9 Tips agar Tidak Dicap Perawan Tua


Tulisan ini adalah self reminder. Hasil dari pemikiran serta pengalaman pribadi yang menjengkelkan tentang topik yang satu ini. Di negara-negara barat, mempertanyakan status pernikahan orang lain merupakan hal tabu. Karena pertanyaan tersebut bersifat sangat privasi. Tapi jelas beda eim kalau dibandingkan dengan masyarakat Indonesia yang super nyinyir dan kepo?

Kapan kawin?
Umur udah hampir 30 lo. Coba deh buka diri biar banyak temen.

Seriously, kalimat “coba deh buka diri biar banyak temen” itu baru minggu lalu saya dengar dari mulut seorang pria tua. Pria tua yang bahkan belum dua jam mengenal saya. Ya kalo ngana mau nyariin jodoh kualitas super sekalian bayarin biaya kawinan sama biaya rumah tangga gue seumur hidup sih silakan aja komentar sepuasnya. Tapi kalau tujuannya cuma mau kepo mendingan cepet-cepet mingkem sebelum gue sumpel pake sendal (Eh, malah ngegas).

Saya sih gak akan baper kalau ada orang-orang terdekat yang bercanda tentang status saya. Kemungkinan besar mereka memang benar-benar mengenal dan peduli terhadap saya. Namun, saya tidak sudi mendengar kalimat-kalimat semacam itu muncul dari orang yang tidak mengetahui siapa saya. Silakan ngana urus hidup ngana sendiri ya, Kong.

Udah mapan belom?
Udah punya harta berapa banyak?
Kapan ada rencana mati?
Daripada ngurusin idup orang mending cari duit dan ngumpulin pahala, cuy.

Lagi pula, kayaknya banyak orang yang menggunakan kata kunci Google seperti judul artikel ini tapi gak nemu jawaban yang tepat. Sebenernya sih gak ada formula yang jitu untuk terhindar dari julukan “perawan tua”. Usia terus bertambah memang bikin julukan itu gampang keluar dari mulut sialan orang lain. Namun, setidaknya sembilan hal ini bisa meminimalkan anggapan perawan tua yang rentan melekat pada wanita lajang berusia matang:

Harus Terlihat Awet Muda

It’s a must. Very very a must. Orang yang awet muda akan dikagumi karena baby face. Orang-orang akan bertanya tentang skin care-nya atau pola hidupnya dibandingkan mempertanyakan status lajangnya. Lihat aja aktor aktris Korea Selatan yang usianya sudah hampir setengah abad tapi masih keliatan kinyis-kinyis. Orang-orang yang melihatnya biasanya akan nyeletuk,

Gile cuy. Mukanya mulus banget. Laler aja bisa kepleset tuh kalo nemplok di pipi.
The real vampire nih. Dari tahun 2000-an sampe sekarang mukanya gak berubah.
Dia tuh pake skin care apa aja, ya. Kok mukanya gak ada kerutan sama sekali.

Dengan umur yang sama dan penampilan wajah yang beda jauh, orang yang wajahnya kelihatan lebih tua pasti lebih rentan dikatain perawan tua. Meh.
Jalani gaya hidup sehat. Luangkan waktu untuk berolahraga meskipun hanya 20 menit. Jangan lupa pula pakai skin care yang sesuai dengan karakter kulit Anda.

Bergaul dengan yang Satu Spesies

Maksudnya, Anda harus bergaul dengan teman-teman sebaya yang masih melajang. Gak mungkin kan teman yang masih melajang ngatain kita perawan tua. Itu sama aja ngatain diri sendiri dong. Untungnya, saya punya beberapa sahabat yang masih melajang. Kami bebas membicarakan banyak hal tentang finansial, gebetan, sampai ngegosipin temen lain yang ternyata pacarannya cuma jagain jodoh orang.

Jangan Banyak Komentar

Perawan tua sering diidentikkan dengan sifat nyinyir, kepo, dan selalu berhasrat mengomentari banyak hal. Jadi, sebaiknya Anda tidak banyak berkomentar supaya tidak dicap perawan tua. Berkomentarlah tentang hal-hal yang penting dan memang membutuhkan pendapat Anda. Toh tidak semua hal membutuhkan komentar Anda. Kadang-kadang diam memang lebih powerful dan penuh makna dibandingkan banyak komentar.

Jangan Mencampuri Urusan Orang Lain

Seorang wanita juga sering dicap perawan tua hanya karena kebiasaan mencampuri urusan orang lain. Banyak yang mencampuri urusan orang lain sebagai bentuk kepedulian. Mereka lupa bahwa tidak semua orang menginginkan orang lain terlibat dalam urusannya. Oleh sebab itu, jangan mencampuri urusan orang lain, terutama hal-hal yang sifatnya sensitif. Kalau memang dibutuhkan, orang lain pasti akan bercerita dan meminta kesediaan Anda untuk membantu.

Tak Perlu Banyak Menceritakan Diri Sendiri

Tidak semua orang berhak tahu tentang kehidupan Anda. termasuk tentang status lajang atau menikah. Jadi, Anda memang tak perlu banyak menceritakan tentang diri sendiri. Apalagi bila Anda baru berkenalan dengan orang lain. Gunakan hati nurani untuk menentukan siapa saja orang yang pantas mengenal Anda lebih dalam. Orang-orang terdekat yang mengenal karakter Anda tentu tidak akan melukai hati Anda dengan menyebut julukan perawan tua.

Jangan Ngegas Kalau Dipanggil “Ibu” atau “Tante”

Ngegas saat dipanggil ibu atau tante akan menunjukkan kualitas Anda sebagai seorang wanita. Jadi, kalem aja saat ada yang memanggil Anda dengan sebutan tersebut. Anggaplah bahwa sebutan tersebut adalah bentuk kesopanan dari orang-orang yang usianya lebih mudah dari Anda. Bila Anda berpenampilan awet muda dan berkepribadian menarik, lama-kelamaan orang tentu tak akan segan memanggil Anda dengan sebutan Mbak atau Kakak.
Ngegas ketika ada yang memanggil dengan sebutan ibu atau tante malah membuat Anda terlihat sok muda. Terimalah kenyataan bahwa usia Anda memang sudah matang dan pantas dipanggil dengan sebutan tertentu.

Menikmati Me Time Semaksimal Mungkin

Jangan menjadikan status lajang sebagai bahan perenungan yang berlebihan. Introspeksi diri ketika masih melajang memang sah-sah saja. Namun, jangan sampai hal tersebut membuat Anda kurang menikmati hidup. Justru Anda harus menikmati me time semaksimal mungkin. Lakukanlah hal-hal yang Anda inginkan. Anda bebas mencapai jenjang karier tinggi, merintis bisnis, traveling, atau melakukan hal-hal lainnya yang tak kalah menyenangkan. Mungkin saja hal-hal tersebut tidak bisa Anda lakukan setelah berkeluarga. Jadi, nikmati me time sampai puas sehingga hal tersebut mempengaruhi pembentukan karakter Anda secara positif.

Bergaul di Lingkungan yang Open Minded

Lingkungan yang open minded adalah wadah tepat untuk mengembangkan diri tanpa stigma negatif tentang status Anda. Jadi, hindari bergaul dengan kaum emak-emak yang nyinyir dan super kepo atau sekumpulan ABG labil yang hobi bersenang-senang. Alangkah lebih baik jika Anda bergabung di komunitas kegiatan sosial yang aktif dan memiliki atmosfer positif.
Orang-orang di lingkungan yang open minded pasti tak mudah memvonis orang lain berdasarkan status pernikahan. Tak hanya mendapatkan banyak ilmu baru, Anda pun akan merasa nyaman beraktivitas bersama orang-orang yang menyenangkan dan memiliki satu visi misi dengan Anda.

Memberikan Dampak Besar yang Positif terhadap Lingkungan

Siapa pun Anda, di mana pun Anda berada, apa pun profesi Anda, sejatinya Anda bisa memberikan dampak besar yang positif bagi lingkungan sekitar. Jadilah orang yang bangga terhadap diri sendiri dan selalu berupaya memberikan yang terbaik. Dedikasi dan kegigihan adalah hal yang tidak dimiliki semua orang.
Niscaya orang lain tidak akan mempermasalahkan status lajang Anda kalau Anda mampu memberikan dampak besar yang positif. Prestasi dan karakter yang baik jauh lebih penting daripada sekadar mempersoalkan status lajang seseorang.

Saya ingin meminjam kutipan populer yang berasal dari Hipwee. Pernikahan itu bukan lomba lari. Mereka yang lebih cepat mencapainya bukan berarti pasti lebih baik daripada orang-orang yang masih melajang. Alangkah lebih baik menghabiskan waktu lebih lama untuk menyenangkan diri sendiri daripada menghabiskan sisa hidup dengan orang yang keliru.
Tak ada yang sempurna di dunia ini. Memilih pasangan juga bukan tentang menemukan dia yang sosoknya serba sempurna. Namun, butuh waktu cukup panjang untuk memantaskan dan meyakinkan diri sendiri terhadap pilihan yang ada di depan mata. Hal ini tidak selalu berlangsung mudah bagi semua orang. Karena setiap orang pasti memiliki penilaian masing-masing dan latar belakang kehidupan yang mempengaruhi cara menentukan pilihan.



No comments