apel yang sudah pasti mahal harganya. Rasanya aku malu sekali dengan papi dan mami. Umurku sudah 17 tahun tapi aku masih banyak menuntut dari mereka. Tak apalah kutahan rasa malu itu, yang penting hari ini aku bisa berkumpul dengan mereka, orang-orang yang sangat kucintai. Semoga seluruh anggota keluargaku selalu dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan oleh Tuhan.

Sumber gambar :










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa