Memoar, Opini, Kata Hati

Senin, 20 November 2017

10 Risiko Pekerjaan Freelance Writer di Indonesia



Semua pekerjaan pasti ada risikonya. Ada yang risikonya lebih besar, dan ada pula yang lebih kecil. Salah satu yang paling parah tentu saja risiko kecelakaan kerja yang berakibat fatal. Namun bukan berarti risiko pekerjaan lainnya tergolong tidak berat. Ada saja risiko-risiko yang dianggap tak seberapa tetapi kerap membuat mental ciut dan produktivitas pun menurun.

Salah satu pekerjaan yang dianggap minim risiko adalah freelance writer atau penulis lepas. Padahal pekerjaan ini juga tak luput dari risiko yang sering bikin gemes, sedih, kesal, atau sekadar menarik napas dalam-dalam.

Kira-kira apa saja sih risiko pekerjaan freelance writer di Indonesia? Inilah ulasannya!

Pemrosesan invoice yang selalu lama.

Invoice yang prosesnya super lama sudah jadi teman akrab bagi para freelancer. Dulu saya mendapatkan pencairan invoice pada tanggal 25 setiap bulan. Kemudian mundur menjadi setiap tanggal 5 bulan depan. Lalu sekarang mundur lagi, invoice harus dicetak agar berbentuk fisik, diberi meterai dan dikirim ke agency tempat saya bekerja. 

Jangan tanya soal waktu pemrosesannya. Pembayaran akan diproses pada hari Rabu berikutnya setelah kiriman invoice di terima. Jadi, kalau invoice-nya sampai di kantor saat hari Kamis, berarti kita baru bisa menerima pembayaran pada hari Rabu minggu depan. Bikin deadline artikel mepet-mepet. Giliran disodorin invoice, tunda terus sampai beberapa minggu. Mikir woy.

Bikin content plan tanpa dibayar.

Mungkin ada sebagian freelance writer yang bertanya-tanya tentang content plan karena belum penah membuatnya. Sebenarnya content plan bisa diartikan sebagai rencana topik artikel sebelum kita membuat artikel utuhnya. Biasanya content plan berisi judul artikel, deskripsi singkat (terdiri dari 2 hingga 3 kalimat), dan sumber referensi yang akan digunakan.

Bikin content plan tidak dibayar. Namun soal revisi, tak usah ditanya lagi. Tak jarang saya harus merevisi content plan sampai 2 kali. Merevisi sesuatu tanpa dibayar, it’s so wasting time. Kalau mau langsung tepat sasaran, kenapa bukan brand-nya yang membuat content plan untuk freelance writer?
Supaya freelance writer-nya tak perlu buang-buang waktu membuat revisi content plan berulang kali.

Disuruh mengubah topik artikel yang sudah selesai.

 


Content plan sudah disetujui, artikel yang sesuai dengan content plan pun sudah dibuat. Tiba-tiba brand yang menjadi klien agency meminta freelance writer mengubah topik artikel yang sudah selesai tersebut. Mengubah topik itu artinya membuat artikel baru. Karena artikel yang sudah selesai tentu tak bisa direvisi jika ingin topiknya berubah. Kalau sudah begini, rasanya pasti ingin mencekik leher si Person In Charge (PIC). Sering kali saya menolak mengubah topik artikel jika artikelnya telah selesai dibuat. Karena saya tidak mau memperbaiki atau menanggung kesalahan yang tidak saya buat.

Harus menambah jumlah kata pada artikel yang sudah rampung.

Dalam setiap draft artikel yang harus saya kerjakan, sudah tercantum ketentuan jumlah kata pada artikel tersebut. Jadi ceritanya saja sudah menyelesaikan artikel dengan jumlah kata yang tepat, bahkan selalu lebih dari permintaan agency. Lalu tiba-tiba beberapa hari kemudian saya diminta menambahkan kata-kata pada artikel buatan saya tersebut.

“Mbak Mel, artikel yang ini tolong ditambah 250 kata lagi, ya.”

Jadi menurut ngana, saya harus menambahkan artikel 500 kata yang sudah selesai dibuat dengan 250 kata secara cuma-cuma?
Rate artikel saya tetap sama. Namun jumlah kata per artikel yang harus saya selesaikan ternyata bertambah banyak. Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa dilakukan selain pasrah?

Disuruh merevisi artikel buatan orang lain.

Memperbaiki jauh lebih sulit daripada membuat yang baru.
Terutama bila kita diharuskan memperbaiki artikel buatan orang lain. Agency tempat saya bekerja menyebut urusan yang satu ini dengan istilah content enrichment. Masih bagus kalau artikel tersebut sudah sesuai dengan kaidah bahasa yang benar. Bagaimana kalau ternyata tidak?

Itu artinya kita bukan merevisi artikel buatan orang lain, melainkan harus membuat artikel baru dengan tema yang sama. Ya, memang begitu. Daripada kita pusing merombak sana-sini dan membuang-buang waktu, alangkah lebih baik jika kita membuat yang baru. Saya sih lebih senang membuat artikel baru dibandingkan harus pusing merevisi buatan orang lain yang tata bahasanya kacau balau.

Tak dapat THR dan tunjangan lainnya? Itu sudah~

Jangan mimpi soal Tunjangan Hari Raya (THR), tunjangan kesehatan, atau bentuk tunjangan lainya bila sudah memutuskan menjadi freelance writer. Selama saya bekerja di sejumlah agency besar, saya tidak pernah menikmati sesuatu yang disebut THR. Padahal menurut Permenaker No.4 Tahun 1994 pasal 3 tentang pengaturan THR, disebutkan bahwa pekerja lepas juga berhak menerima THR. Tentu saja THR tersebut harus disesuaikan dengan masa kerja pekerja lepas. Bahkan, pekerja lepas yang sudah bekerja selama 12 bulan terus menerus berhak mengantongi THR sebesar 1 bulan gaji. 

Saya tidak mau ambil pusing soal hal ini. Mau menuntut agency tempat saya bekerja?

Itu tandanya saya sudah bosan bekerja dan ingin segera didepak dari sana. Sebab masih banyak freelancer writer yang mengantre untuk mendapatkan posisi saya saat ini. Saya sudah cukup bersyukur karena ada salah satu agency yang memberlakukan sistem insentif bagi freelance writer yang mengerjakan artikel-artikel untuk satu brand selama tiga bulan berturut-turut. Insentifnya memang tak besar, nilainya tergantung dari jumlah artikel yang dikerjakan setiap bulan. Cukup lumayan untuk menambah total pendapatan bulanan.

Mau banyak uang? bekerjalah seperti kuda!



Menjadi freelance writer yang banyak uang itu bukan mitos atau dongeng belaka. Kita bisa mencapai posisi tersebut bila kita rela bekerja seperti kuda. Salah satu caranya adalah bekerja pada beberapa agency secara bersamaan. Tak jarang pula kita masih harus berurusan dengan pekerjaan hingga larut malam. Hal seperti ini adalah konsekuensi pribadi yang bisa kita tentukan sendiri. Bila ingin isi dompet lebih tebal, kita harus bekerja lebih giat. Karena kita bukanlah pegawai tetap yang bisa santai uncang-uncang kaki dan tetap mendapatkan besar gaji yang sama setiap bulan.

Banyak saingan yang banting harga.

Ada lo penulis yang memasang rate Rp 5.000,- untuk setiap artikel yang terdiri dari 500 hingga 1.000 kata. Cari rezeki sih boleh-boleh saja. Namun jangan sampai banting harga hingga akhirnya merusak harga pasaran, ya. Hal ini membuat banyak agency berpikir bahwa sebuah karya tulis bisa dihargai sebegitu murahnya. Akibatnya, freelance writer dengan kualitas kerja dan ketepatan waktu di atas rata-rata harus banyak bersabar menghadapi saingan yang banting harga. 

Ada harga, tentu ada kualitas. Semua agency pasti ingin mendapatkan tulisan berkualitas dengan sisi personal touching, softselling, potensi viral, dan penggunaan sumber yang kredibel. Semua kelebihan itu adalah buah pemikiran freelance writer yang tak mau bekerja asal-asalan. Hargailah dedikasi freelance writer yang tak asal comot informasi dari sumber referensi.

Hampir (selalu) dikira pengangguran.

Nah, saya sih sudah tak asing lagi dengan anggapan yang satu ini. Mayoritas masyarakat masih menganggap bahwa bekerja adalah kegiatan pergi pagi pulang sore ke kantor, pakai baju rapi dan keren sembari menenteng tas kerja. Demikian pula halnya dengan tetangga-tetangga saya. Dulu, mereka pasti nyinyir kalau melihat saya lalu lalang dengan kaos belel dan celana pendek yang itu-itu saja.

Saya sudah kenyang dianggap pengangguran. Namun, sesekali mata mereka sukar berkedip sewaktu saya sedang tampil dengan rambut dan pakaian yang rapi. Iya, sesekali saja saat saya dipanggil untuk briefing di kantor agency.  

“Mau ke mana, Mel?”
“Ke kantor, Tante.” (Ngomong sambil kibas rambut dan blazer yang super wangi.)

Orang lain tak punya banyak waktu senggang untuk kita.

 

Sejujurnya, poin terakhir inilah yang paling berat bagi saya. Memilih pekerjaan sebagai freelance writer tentu mempengaruhi interaksi saya dengan para sahabat dan kenalan lain yang saya sayangi.

Mereka kerja dari pagi sampai sore, saya juga kerja dari pagi sampai sore di rumah. Mereka ngajak ketemuan pas weekend, saya lagi menyelesaikan pekerjaan ekstra yang sengaja saya ambil di akhir pekan. Giliran sayanya sempat bertemu di hari kerja, mereka masih sibuk dengan setumpuk pekerjaan di kantor. Saya punya waktu senggang dari pagi sampai malam untuk membalas chat, mereka tak sempat balas chat karena harus berurusan dengan pekerjaan. Begitu saya mulai ngajak chat di malam hari, mereka sudah lelah dan akhirnya ketiduran. Iya, gitu aja terus sampai lebaran kuda.

Tak jarang saya merelakan waktu bekerja saya untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Sebab saya tahu bahwa waktu kerja saya jauh lebih fleksibel dibandingkan mereka. Bahkan saya sering menyelesaikan banyak artikel sembari mendengarkan dan menanggapi curhatan orang-orang terdekat. Rasa kesepian itu lama-lama jadi sahabat karib. Saya terbiasa menyediakan waktu untuk orang lain. Meskipun orang lain lebih sering tak punya waktu senggang untuk saya. Saya tidak menganggap hal itu sebagai masalah. Karena saya memang bersedia menempatkan diri untuk selalu menjadi pendengar. Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya.
 
 
Udah, gak usah baper gitu pas baca poin kesepuluh ini, ya. Saya menikmatinya kok. Menikmati saat-saat duduk diam dan bekerja sendirian di kafe. Menikmati momen ketika orang-orang yang saya sayangi merasa lebih lega usai mencurahkan isi hati.


Ulasan tentang sepuluh risiko pekerjaan freelance writer ini bukan bentuk kebencian dan pemberontakan yang terlontar dari dalam diri saya. Bila disuruh mengulang kembali ke masa-masa awal hidup saya, pasti saya akan tetap memilih pekerjaan ini. Pekerjaan yang saya sukai karena sudah memberikan banyak pelajaran hidup berharga. 

“Liburan panjang nanti ada rencana apa? Jalan-jalan yuk!”
“Gue gak libur karena sengaja ambil kerjaan tambahan.”













8 komentar:

  1. Oh gitu. Saya baru tau nggak enaknya jadi penulis konten yang berbayar gtu. Apa di surat kontrak ga ada perjanjian yang jelas ttg tgl gajian atau peraturan lain yg ditabda tangani di bwah materai mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjanjian di kontrak sih ada, Mbak.
      Tapi kalo gajian telat dari jadwal itu udah biasa banget buat penulis lepas :)

      Hapus
  2. Gemes sama Yang pasang harga murah (banget) itu... jadi merusak harga pasaran.Kalau dibilang nganggur sih gpp asal dapat duit hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget nih, gan. Karena brand jadi nganggep semua penulis bisa dipatok sama harga super murah. Padahal kita peras otak juga pas buat artikelnya :D

      Hapus
  3. Saya pernah menajdi penulis freelance
    tapi sering tanpa bayaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan nanti bisa jadi penulis freelance yang dibayar, Gan :)

      Hapus
  4. Yg nomor 1 tuh miris. Kitanya udah nulis capek2 semaksimal mungkin, eh invoice gak turun2. Sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, biasanya kita cuma bisa sabar nungguin ya ...

      Hapus

 
Copyright©Melisa