Featured Slider

20 Quotes tentang Mendengarkan

20 Quotes tentang Mendengarkan

Yang mau mendengar, belum tentu mampu memahami.

Itulah mengapa, beberapa hal lebih baik disimpan untuk diri sendiri.

 

Ada perbedaan antara mendengarkan dan menunggu giliran untuk berbicara.

 

Setiap orang hidup dalam nasibnya sendiri-sendiri.

Lalu mengapakah kita harus mendengarkan

orang yang tidak suka melihat kita sukses?

 

Kita tidak perlu menjelaskan hal-hal

kepada orang yang tidak mau mendengarkan penjelasan.

Jangan menghabiskan waktu.

 

Suara-suara dari luar

membuat kita tuli

untuk mendengar suara-suara dari dalam.

 

20 Tips dan Etika Berdagang yang Wajib Dipahami Pebisnis

20 Tips dan Etika Berdagang yang Wajib Dipahami Pebisnis

Sampai saya menulis artikel ini, saya belum berstatus sebagai pebisnis. Namun nggak tahu deh ke depannya kalau akhirnya saya jadi pebisnis. Meskipun bukan pebisnis, saya merasa bahwa ada etika tidak tertulis yang harus dipahami seorang pebisnis terlepas dari apapun jenis bisnisnya. Artikel ini adalah hasil kesotoyan saya. Kalau memang Anda iseng pengen luangin waktu untuk baca, ya silakan aja. Nggak usah bertele-tele, langsung saya mulai aja, ya.

  1. Jangan pernah jawab bahwa Anda “nggak jual” ketika ada pelanggan yang mencari produk atau jasa tertentu. Misalnya, Anda jual pecel lele dan ayam lalu ada pelanggan yang mencari bebek goreng. Walaupun Anda memang nggak jual bebek goreng, jawab aja kalau bebeknya habis. Jawaban tersebut bikin si pelanggan mikir kalau produk Anda banyak peminatnya. Kalau ada beberapa pelanggan menanyakan produk atau jasa serupa yang nggak Anda jual sebelumnya, berarti itu kesempatan menghadirkan hal baru yang diminati banyak orang.
  2. Perhatikan fisik dan ras pelanggan sebelum menentukan kata sapa. Jangan pukul rata terhadap semua pelanggan. Contohnya, pelanggan muda yang tampangnya oriental lebih suka dipanggil koko atau cici. Kalau pelanggan masih muda dan tampangnya agak ambigu sampai Anda nggak tahu mereka dari ras apa, panggil aja kakak. Begitu pun halnya kalau bingung dengan jenis kelamin pelanggan, tinggal panggil dengan sebutan kakak biar aman. Pelanggan wanita oriental yang bawa anak-anak suka dipanggil Mami. Pelanggan berhijab yang bawa anak-anak suka dipanggil Bunda. Tapi kalau pelanggannya berhijab dan sudah setengah baya sebaiknya dipanggil Bu Haji atau Ummi. Saya bukan pebisnis tapi saya sering nguli dagang. Sehingga saya paham benar ekspresi sumringah pelanggan saat dipanggil dengan kata sapa yang tepat. Pssst, bahkan mereka bisa lebih royal belanja hanya karena senang dengan sapaan yang cocok lho.

Cara Membuat Artikel Super SEO

 

Cara Membuat Artikel Super SEO

Ketika membuat artikel ini saya merasa sotoy banget. Karena sebenarnya menurut saya ngga ada aturan yang benar-benar baku dalam konsep Search Engine Optimization (SEO). Adanya cuma bos yang mau dibikinin artikel puanjang, kualitasnya juara, idenya orisinal, banyak ilustrasinya, tapi harganya murah.

Bukankah nggak pernah ada ide yang benar-benar baru?

Yang ada hanyalah ide baru yang merupakan hasil pengembangan ide lama. Nah, konsep itu sama halnya dengan pembuatan artikel super SEO. Beberapa aturan sederhana berikut ini patut diikuti kalau ingin artikel gampang muncul di halaman depan mesinn pencarian internet:

20 Quotes tentang Pergi

20 Quotes tentang Pergi

Jangan menyalahkan dia yang ingin pergi.

Coba kamu berpikir lagi dan introspeksi diri.

Mungkin saja kesalahan ada pada dirimu,

yang menyebabkan ia memilih untuk berlalu.

 

Sekuat apapun kita menjaga,

seerat apapun kita memeluk,

yang pergi akan tetap pergi.

 

Cinta selalu punya cara untuk menentukan arahnya sendiri.

Dia akan datang tepat pada waktunya,

dan akan pergi jika memang sudah waktunya.

 

Pergi selagi bisa,

dunia ini terlalu luas jika kamu hanya berdiam diri saja.

Arungi, lawan, dan terjang.

Apakah Kita Perlu Beragama Seserius Itu?

Apakah Kita Perlu Beragama Seserius Itu?

Suatu hari ketika membaca Quora, saya menemukan jawaban menarik dari salah seorang Quorans. Saya lupa pertanyaan persisnya. Intinya si Quorans menjelaskan kalau motivasinya dalam beragama adalah socially accepted.

Yes, socially accepted.

Sebuah frasa yang menarik dan sangat saya setujui.

Bisa dibilang saya pun begitu, beragama agar socially accepted.

Supaya nggak dikira kafir.

Agar nanti kalau mati udah jelas harus diurus dengan cara apa.

Mana yang Lebih Baik? Si Religius yang Fanatik atau Si Atheis yang Logis?

Jauh sebelum beragama, saya sudah sering melontarkan pertanyaan kepada diri sendiri ketika masih muda. Agama itu fungsinya apa kalau masih banyak penganutnya yang bertingkah lebih hina daripada binatang?