Memoar, Opini, Kata Hati

Minggu, 20 November 2016

Semakin Tua, Semakin Keras Kepala, Benarkah Demikian Adanya?





Beberapa hari lalu, kerabat saya yang bekerja sebagai staf Tata Usaha (TU) di sebuah sekolah swasta mengirim pesan singkat via Whatsapp. Rupanya beliau sedang ditugaskan memeriksa soal-soal UAS yang nanti akan dikerjakan murid SD.

“Mel, mana yang bener, ya?
My brothers like to skateboard.
My brothers like to play skateboard.

Setelah membaca pesan tersebut, saya pun bergegas membalasnya sesegera mungkin.
My brother like to play skateboard, Mbak.
Sesudah to harus ada kata kerja.
Sopo sing nggawe soal sih, Mbak?”


Kerabat saya pun menyebutkan nama sang guru yang membuat soal Bahasa Inggris tersebut. Sebuah nama yang tidak asing bagi saya. Tentu saja tidak asing. Karena enam belas tahun yang lalu saya adalah murid dari guru tersebut untuk mata pelajaran yang sama.  Membaca jawaban tersebut kemudian membuat pikiran saya mulai melayang-layang. Ya, melayang dengan sangat liarnya. Seingat saya, belasan tahun yang lalu beliau termasuk guru yang cermat dan disiplin saat mengajar di kelas. Benarkah kini beliau bisa membuat kesalahan fatal pada soal sesederhana itu?

Malu lo kalau soal yang keliru itu dibaca oleh orang tua murid atau orang lain yang paham. Masa jadi guru Bahasa Inggris gak bisa menggunakan kata to dengan benar. What on earth are you thinking about?

Pikiran saya masih terus berkelana setelah percakapan singkat di WhatsApp tersebut. Menurut kerabat saya, sang guru tetap bersikukuh dengan “my brothers like to skateboard.

 Skateboard kan kata benda, Bu. Artinya papan luncur. Kalo penggunaan kata to kan harus diikuti kata kerja.”
“Tapi di bukunya emang gitu kok.”

Singkat cerita, kerabat saya memutuskan untuk menambahkan kata to play tanpa sepengetahuan si guru Bahasa Inggris. Ya iyalah, daripada nanti malu-maluin mending soal itu langsung diperbaiki.

Yang Muda Tidak Selalu Ingin Berkuasa atau Menggurui

 

Kerabat saya yang satu itu memang masih muda. Putra-putrinya masih SD. Dilihat dari perawakannya, dia masih pantas lo jadi anak kuliahan. Namun untuk urusan kompetensi dan ketelitian kerja, beliau tidak kalah dengan staf atau guru yang jauh lebih senior. Apa mungkin ya guru Bahasa Inggris saya malu karena mendapat kritik dari staf TU yang masih muda? 

Pekerja senior kerap menganggap rekan kerja yang lebih muda sebagai ancaman. Atau setidaknya sebagai anak ingusan yang tidak pantas memberikan saran atau kritik. Padahal tidak semua rekan kerja yang muda selalu ingin berkuasa atau menggurui. Bahu membahu demi mencapai kepentingan bersama itu sangat penting. Apalagi koreksi soal UAS ini menyangkut kepentingan murid-murid. Jangan sampai murid jadi bingung atau salah menjawab ketika dihadapkan pada soal yang keliru.

Sumber :
Fanpage Meme Comic Indonesia 


Guru merupakan profesi mulia yang bertanggung jawab membimbing dan mendukung proses belajar murid-murid di sekolah. Jadi, sudah sepatutnya guru juga senantiasa bertekad menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Salah satunya dengan cara berbesar hati terhadap saran dan kritik dari orang lain. Orang yang lebih muda bukan berarti lebih awam dari kita. Sebab setiap orang punya pengalaman dan pemahaman ilmu yang beragam. Selalu ada pembelajaran berharga yang bisa kita dapatkan bila kita terbuka menerima saran dan kritik.

Mungkin Fenomena Ini yang Bikin Perusahaan Lebih Suka Pekerja Muda

 

Tampaknya sudah jadi suatu kodrat hidup bahwa semakin bertambahnya usia, maka seseorang akan semakin keras kepala. Saya, kamu, dia, atau siapa pun yang membaca tulisan ini. Seiring dengan bertambahnya usia, maka diri sendiri merasa sudah punya banyak pengalaman dan ilmu selama menjalani kehidupan.

Di atas langit masih ada langit.

Selalu ada orang lain yang lebih hebat, lebih bijaksana, lebih berpengalaman, dan (mungkin) lebih muda daripada kita. Karena usia tidak dapat menjadi patokan kebijaksanaan dan kemampuan seseorang. Mungkin ini nih sebabnya mengapa sebagian besar perusahaan maupun lembaga non profit memprioritaskan rekrutmen pekerja yang masih muda.


Kenapa?
Karena pekerja yang masih muda bukan hanya siap mempelajari banyak hal baru, melainkan juga belum keras kepala. Mayoritas pekerja muda cenderung lebih mudah “dibentuk” dan diarahkan sesuai tujuan perusahaan. Lain halnya dengan pekerja senior yang cenderung bertahan dengan cara kerjanya sendiri yang dianggap paling tepat. Justru para pekerja senior sering lupa bahwa zaman terus berkembang. Selalu ada informasi baru yang bisa didapatkan semudah menjentikkan jari tangan. Jika tidak mau memantaskan diri dengan perkembangan zaman dan orang-orang di sekitar, kemungkinan besar pekerja senior akan jadi sosok kolot yang menyebalkan.

Sifat keras kepala itu penting ketika kita mempertahankan kebenaran. Namun sifat tersebut harus disingkirkan jauh-jauh jika kita sedang melakukan kekeliruan. Orang yang terbuka menerima saran dan kritik dari orang lain sejatinya bukanlah orang yang memalukan.



Sumber :
Fanpage Meme Comic Indonesia 


Tulisan ini saya akhiri sembari tersenyum di depan laptop. Karena tiba-tiba saya mengingat sebuah ucapan ulang tahun yang sangat unik di wall teman Facebook saya. Biasanya orang akan menyampaikan harapan-harapan manis kepada orang yang berulang tahun. Semoga panjang umur, sehat, sukses, bahagia, banyak rezeki, dan semoga-semoga yang lainnya. Berbeda dengan yang lainnya, ucapan ulang tahun yang nyeleneh itu malah punya kesan amat mendalam saat direnungkan. Dan maknanya tentu berkaitan erat dengan tulisan saya kali ini.

“Selamat ulang tahun.
Jangan jadi tua menyebalkan.”













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa