Memoar, Opini, Kata Hati

Jumat, 22 Januari 2016

Guru Kelas VS Guru Bidang Studi, Manakah Sistem yang Lebih Baik?

Membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan memang seru. Topik bahasannya pun seakan tak ada habisnya. Sebab selalu ada hal-hal menarik yang bisa disoroti dari sebuah proses pendidikan. Salah satunya adalah sistem guru kelas dan guru bidang studi di sekolah.

Apa Sih Bedanya Sistem Guru Kelas dan Guru Bidang Studi?

 

Sumber :
Instagram


Pada sistem guru kelas, sang wali kelas akan mengajarkan hampir seluruh mata pelajaran di kelas. Biasanya hanya pelajaran bahasa asing, olahraga, dan pendidikan agama yang ditangani oleh guru lain. Sedangkan pelajaran lain berupa Bahasa Indonesia, matematika, ilmu sosial, ilmu eksakta, kewarganegaraan dan disiplin ilmu lainnya akan menjadi tanggung jawab si wali kelas.

Sementara sistem guru bidang studi justru mengkhususkan setiap guru untuk mengajar mata pelajaran yang betul-betul dikuasainya.Guru yang senang dan mahir berbahasa Indonesia tentu dapat memilih untuk mengajar di mata pelajaran tersebut. Demikian pula dengan guru lain yang menguasai bidang pelajaran berbeda.


Di Tingkat Mana Biasanya Sistem Guru Kelas dan Guru Bidang Studi Diberlakukan?

 

Sumber :
Instagram

Beberapa tahun yang lalu sistem guru kelas masih selalu diberlakukan hingga tingkat SD. Namun kini sudah mulai banyak SD yang lebih memilih penerapan sistem guru bidang studi. Di  SMP dan SMU biasanya setiap mata pelajaran akan ditangani oleh satu guru. Sedangkan untuk tingkat SD, satu orang guru bisa menangani 2 hingga 3 mata pelajaran yang dikuasainya. 

Guru bidang studi di tingkat SMP dan SMU pada umumnya akan mengajar untuk semua tingkatan kelas. Berbeda halnya dengan guru bidang studi di SD yang menangani satu tingkatan kelas saja. Jadi, seorang guru bidang studi SD kemungkinan besar hanya menangani tingkat kelas 1, kelas 2, hingga kelas 6.


Efektivitas dari Segi Kompetensi Guru

 

Sumber :
Instagram 
Dari segi efektivitas, jelas sistem guru bidang studi lebih efektif daripada sistem guru kelas. Karena setiap guru bisa memilih mata pelajaran yang benar-benar dikuasainya. Bahkan guru juga bisa memilih mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya saat menempuh pendidikan.

Guru kelas mungkin tampak lebih multi talented dari guru bidang studi. Namun tentu tidak semua mata pelajaran yang diajarkannya adalah mata pelajaran yang dikuasainya dengan sangat baik. Ada kalanya guru kelas mesti bertanya kepada rekan-rekannya untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih baik lagi. Oleh sebab itu, guru kelas jelas harus lebih meluangkan banyak waktu untuk mempelajari dan menguasai berbagai mata pelajaran. Sudah jadi kewajiban guru untuk memberikan bimbingan semaksimal mungkin untuk semua muridnya di kelas.

Efektivitas dari Segi Pencapaian Murid-murid

 

Sumber :
Instagram
 
Setiap sistem yang diterapkan tentu ada konsekuensinya. Termasuk sistem guru kelas dan guru bidang studi. Guru kelas menghabiskan lebih banyak waktu bersama murid-muridnya daripada guru bidang studi. Sehingga kemungkinan besar setiap guru kelas paham betul dengan potensi dan pencapaian muridnya satu per satu. Kala ekspresi salah satu muridnya mulai menunjukkan gejala kebingungan, maka sang guru akan mengulangi penjelasan atau menggunakan contoh yang lebih mudah.

Guru bidang studi tidak memiliki banyak waktu untuk menyelami karakter setiap muridnya. Karena setiap guru sibuk berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya ketika jam pelajaran usai. Itulah mengapa ketidakpahaman murid-murid terhadap suatu pelajaran akan semakin berlarut-larut dari waktu ke waktu. Malu bertanya sesat di jalan, banyak nanya malah malu-maluin. Belum sempat bertanya, bapak ibu guru sudah siap-siap angkat kaki dari kelas.

What on earth are you thinking about?

Tentang Kedekatan Emosional Antara Guru dan Murid

 


Sumber :
Instagram

Tak kenal maka tak sayang. Begitulah ungkapan familiar yang sudah kita kenal sejak SD. Demikian pula halnya dengan hubungan guru kelas dan murid. Awalnya mungkin ada rasa sungkan. Tetapi lama kelamaan hubungan yang terjalin akan semakin akrab dan terasa menyenangkan. 

Kedekatan emosional yang terjalin antar guru kelas dan murid-muridnya membuat sang guru paham dengan kebiasaan belajar murid-murid. Para murid pun tak takut untuk mengusulkan cara belajar yang jauh lebih efektif dan menyenangkan. Murid-murid akan lebih terbuka jika mereka merasa tak sanggup dengan tumpukan PR dan ulangan yang disiapkan sang guru di esok hari. Menghadapi pendapat murid, guru kelas pun biasanya bisa melonggarkan rencana PR dan ulangan tersebut. Maksimal 2 ulangan harian aja ya, Bu. *kerlingan manja

Jalinan kedekatan emosional yang erat rupanya jarang dirasakan oleh guru bidang studi dan murid-muridnya. Bertemu sang guru yang sekaligus jadi wali kelas saja sudah jarang, lantas bagaimana caranya agar bisa akrab. Sebenarnya kedekatan emosional antara guru bidang studi dan murid bukan hal yang mustahil. Asalkan sang guru memang bersedia meluangkan waktu dan muridnya pun tak menjauh jika didekati sang guru.

Stereotip Terhadap Guru Bidang Studi Tertentu

 

Sumber : 
Instagram

Guru matematika selalu seram dan galak. Kalau guru kimia biasanya si tua yang bikin ngantuk. Guru Bahasa Indonesia? Jelas saja dia yang selalu mengulang-ngulang pelajaran bak kaset rusak.

Stereotip seperti ini biasanya berkembang di kalangan murid SMP dan SMU yang merasa kapok dengan guru bidang studi tertentu. Padahal tentu tidak semua guru bidang studi memiliki karakter seperti itu. Sayangnya, stereotip-stereotip yang muncul secara spontan tersebut malah sering melekat pada guru yang bersangkutan. 

“Jadi wali kelas elo si Pak X, ya? Ih dia mah kalo ngajar kimia bikin ngantuk. Mending lo siapin tusuk gigi deh buat ngeganjel mata pas perwalian.”

Murid-murid SD biasanya lebih cenderung nrimo dengan guru kelasnya. Baik atau buruk, guru kelas tetaplah orangtua di sekolah yang setiap hari selalu berhadapan dengan kita. Bukan hanya karena murid SD itu usianya lebih muda. Melainkan karena mereka merasakan saat-saat senang, takut, atau takjub ketika diajar oleh sang guru kelas. Bertemu guru kelas yang sama setiap hari, namun selalu ada memori mengesankan atau pengalaman konyol yang istimewa. Sehingga yang ada di benak tak melulu kesan seram, suka marah-marah atau cara mengajar yang bikin ngantuk. Rasanya nano-nano.

 
Sejatinya bukan sistem guru kelas atau guru bidang studi yang akan menyukseskan kegiatan belajar mengajar. Hendaknya semua guru dan murid “tahu diri”. Tahu diri berarti memahami hal-hal apa yang bisa memperlancar kegiatan belajar mengajar, memahami potensi diri sendiri serta tidak menyerah begitu saja ketika mengalami kebuntuan. Hidup itu tidak mudah, begitu juga dengan belajar. Meski tak mudah, bukan berarti masalah dalam kegiatan belajar mengajar tidak ada solusinya. 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa