Memoar, Opini, Kata Hati

Rabu, 18 Januari 2017

Ketika Rasa Bersalah Melintas di Benak dan Hati Kita





Selama menjalani hidup, selama jadi manusia, kita pasti pernah merasa bersalah kepada seseorang atau terhadap sesuatu. Sama seperti bentuk perasaan lainnya, rasa bersalah merupakan salah satu bentuk emosi yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Setiap orang memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda. Sehingga rasa bersalah pun akan timbul karena penyebab yang berbeda-beda.

Menurut Erik Erikson, murid Sigmund Freud, rasa bersalah kemungkinan besar timbul sejak seseorang berusia 3 hingga 5 tahun. Bentuk emosi yang satu ini juga erat kaitannya dengan kondisi kecemasan. Sehingga orang yang merasa bersalah tentu juga mengalami kecemasan dengan kadar yang bervariasi. Mulai dari kecemasan ringan sampai kecemasan berat yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan jiwa.


Berdasarkan latar belakang mengenai rasa bersalah, setidaknya ada 5 bentuk rasa bersalah yang dialami manusia. Adapun bentuk-bentuk rasa bersalah tersebut adalah sebagai berikut :


Rasa Bersalah Karena Sesuatu yang Sudah Dilakukan

 

Jenis rasa bersalah yang satu ini terjadi ketika kita melakukan sesuatu yang keliru. Hal ini sebenarnya wajar. Sebab manusia memiliki perasaan yang peka untuk membedakan hal baik dan hal buruk. Kalau seseorang tidak pernah merasa bersalah terhadap sesuatu yang sudah dilakukannya, hal ini malah menunjukkan tanda-tanda berbahaya. Sebab biasanya perasaan tidak bersalah adalah ciri-ciri orang yang mengalami gangguan jiwa, misalnya psikopat.

Kekeliruan yang dilakukan pun bisa bermacam-macam, mulai dari salah mengerjakan sesuatu, menyinggung orang lain dengan perkataan, atau kesalahan lainnya. Walaupun perasaan bersalah seperti ini merupakan hal wajar, tetap saja kita tidak boleh larut terlalu lama dalam perasaan bersalah tersebut. Alangkah lebih baik jika kita bangkit, meminta maaf atau lekas memperbaiki kesalahan yang sudah kita lakukan.

 


Rasa Bersalah Karena Tidak Melakukan Sesuatu yang Diinginkan


“Penyesalan memang datang terlambat.”

Begitu deh kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan rasa bersalah ini. Terkadang kita memang dibayangi rasa bersalah karena tidak melakukan sesuatu yang kita inginkan. Jika akhirnya hal yang tidak kita lakukan itu malah merugikan diri kita, jadikan saja hal tersebut sebagai suatu pembelajaran. Lain kali kita pasti lebih cermat menimbang untung dan rugi dari setiap keputusan kita. Sehingga kita bisa mengambil keputusan yang paling tepat dan minim risiko di kemudian hari.

 


Rasa Bersalah Karena Kita Pikir Kita Sudah Melakukan Sesuatu


Dalam hidup ini, sering kali kita mengalami kesalahpahaman dengan orang lain. Barangkali kita pikir kita sudah melakukan sesuatu yang keliru. Hingga hal ini menimbulkan perasaan bersalah yang menyiksa diri kita sendiri.

Sewaktu menghadapi rasa bersalah yang satu ini, kita harus lebih cermat melihat fakta yang terjadi di sekitar kita. Benarkah kita sudah melakukan hal yang keliru?
Atau jangan-jangan kesalahan itu hanya berasal dari pemikiran kita saja?

Supaya rasa bersalah tidak membebani kita, alangkah lebih baik jika kita berbagi keluh kesah dengan orang yang kita percayai. Niscaya orang-orang yang kita cintai mampu memberikan sara yang menyejukkan hati dan bermanfaat bagi penyelesaian masalah kita.

Rasa Bersalah Karena Tidak Dapat Membantu Orang Lain


Penyesalan seperti ini muncul karena ada rasa sayang dan peduli terhadap orang lain. Kita pasti pernah merasa kecewa terhadap diri sendiri ketika tidak bisa mengusahakan yang terbaik untuk orang yang kita cintai. Hal ini kemudian memicu munculnya rasa bersalah. Padahal mungkin saja kita sudah mengusahakan yang terbaik demi membantu orang lain.

Kita wajib hati-hati. Sebab rasa bersalah yang berlarut-larut bisa merugikan diri kita sendiri. Sebaiknya kita menanamkan keyakinan pada diri sendiri. Bahwa rasa nyaman kita pun tidak kalah penting dibandingkan keinginan untuk membantu orang lain.

Rasa Bersalah Karena Kita Lebih Baik atau Lebih Beruntung dari Orang Lain


Fenomena rasa bersalah ini sering dialami oleh korban selamat yang seluruh anggota keluarganya meninggal dalam bencana alam. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa perasaan tertekan akibat “keberuntungan” tersebut justru terasa menyiksa.

Hal serupa juga kerap terjadi dalam hubungan antara saudara kandung. Anak yang lebih pintar, lebih baik, atau lebih rajin sering kali jadi pencetus iri hati bagi saudara-saudara kandungnya. Hingga akhirnya timbul perasaan “kalau saja saya tidak sebaik ini, mungkin saya akan lebih disayangi”.



Memendam rasa bersalah memang tidak memperbaiki keadaan. Itulah sebabnya aku selalu berusaha menenangkan hati dulu jika merasa ada yang tidak beres di antara kita. Aku adalah seorang keras kepala yang tidak mudah mengucapkan kata maaf. Namun ketika aku mengucapkannya, yakinlah bahwa itu benar-benar dari relung hatiku yang terdalam.

Aku tak akan ragu meminta maaf. Karena sudah jadi “payung” sekaligus “hujan” dalam kehidupanmu. Anganku tentu ingin selalu jadi payungmu. Yang menaungimu dari kesedihan dan rasa gelisah. Tetapi apa daya. Aku harus ingat kalau aku manusia biasa yang sewaktu-waktu bisa menjadi “hujan”. Mulai sekarang aku berjanji kepadamu. Bahwa aku akan menjadi orang yang lebih hebat lagi. Tentang “hujan” itu, tak akan kubiarkan dia membebani perasaanmu. Payung yang kuat itu akan terus mendampingimu ke mana pun kamu melangkah.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa