Memoar, Opini, Kata Hati

Selasa, 27 Juni 2017

9 Etika Penggunaan WhatsApp Ini Tidak Tertulis Tetapi Amat Penting




Karena kita bukan manusia gua.
Ya, bukan manusia gua yang berasal dari peradaban kuno.

Jadi, kita harus menggunakan teknologi secara bijak. Agar teknologi tersebut benar-benar bermanfaat bagi kehidupan kita. Bukan malah mengganggu kelancaran aktivitas atau bahkan merusak hubungan kita dengan orang-orang terdekat.

Hampir semua pengguna smartphone menggunakan aplikasi WhatsApp. Pada pertengahan tahun 2015, WhatsApp tercatat memiliki 800 juta pengguna aktif bulanan. Kemungkinan besar jumlah ini terus bertambah seiring dengan peningkatan jumlah pengguna smartphone.

Banyak orang yang asyik menggunakan WhatsApp setiap hari. Berkirim pesan, mengobrol di grup, berbagi foto dan video, atau sekadar update status dan mengganti display picture. Sayangnya, masih banyak yang tak paham dengan etika penggunaan WhatsApp tersebut. Etika berikut ini memang tidak tertulis. Tak ada satu pun orang atau lembaga yang pernah memberikan edukasinya. Namun akan lebih baik bila kita memahami 9 hal ini mulai sekarang :

WhatsApp bisa digunakan selama 24 jam penuh. Tetapi bukan berarti kita jadi tak tahu tata krama saat menghubungi orang.

Kita bebas menggunakan WhatsApp selama 24 jam penuh, kapan pun kita mau. Tetapi bukan berarti kita bebas menghubungi semua orang semau kita. Ingatlah bahwa ada batasan-batasan waktu yang harus kita pahami. Misalnya, tidak menghubungi atasan, guru, dosen, atau orang yang lebih tua di atas jam 8 malam atau sebelum jam 8 pagi. Malam hari adalah waktu beristirahat. Lain urusan jika kita menghubungi orang-orang yang akrab dengan kita dan memang sering chat sepanjang hari melalui WhatsApp. 

Jangan jadi PHP atau drama queen, kita bisa mematikan fitur read di WhatsApp.


 


Orang yang pelupa sering kali membuka pesan di WhatsApp kemudian lalai membalasnya. Sementara orang yang sering jadi drama queen pasti jadi baper sewaktu pesannya tak kunjung dibalas. Demi menghindari konflik ini, kita bisa mematikan fitur read di WhatsApp. Itulah, dua centang berwarna biru yang muncul saat pesan kita sudah dibaca orang lain.

Cara mengaturnya sangat praktis. Masuklah ke bagian setting, account, privacy, dan hilangkan centang pada bagian read receipt. Karena kita memutuskan untuk tidak memperlihatkan centang biru kepada pengguna WhatsApp yang lain, maka kita pun akan menerima hal yang sama. Kita tak lagi bisa mengetahui apakah orang lain sudah membaca pesan kita atau belum. Ini adil, kan?

Gak usah sok mainan gambar, foto, atau video kalau ternyata masih fakir kuota.

WhatsApp itu aplikasi yang pintar kok. Kita tak perlu berdalih bahwa WhatsApp tersebut sembarangan menyedot kuota internet kita. Karena gambar, video, dan file lainnya tak akan diunduh secara otomatis bila kita telah menentukan setting yang tepat.

Coba masuk ke bagian setting lalu data usage. Pada bagian tersebut, ada pengaturan unduh file ketika menggunakan mobile data dan wifi. Kita bebas mengaturnya sesuai kebutuhan. Saat menggunakan wifi, kita tentu lebih leluasa mengunduh file foto, audio, video, atau dokumen lainnya tanpa khawatir kehabisan kuota. Sebaliknya, alangkah lebih baik bila kita membatasi unduhan secara otomatis saat menggunakan mobile data.

Jangan sampai kita kesulitan berkirim pesan penting via WhatsApp cuma karena kuota habis. 

Fitur Call WhatsApp bukan satu-satunya, masih ada telepon biasa.

Fitur call di WhatsApp memang memudahkan kita untuk menelepon dengan mengandalkan kuota internet. Tetapi fitur yang satu ini tak selalu bisa menyajikan kualitas suara yang baik. Malah tak jarang suaranya putus-putus dan sangat tak jelas. Jangan terus-terusan mengandalkan fitur call sampai aktivitas kita jadi terhambat. Gunakan pulsa untuk menelepon secara biasa. Jangan bikin malu diri sendiri atau mengulur waktu karena kualitas internet yang buruk sewaktu menggunakan fitur call.

Jangan ringan tangan memblokir orang di WhatsApp. Bukan cuma kita yang punya perasaan, orang lain juga punya.



Manusiawi kok kalau kita pernah merasa sangat jengkel pada orang lain. Apalagi bila rasa dongkol tersebut berawal dari percakapan di WhatsApp. Celakanya, orang tersebut selalu menghubungi kita via WhatsApp setiap hari. Keputusan untuk memblokir kontak WhatsApp orang lain pun sering jadi jalan pintas.

Begini, ya. Ada satu hal yang harus kita pahami soal keputusan memblokir kontak WhatsApp orang lain. Bahwa orang lain juga punya perasaan, sama seperti kita. Apalagi kalau orang yang kita blokir ternyata adalah orang-orang terdekat yang menyayangi kita.
Coba bayangkan bagaimana perasaan kita seandainya WhatsApp kita yang diblokir orang tersebut! Ayo bayangkan!

Semua perilaku yang sudah terjadi tak akan bisa ditarik kembali, termasuk urusan blokir kontak di WhatsApp. Bukan mustahil lo orang yang kita blokir punya ingatan sangat kuat. Memaafkan itu mudah, tetapi tidak demikian halnya dengan melupakan.

Berusahalah menjadi orang terakhir yang membalas chat WhatsApp.

Peraturan tak tertulis yang satu ini menyangkut norma kesopanan. Kita akan mencerminkan pribadi yang sopan jika kita senantiasa berusaha menjadi orang terakhir yang membalas chat. Jadi, sudahi chat dengan ucapan terima kasih dan pamit. Selain itu, kita juga bisa menggunakan aneka emoticon bernuansa manis dan sopan sebagai penutup percakapan yang sempurna.

Tak perlu ragu menggunakan fitur mute kalau notifikasi grup terasa mengganggu. 

Mengapa harus mute? Mengapa tidak leave group saja?
Leave group adalah sesuatu yang terasa kurang sopan, terutama kalau kita berhubungan erat dengan grup tersebut. Misalnya saja grup WhatsApp keluarga, grup WhatsApp berisi rekan kerja atau atasan, dan grup yang isinya sahabat-sahabat kita. Ada kalanya kita merasa terabaikan atau tak dapat menanggapi topik obrolan yang sedang dibahas. Puluhan atau ratusan notifikasi pun terus membanjiri smartphone kita.

Merasa risih itu wajar. Tetapi tak etis rasanya bila kita sampai leave hanya karena tak betah. Solusi bijaknya, gunakan fitur mute untuk mematikan notifikasi. Pilihannya beragam, bisa 8 jam, seminggu, atau setahun sesuai kebutuhan. Kita juga bisa memilih, notifikasi grup tetap muncul saat kita membuka WhatsApp atau tidak. 

Luangkan waktu memeriksa notifikasi WhatsApp minimal 3 jam sekali.

Ada orang-orang yang sangat mengandalkan WhatsApp saat bekerja atau berkomunikasi dengan orang-orang terdekat. Namun ada pula yang tidak sering menggunakannya dan lebih memilih cara lain. Kalau kita termasuk orang yang sering menggunakan WhatsApp, sebaiknya kita mengecek notifikasi WhatsApp setiap 2-3 jam sekali. Supaya tak ada informasi penting yang terlewatkan hanya karena kita tidak mengamati notifikasi WhatsApp.

Sementara bagi orang-orang yang tidak terlalu sering menggunakan WhatsApp, intensitas pengecekan notifikasinya bisa dikurangi. Mungkin sekitar 3-4 kali sehari.

Tidak membalas pesan personal tetapi asyik berceloteh di grup, yay or nay?




Suatu ketika mungkin kita sedang sebal setengah mati dengan orang yang ada di kontak WhatsApp kita. Sampai-sampai kita memutuskan untuk tak membalas pesan terakhir darinya. Kita mengabaikan pesan tersebut berjam-jam atau berhari-hari, tetapi kita malah asyik berceloteh di grup WhatsApp. Sebuah grup yang salah satu anggotanya adalah orang yang tidak kita acuhkan pesan terakhirnya.
Lantas bagaimana kira-kira perasaan orang tersebut?

Marah? Kesal? Jengkel? Sedih? Kecewa? Ingin menangis? Ingin mengamuk? Ingin berteriak sambil membanting barang-barang?

Hendaknya kita menjadi orang yang semakin bijaksana dari hari ke hari. Jangan melakukan sesuatu yang membuat orang lain tak nyaman. Bila kita juga akan merasa tak nyaman ketika berada di posisi tersebut. Kita bisa mengakhiri percakapan di WhatsApp secara baik-baik. Kemudian kita pun bebas berceloteh di grup tanpa menyinggung perasaan siapa pun.
 

Menjaga perasaan orang-orang terdekat itu susah. Walaupun kita sudah berusaha jadi pengguna WhatsApp yang baik, pasti kita tetap punya kekurangan yang menyebalkan bagi orang lain. Lakukan saja semampu kita dan jangan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain.

Because less expectation, less hurt.






Senin, 26 Juni 2017

Domba, Anjing Gembala, dan Serigala



 

The sheeps go through life refusing to see evil.
The wolves are the evil preying on the sheeps.

But the sheepdogs?
They protect the sheeps.
They fight the evil.

So, don’t let the sheepdogs fighting each other.
Because it will make wolves strike while the iron is hot.

 
Kawanan domba itu beruntung memiliki dua ekor anjing gembala yang bertanggung jawab dan senantiasa siaga. Risiko diterkam oleh serigala lapar pun jadi berkurang. Domba-domba lemah yang dagingnya empuk itu selalu berlindung di balik penjagaan sang anjing gembala. Mereka adalah gerombolan naif yang terus bermimpi tak pernah bertemu serigala di sepanjang perjalanan.

Sementara sang serigala lapar justru telah mengincar kawanan domba lemah tersebut. Berharap ada kesempatan ketika dua ekor anjing gembala lengah dan mulai melemah. Pada saat itulah serigala berencana mengacak-acak gerombolan domba dan membuat keadaan menjadi kacau. Maka akan kenyanglah perut serigala serta puaslah hatinya.

Tetapi apa daya. Dua ekor anjing gembala itu juga makhluk hidup biasa. Mereka punya keterbatasan dalam menjalankan tugas yang diamanahkan kepada mereka. Ada kalanya mereka merasa lelah dan ingin mundur saja. Bahkan sesekali mereka pun saling berselisih satu sama lain. Mereka berhenti di tengah jalan, saling menunjukkan kegelisahan, dan perang dingin pun dimulai. Kalau sudah begini, tentu saja yang paling diuntungkan adalah si serigala. Karena dua anjing gembala sedang tak akur dan tidak memperhatikan gerombolan dombanya dengan cermat.


Wahai anjing-anjing serigala, perjalanan panjang itu memang tak selalu mulus dan menyenangkan. Banyak aral yang menghambat perjalananmu dan kawanan dombamu. Namun kalian berdua pasti tahu, bahwa kekompakan dan saling percaya adalah kuncinya. Supaya tak ada situasi lengah yang membuat kalian berselisih terlalu lama hingga akhirnya menguntungkan serigala. Perselisihan itu wajar. Tetapi selalu kukatakan, janganlah melakukan perang dingin terlalu lama. Ah, sudahlah. Mengapa aku jadi nyinyir begini.



Kalian pasti sudah tahu solusinya.
Sebab kalian selalu begitu sejak dulu. Saling memahami, melengkapi, menguatkan. 












Rabu, 21 Juni 2017

Mengenal Alter Ego : Karena Dia Adalah Kita





Semua orang berpotensi memiliki alter ego.

Yes, tak ada satu pun manusia yang dilahirkan sempurna. Sebaik apa pun kita mencoba, pasti kita memiliki masalah dan ketidaknyamanan yang sulit dituntaskan. Kalau kita kesulitan menceritakannya kepada orang lain, maka tak ada jalan lain. Kita harus berusaha membuat diri sendiri merasa nyaman dan aman. Karena life must go on, dengan atau tanpa bantuan dan perhatian orang lain.

Apa Itu Alter Ego?



Alter ego sering didefinisikan sebagai “aku yang kedua”. Sosok kedua yang ada dalam diri kita, yang sesekali muncul pada saat-saat tertentu. Ternyata tak banyak orang yang sadar bahwa dirinya punya alter ego. Padahal kemunculan alter ego tersebut justru sudah dideteksi oleh orang-orang di sekitarnya.

Sebenarnya alter ego adalah cerminan karakter pribadi yang tidak bisa selalu kita tampilkan ketika menjalani hidup. Kita pasti menemukan banyak hal selama beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain. Tetapi hal-hal tersebut tak selalu membuat kita bebas mengekspresikan diri. Ada orang yang butuh teman diskusi, pelindung, sosok pemberani dalam dirinya, atau pemakluman terhadap kegagalan yang ia alami. 


Mengapa Banyak Orang yang Tak Sadar dengan Alter Egonya?

Nyatanya, belum banyak orang yang tertarik mempelajari tentang alter ego. Padahal alter ego bukanlah suatu masalah psikologis berat yang hanya dialami pengidap gangguan jiwa. Kemunculan alter ego pada setiap orang berbeda-beda, misalnya :

Si A : butuh teman curhat dan diskusi hingga akhirnya menciptakan percakapan di otaknya.
Si B : butuh sosok ceria untuk menutupi sifatnya yang pemalu dan introvert.
Si C : butuh sosok tegas karena dirinya dikenal senantiasa lembut, sabar, dan cinta damai.
Si C : butuh jiwa penyemangat dalam menghadapi setiap tantangan dalam hidupnya.

Hal inilah yang menyebabkan pemahaman tentang alter ego menjadi sangat luas. Ada orang yang merasa agak terganggu dengan alter egonya. Ada pula yang bahkan sama sekali tidak menyadari kalau alter egonya kerap muncul dan mulai dikenali orang lain. Bila seseorang mengetahui bahwa dirinya memiliki alter ego, berarti orang tersebut mengenal dirinya sendiri dengan cukup baik. 


Alter Ego Bukanlah Kepribadian Ganda

Kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID) masih sering disamakan dengan alter ego. Faktanya, alter ego berbeda dengan kepribadian ganda. Seseorang yang mengidap DID biasanya memiliki 2 kepribadian atau lebih, sementara alter ego hanya terdiri dari 2 kepribadian. Bahkan ada pengidap DID yang bisa memiliki lebih dari 20 kepribadian.

Perpindahan kepribadian pada pengidap DID berlangsung tanpa sadar dan tak dapat dikendalikan. Karakternya pun sangat beragam, mulai dari lawan jenis, anak kecil, lansia, hingga sosok yang berasal dari masa lampau. Ketidaksadaran yang terjadi pada pengidap DID membuatnya sulit mengendalikan diri sendiri maupun kepribadian lain yang ada dalam dirinya.

Sementara alter ego justru muncul ketika seseorang memiliki kesadaran penuh. Karena alter ego masih merupakan kesatuan dengan diri sendiri, meskipun karakternya berbeda dengan karakter asli orang tersebut. Contohnya, kita mengenal seseorang yang karakternya sangat baik. Dia lembut, sabar, penyayang, dan selalu mengutamakan kepentingan orang lain. Suatu ketika kita dibuat kaget olehnya ketika dia marah besar. Tatapan mata dan tingkah lakunya benar-benar berbeda 180 derajat dengan dia yang selama ini kita kenal. Kita seperti berhadapan dengan orang lain yang tidak kita kenal. Namun fisiknya tak asing bagi kita.

Nah, kemungkinan besar alter ego orang tersebut sedang muncul. Karena alter ego seseorang memang cenderung muncul ketika dirinya merasa terusik, tak nyaman, atau marah. Semua orang berpeluang memunculkan alter ego pada saat-saat tak terduga. That’s the power of universe

Barangkali alter ego dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi diri sendiri.

Cara Menyikapi Alter Ego pada Diri Sendiri

Kita tak perlu panik jika menyadari bahwa diri kita sepertinya punya alter ego. Hal yang mesti kita lakukan adalah berusaha menjaga kestabilan karakter setiap saat. Sabar dan konsisten memang bukan hal yang mudah. Cuma orang hebat yang mampu melakukannya. Dan kita semua berpeluang menjadi salah satu orang hebat tersebut. Jangan menyerah dengan himpitan keadaan. Jangan sampai kita “jatuh tersungkur” karena pengaruh orang lain.

Bila alter ego negatif muncul begitu saja saat kita terdesak, berusahalah menenangkan diri sesegera mungkin. Kondisi kesehatan yang prima dan waktu tidur yang cukup tentu membuat kita merasa lebih fit. Sehingga kita bisa berpikir secara jernih sewaktu menghadapi masalah atau hendak mengambil keputusan. Tak perlu buru-buru bereaksi saat menghadapi sesuatu. Berikan waktu kepada diri sendiri untuk mencerna hal-hal yang ada di sekitar kita sebelum mengeluarkan tanggapan yang tepat.

Jangan lupa meminta maaf kepada orang-orang yang merasa tersinggung, terluka, atau dirugikan saat diri kita menampilkan “sisi yang lain”. Meminta maaf dan memperbaiki diri menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang bertanggung jawab dan peduli terhadap orang-orang yang kita sayangi.

Tentang Alter Ego pada Diri Orang Lain

Semakin kita mengenal orang-orang terdekat, maka semakin mudah pula bagi kita untuk merasakan kemunculan alter egonya. Hal ini bisa terjadi karena intensitas kebersamaan yang tinggi atau kedekatan hati yang sangat erat. Jika baru satu dua kali menghadapinya, kita pasti sangat terkejut. Namun kita pasti lebih terbiasa kalau pengalaman tersebut sudah terjadi beberapa kali.

Kuncinya hanya satu, maklum. Pahami bahwa semua orang pasti memiliki kekurangan. Kemunculan alter ego negatif tentu bukanlah sesuatu yang dikehendaki. Yakinlah kalau nanti orang-orang yang kita cintai akan kembali dengan karakter pribadinya masing-masing. Ada orang yang butuh teman curhat untuk meminimalkan pengaruh alter egonya. Namun tak sedikit pula yang justru butuh waktu khusus untuk menyendiri dan merenung.


Jangan pernah lelah berusaha memahami diri sendiri maupun orang-orang yang kita cintai.
Yakinlah bahwa pertanyaan “are you OK?” rupanya teramat sangat berarti dan dapat membuat perasaan orang yang kita cintai jadi lebih tenang.

I’m not a therapist. I also have alter ego.
I have a personality I can’t handle. Maybe it ever shocked you or make you feel disappointed.
But I want you to know it :
I will listen, I will care.


 
Referensi :
https://hellosehat.com/memiliki-alter-ego-normal-atau-tidak/








 



 
Copyright©Melisa