Tips Membuat Soal Pilihan Ganda yang Berkualitas

Ketika sekolah dulu, saya paling tidak suka dengan soal pilihan ganda (PG). Karena pilihannya njelimet dan bobot nilainya kecil. Saya sih mending menyelesaikan soal-soal esai yang bobot nilainya besar dan bisa dieksplorasi secara bebas. Tapi setelah dewasa, saya baru sadar kalau soal-soal PG yang pernah saya kerjakan dulu banyak ngawurnya juga. Sekarang, justru banyak guru yang tidak paham tentang aturan membuat soal PG yang benar.
Tips berikut ini berusaha saya tulis serinci mungkin. Tentu saja bukan saya sumbernya. Semoga bermanfaat bagi para guru atau siapa pun yang membacanya. Guru itu bukan dewa yang selalu benar. Jadi, tak ada salahnya kan belajar demi pemahaman yang lebih baik lagi?

Etika Saat Menjenguk Orang Sakit. Simpel Tapi Perlu Banget!

Orang sakit adalah orang yang paling menderita.
Ya iyalah. Siapa sih yang mau sakit. Mendingan sehat dan banyak duit kan daripada sakit. Apalagi kalau sampai harus dirawat inap di rumah sakit. Rasanya tuh kayak dunia runtuh gitu. Oke, kalimat terakhir itu agak lebay sih ya.
Niat untuk menjenguk orang sakit sih memang mulia. Tapi sering kali jenguk orang sakit malah bikin ganggu. Malah orang yang sakit bisa tambah sakit setelah dijenguk. Soalnya yang sakit itu pusin dengerin omongan kita yang gak ada habisnya. Itulah yang membuat etika saat menjenguk orang sakit menjadi sangat penting untuk dipahami. Seriously it’s work.

Guru: Tak Cuma Mengantar Kita Jadi “Orang” Tetapi Juga Harus Memanusiakan


Tadinya sih saya mau bikin judul yang berbau clickbait gitu kayak,
“Panduan Menjadi Guru Zaman Now yang Cerdas. Nomor 4 Bikin Pasti Kamu Terkedjoet.”
Tapi ya gak jadi deh. Bikin judul yang normal aja dengan bahasa yang agak menyentuh. *uhuk
Guru zaman dahulu memang beda banget sama guru zaman now. Sekarang, gurunya udah lebih stylish, lebih kekinian, dan bebas gaptek. Kita bebas terhubung kapan pun dengan guru kita melalui aplikasi chat atau media sosial. Hubungan murid dan guru di zaman dahulu memang lebih kaku dan formal banget. Namun, hal-hal tersebut malah membuat esensi belajar mengajar yang sesungguhnya lebih terasa. Murid dan wali murid sangat menghormati guru. Demikian pula halnya dengan guru yang benar-benar berdedikasi demi perkembangan murid-muridnya.

10 Manfaat Memiliki Sahabat yang Usianya Lebih Tua

Bertambah tua itu mutlak. Tetapi menjadi lebih dewasa itu relatif. Tidak semua orang mengalami perkembangan kedewasaan ketika usianya terus bertambah. Beruntung sekali jika kita mengenal orang-orang yang usianya lebih tua dan perilakunya mencerminkan kedewasaan. Apalagi kalau kita menjadi salah satu bagian dalam hidup mereka. Bersahabat dengan orang-orang yang usianya lebih tua dan matang sungguh banyak manfaatnya.

Kita Beruntung Mendapatkan Paket Lengkap

Ketika bersahabat dengan orang yang lebih tua, kita tak cuma mendapatkan sosok teman. Lebih dari itu, kita bisa menemukan sosok orang tua atau kakak dalam diri sahabat tersebut. Mereka bisa mendengarkan kita secara lebih seksama dibandingkan teman seumuran. Pada situasi tertentu, mereka juga bisa memberikan perlindungan yang sama seperti orang tua kita sendiri. “Paket lengkap” ini tidak bisa kita dapatkan kalau kita tidak memiliki sahabat yang usianya lebih tua.