Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 01 Juli 2017

Kalian Itu Bagaikan Duduk di Kedua Ujung Bangku Panjang




Hari ini aku pergi ke Pasar Lama Tangerang. Banyak sekali jajanan yang bisa dinikmati di sana. Cuaca terik siang hari tak menghalangi para pengunjung yang ingin berwisata kuliner. Karena sudah kenyang, aku pun hanya menghilangkan dahaga dengan seporsi es podeng yang rasanya gurih.
Aku duduk di sebuah bangku panjang.

Sudah tahu apa bedanya bangku dan kursi?

Ini bedanya menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia :

kur.si (1)
n tempat duduk yang berkaki dan bersandaran
n ki kedudukan, jabatan
kur.si (2)
n Isl. ilmu atau kekuasaan Allah SWT

bang.ku
n papan dan sebagainya (biasanya panjang) berkaki untuk tempat duduk. 

Berdasarkan arti harfiah tersebut, kini kita tahu bahwa yang biasanya disajikan oleh pedagang kaki lima itu bangku. Sebuah bangku panjang yang bisa diduduki oleh beberapa orang. Bukan kursi. 

Aku duduk di bagian tengah bangku itu bersama dua orang lainnya. Di ujung bangku sebelah kiri, ada seorang ibu yang sedang menikmati es podeng juga. Di sampingnya ada tumpukan durian milik pedagang kaki lima lain. Tumpukan durian itu menjulang tinggi. Jaraknya hanya beberapa centimeter saja dari si ibu yang asyik menjilati sendok es podengnya. Sementara di sebelah kananku, ada wanita muda yang asyik dengan semangkuk bakso. Kuah baksonya merah sekali. Asapnya pun mengepul ke udara. Menyebarkan aroma daging sapi segar yang khas.

Selesai menyantap es podeng, aku berdiri dan meninggalkan bangku panjang itu. Setelah beranjak pergi, aku menoleh ke belakang. Kutengok lagi kedua wanita yang duduk di bangku panjang itu. Jika salah satu dari mereka bangun duluan, yang lainnya pasti akan segera jatuh. Sebab masing-masing dari mereka duduk di ujung bangku. Bagian yang sudah berada di luar batas topangan kaki bangku.

Semesta rupanya selalu memberi peringatan dengan gayanya sendiri.

Bila si ibu yang makan es podeng bangun lebih dulu, wanita yang lebih muda akan jatuh. Mungkin kuah baksonya akan tumpah ke sekujur tubuh. Bisa jadi mangkuk baksonya terlempar dan pecah. Sakitnya tak seberapa, tetapi beban malunya pasti sangat besar. Sedangkan bila wanita yang makan bakso itu yang selesai duluan, si ibu yang makan es podeng bisa jatuh menimpa tumpukan durian di sisi kiri tubuhnya. Nah, yang satu ini rasa sakit dan malunya sama-sama besar.

Aku berbalik badan, meninggalkan pemandangan unik di tengah hiruk pikuk tempat tersebut. Ingatanku lantas kembali memutar memori tentang kalian berdua. Karena kalian berdua seperti duduk di kedua ujung bangku panjang. Berusaha saling percaya dan menjaga keseimbangan satu sama lain. Sembari tak lupa sibuk menyelesaikan segala kewajiban kalian.


Bilamana salah seorang dari kalian bangun sendirian, maka seorang lainnya yang masih duduk pasti akan jatuh terjengkang. Merasa sakit, merasa kepercayaannya dikhianati, merasa bahwa tugas-tugas ini terlalu berat untuk dituntaskan sendirian.

Perjalanan ini memposisikan kalian dalam keadaan duduk di kedua ujung bangku panjang.

Alangkah lebih baik jikalau kalian mampu menyeimbangkan posisi setiap saat. Bila ingin berdiri, yakinlah untuk langsung berdiri berdua. Tetapi kalau masih ingin bertahan, duduklah terus dan jangan pernah sekalipun meninggalkan bangku itu. Sambil menyelesaikan tugas-tugas kalian, sesekali kalian mesti menoleh satu sama lain. Yakinkan dia yang berada di ujung bangku lainnya supaya kuat mencapai titik akhir perjuangan.

Orang pintar akan menyelesaikan masalah secara cepat. Tetapi orang bijaksana akan membangun sistem yang bisa digunakan untuk kebutuhan jangka panjang. Aku tahu kalian berdua ingin membangun suatu lingkungan kerja seperti ini :


Sebuah sistem yang stabil, tak peduli siapa pun yang duduk di atasnya. Namun kalian tak usah menyesal bila sampai titik akhir nanti kalian belum berhasil mewujudkan sistem itu. Perjuangan kalian sudah lebih dari cukup. Lebih dari cukup untuk menjelaskan daya tahan dan dedikasi kalian. Masalah demi masalah itu, mudah-mudahan tak membuat salah satu dari kalian memutuskan untuk bangun duluan dari bangku panjang. 

Tipu muslihat memang tak kenal lelah menggoda kalian untuk enyah dari bangku panjang itu. Membuat kalian berselisih dan saling benci sebab tak ada lagi kepercayaan di antara kalian. Namun ada satu hal yang aku tahu. Semesta tak akan lelah mengirimkan bantuan-bantuan tak terduga bagi kalian yang senantiasa berusaha. Jangan marah bila temanmu kelihatan lelah dan ingin mengangkat pantatnya dari bangku. 


Sempat putus asa membujuk temanmu untuk tetap di ujung sana?
Rayu saja Penciptanya yang Maha Pemurah dan Maha Tahu.
Aku dan yang lainnya pun tak akan membiarkan hati kalian melemah.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa