Memoar, Opini, Kata Hati

Selasa, 24 Januari 2017

Mbah Darmodihardjo dan Rindangnya Pepohonan di Sendangsono





Pada tanggal 18 Desember 2016 yang lalu, saya bersama keempat sahabat saya melakukan perjalanan ziarah ke Sendangsono, Yogyakarta. Kami tiba di tempat ziarah tersebut kurang lebih pada pukul setengah satu siang. 

Setelah melewati toilet umum dan undak-undakan, mata kami berlima tertegun pada sosok seorang perempuan tua di bawah pepohonan rindang. Usianya kira-kira lebih dari 65 tahun. Perempuan itu duduk santai sambil menjajakan barang dagangannya. “Si Mbah”, begitu kira-kira kami menyebutnya sebelum kami menghampiri dan berkenalan dengannya.

Ada beberapa jenis penganan tradisional yang dijajakan si Mbah, yaitu dodol, ladu, dan ampyang, gula aren, dan lainnya. Sebungkus gula aren terdiri dari empat kepingan berukuran besar, lebarnya kurang lebih 15 cm. Kami berlima memutuskan untuk menuntaskan ziarah kami sebelum kembali ke tempat itu dan membeli dagangan si Mbah.

Usai berziarah, kami kembali menghampiri si Mbah dan dagangannya. Perempuan tua itu tersenyum seraya menyapa kami. Beberapa di antara kami pun membeli kue tradisional dan gula aren buatan si Mbah.

Saat diminta memperkenalkan dirinya, barulah kami mengetahui bahwa si Mbah bernama Darmodihardjo. Perempuan tangguh tersebut sudah lama berjualan di kawasan Sendangsono. Sebagai kenang-kenangan, kami pun mengajak si Mbah berfoto bersama sebelum kami berpamitan. Sayangnya, kami tidak sempat menanyakan tentang tempat tinggal dan usia si Mbah yang sebenarnya.

Suasana di Tempat Si Mbah Berjualan Setiap Hari

Ferdiana Berfoto Bersama Si Mbah Sebelum Berpamitan

Bersyukur dan berbagi merupakan hal paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih baik lagi. Tak ada salahnya bila kita berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Sebab Dia tidak akan membiarkan umat-Nya yang murah hati jadi kekurangan karena berbagi. 

Mari menyempatkan diri untuk menyapa dan membeli dagangan Mbah Dar ketika berkunjung ke Sendangsono. Jangan lupa pula meneladani semangat juang si Mbah yang tak kenal letih meski usianya tak lagi muda.. Rasakan betapa hebatnya sensasi bahagia karena bisa berbagi dan tersenyum bersama.

Silakan sebarkan info singkat ini secara sukarela. Agar semakin banyak cinta kasih yang menyebar setelah netizen membaca tulisan sederhana ini.


Dokumentasi dan Narasi : Ferdiana dan Melisa










 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa