Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 20 Februari 2016

Iya Pak, Iya Bu, Kalimat Pamungkas Penyelamat Diri





Telling someone the truth is a loving act.
-Mal Pancoast-

Kalimat tersebut memang tidak salah. Namun ada beberapa situasi yang tentu pernah membuatmu sulit mengungkapkan kejujuran. Tak jarang kejujuran memang menyakitkan sehingga ada orang yang seakan tak bisa menerimanya. Salah satu contoh konkret yang sederhana adalah tentang sosok guru yang cara mengajarnya sulit dimengerti.


Berselisih dengan Guru Memang Tindakan yang Tidak Baik

 

 

Tidak peduli seberapa kelirunya gurumu, berselisih dengan guru tetap menjadi tindakan yang tidak baik. Kamu mungkin menang karena kamu mampu mempertahankan kebenaran pendapatmu. Tetapi berkah dan restu menuntut ilmu dari gurumu tersebut akan sirna. Hanya ada kecanggungan dan amarah yang mewarnai hubunganmu dengan gurumu.

Guru juga manusia yang punya emosi dan bisa melakukan kekeliruan. Bedanya, ada guru yang lapang dada jika diberi saran dan ada pula yang tak cukup berbesar hati untuk mengakui kesalahannya. Di sinilah kemampuanmu sebagai manusia diuji. Bagaimana caranya kamu menghadapi Bapak Ibu gurumu yang “seakan tidak pernah salah” itu.

Iya Pak, Iya Bu 

 

“Pak, itu kayaknya caranya terlalu panjang, deh. Kalo pake cara A ini hasilnya juga sama.”
“Bapak mau semuanya pake cara panjang ini aja.”
“Tapi kan ribet Pak …”
“Pokoknya pake cara ini. Kalo gak pake cara ini, nanti ulangannya pasti Bapak anggep salah.”
“… Iya, Pak.”

Merasa kesal setengah mati? Manusiawi kok.
Kamu kan juga manusia yang punya ego dan emosi. Tetapi kalimat “Iya Pak, Iya Bu” itu akan menjadi kalimat pamungkas yang ampuh bagimu. Kalimat itu menandakan kalau kamu hendak mematuhinya dan tak akan membantah lagi.

Guru tidak selalu benar. Murid pun tidak selalu salah. Dan mengalah bukan berarti kalah. Mengucapkan kalimat “Iya Pak, Iya Bu” tak lantas membuatmu jadi pecundang. Itulah bagian dari rasa hormatmu kepada bapak ibu gurumu. Nantinya jalinan hubunganmu dengan gurumu akan tetap baik tanpa kendala apa pun.

Kamu mungkin tidak bisa menerima cara mengajarnya. Tetapi tak ada salahnya kamu memaklumi hal tersebut. Toh kamu tetap bisa mencari tambahan ilmu dari sumber lain. kamu bisa memperkaya diri dengan segudang ilmu pengetahuan di luar kegiatan sekolah.

Kendati kini kamu sering kesal dengannya, cepat atau lambat kekesalan itu akan berubah jadi kenangan saat kamu sudah lulus nanti. Jangan meninggalkan kenangan buruk yang mengecewakan di benakmu maupun benak bapak ibu gurumu. Ada harapan akan kesuksesanmu yang ingin mereka lihat di masa depan.


Kamu Belum Terlambat, Kok.

 

Bila hubunganmu dan gurumu sempat memanas karena suatu hal, belum terlambat untuk minta maaf. Orang yang mau meminta maaf adalah orang yang berbesar hati. Terkadang minta maaf itu bukan karena melakukan kesalahan. Melainkan karena kamu masih ingin menjalin hubungan baik dengan orang tersebut.

Seorang guru yang baik pasti akan memaafkan kesalahan muridnya bahkan sebelum murid tersebut minta maaf. Hal tersebut memang sudah menjadi naluri mulia seorang guru. Dan akan lebih mulia lagi jika bapak ibu guru terbuka dengan pendapat yang disampaikan murid. Bukan kekurangajaran yang membuat murid berani mengemukakan pendapatnya, melainkan keinginan untuk maju menjadi lebih baik diiringi restu sang guru.










2 komentar:

  1. yup, gutu itu selalu pemaaf ,kalau muridnya abndelpun diusahakan agar tetap naik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak, guru biasanya berbesar hati ya :)

      Hapus

 
Copyright©Melisa