3 Kasta di Agamaku

3 Kasta di Agamaku

Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu senang membicarakan agama, termasuk agama yang saya anut. Pandangan saya dari dulu sampai sekarang masih sama, agama tidak akan membuat seseorang menjadi lebih baik. Memeluk agama itu hanya salah satu pilihan hidup. Seseorang tak langsung jadi baik seperti malaikat dan pasti masuk surga hanya karena beragama. Bagi saya, masih banyak kok orang-orang yang tidak beragama tapi perilakunya jauh lebih baik dan manusiawi daripada orang-orang yang katanya taat beragama. Saya juga sering kali berpikir kalau orang beragama dan aktif berkegiatan di agamanya itu hanya demi dipandang positif oleh lingkungan sekitarnya dan supaya jelas kalau nanti mati bakal dikubur pakai tata cara apa.

Selama hidup ini, saya selalu merasa takjub dengan beberapa dosen saya yang tidak pernah memperlihatkan apa agamanya. Mereka punya inteligensi tinggi, mampu berpikir logis, dan bersikap wajar sama semua mahasiswanya tanpa memandang agama apapun. Jadi saya pikir saya akan meniru dosen-dosen saya. Tak perlu terlalu terbuka soal agama, apalagi membela agama mati-matian. Tunjukkan apa adanya diri sendiri kepada dunia tanpa melibatkan agama kita.

15 Etika Hidup di Zaman Modern

15 Etika Hidup di Zaman Modern

Kalau dikirimi sesuatu oleh orang lain (baik via jasa pengiriman atau ojek online), jangan lupa segera memotret kiriman tersebut lalu mengirimkannya sambil mengucapkan terima kasih via chat atau telepon. Jangan jadi orang tidak tahu diri yang menerima kiriman tetapi tidak memberi kabar kepada si pengirim.

 

Jika ada orang menghubungimu via japri di chat, usahakan membalasnya terlebih dahulu sebelum nimbrung di obrolan grup yang memuat orang tersebut juga. Andaikan kamu benar-benar kesal dan tak ingin membalas pesan orang tersebut, sebaiknya tunda keinginan bergabung dalam obrolan grup. Melihat orang tidak membalas pesan kita tetapi bisa nongol di grup itu sungguh memuakkan.

 

Saat menumpang mobil orang lain, berusahalah mengisi bangku depan di samping pengemudi terlebih dahulu. Jangan memposisikan si pemilik mobil seperti sopir karena kamu (atau kalian) duduk di bangku belakang.

Keledai dan Garam

Keledai dan Garam

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang pedagang kecil. Suatu hari, ia menyuruh keledainya mengangkut dua karung garam untuk dibawa pulang ke rumah. Dua karung garam tersebut sangatlah berat. Si keledai jelas merasa keberatan. Ia sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Sepanjang jalan keledai itu tak henti-hentinya mengeluh karena keberatan beban dan hati yang dipenuhi amarah semakin membuat tenaganya cepat terkuras.

Saat si pedagang membawa keledai tersebut minum air di pinggir sungai, karena kelelahan hewan peliharaannya itu tidak berhati-hati sehingga jatuh terjerembap ke dalam sungai. Si keledai tak henti-hentinya berusaha untuk keluar dari dalam air. Pada saat berjuang itulah, muatan garamnya perlahan-lahan larut ke dalam air. Hingga saat ia berhasil naik ke tepian, keledai itu merasa bebannya jadi sangat ringan. Ia sangat gembira dan dengan santai membawa muatan garamnya pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, keledai itu sangat gembira bukan saja karena muatan di punggungnya telah berubah jadi ringan, namun ia bersukacita karena telah menemukan rahasia untuk membuat bebannya menjadi ringan.