Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 21 Mei 2016

Selalu Soal Ulangan Pilihan Ganda, Baikkah untuk Murid?





Life is like multiple choice question. Sometimes the choices confuse you, not the question itself.

Salah pilih jawaban bisa fatal akibatnya. Setidaknya begitulah hal yang dipikirkan murid-murid ketika menjawab ulangan berbentuk pilihan ganda. Waktu masih kecil di kelas 1 atau 2 SD sih pilihan gandanya cuma A, B, dan C. Namun saat beranjak ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, pilihan jawabannya bisa sampai E lho.

Keunggulan yang Dimiliki Soal Pilihan Ganda




Sumber :
MemeGenerator.net

Soal pilihan ganda terbilang unggul jika pilihan jawabannya tergolong mirip. Meskipun membuat murid bingung, soal seperti ini justru mampu mengembangkan kemampuan murid dalam menganalisis. Maka sang guru pun bisa menilai mana murid yang benar-benar belajar dengan teliti dan mana yang hanya selayang pandang ketika melihat buku.

Hal ini pula yang membuat UN Bahasa Indonesia menjadi semakin menakutkan dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebab pilihan jawaban yang hampir mirip memang membuat murid mesti berpikir lebih keras. Jika salah menganalisis satu hingga dua soal tentu tak jadi masalah. Celakanya, analisis bisa semakin ngawur seiring dengan banyaknya jumlah soal yang sudah dibaca.

Pilihan Ganda Juga Tak Luput dari Kekurangan

 

Sumber :
QuickMeme.com

Inilah jawaban sahih dibalik misteri kegembiraan murid-murid jika menemukan soal pilihan ganda. Ternyata soal pilihan ganda membuat murid lebih mudah melirik jawaban temannya. Tinggal lihat abjad yang dipilih, maka soal-soal super sulit pun bisa dipecahkan seketika. Jika teman sedang berbaik hati, maka kode-kode tertentu dengan jari atau gerakan tubuh juga bisa menjadi jalan untuk menjawab soal pilihan ganda.

Kekurangan lainnya adalah faktor keberuntungan yang dimiliki setiap murid. Jadi, murid yang sama sekali tidak belajar belum tentu akan mendapatkan nilai jelek pada soal ulangan berupa pilihan ganda. Selain keberuntungan untuk “memindahkan” jawaban teman ke lembar jawaban ulangan sendiri, keberuntungan “hitung kancing” pun sering dimanfaatkan.

Menjelang berakhirnya waktu ulangan, the power of kepepet memberikan kekuatan dan inspirasi luar biasa. Hasilnya, paling tidak angka 60 atau 70 bisa diraih lo.

Esensi Gereget Ulangan Jadi Banyak Berkurang

 


Sumber :
Memes.com

Ternyata ada pula guru yang sering mengandalkan soal pilihan ganda untuk ulangan. Soalnya kadang-kadang diketik sendiri, tak jarang pula langsung diambil dari buku cetak. Praktis sekali, kan. Jadi tidak perlu repot-repot kelamaan mikir hanya demi menyusun soal ulangan.
Esensi dari ulangan harian kelas itu apa, sih?

Tentu saja sensasi gereget karena deg-degan menanti soal yang akan diujikan. Tetapi rasa gereget malah berkurang saat guru memberikan soal ulangan pilihan ganda yang sudah pernah dilihat di buku cetak. Aroma kompetisi antara murid-murid pun jadi berkurang.

“Udahlah gak usah belajar lama-lama. Nanti juga palingan Ibu ambil soal PG (pilihan ganda) dari buku cetak.”

Begitu kira-kira pola pikir murid-murid yang sudah hafal dengan soal pilihan ganda ala gurunya. Bahkan lebih datar lagi jika akhirnya jawaban pilihan ganda diperiksa bersama-sama. Murid-murid saling bertukar lembar jawaban agar bisa diperiksa temannya. Usai memeriksa lembar jawaban pilihan ganda, nilai-nilai murid bisa segera dimasukkan ke buku nilai oleh sang guru. Sungguh praktis dan hemat waktu.


Pak, Bu, ulangan harian bukanlah hal yang menyenangkan bagi murid-murid. Namun ada hal baik yang bisa diajarkan melalui ulangan tersebut. Rupanya kesungguhan hati bapak dan ibu melalui geregetnya ulangan-ulangan harian itu akan selalu terkenang. Variasi soal ulangan yang berbeda-beda berupa esai, isian, pilihan ganda, kerja kelompok, atau lisan akan memacu adrenalin murid-murid.

Sehingga nantinya murid-murid tidak kehilangan ketertarikan untuk menantikan kejutan demi kejutan dalam ulangan harian. Murid-murid akan berucap kalau ulangan harian yang soalnya selalu berganti-ganti terasa menakutkan. Pasti tidak semua bentuk ulangan harian terasa menyenangkan dan mudah dikuasai. Tetapi setidaknya hal tersebut bisa memberi warna baru bagi kegiatan belajar mengajar.

Murid-murid pun akan memahami bahwa ujian tidak selalu berupa pilihan ganda. Seperti halnya ujian hidup yang lebih membutuhkan analisis dan kesimpulan kita sendiri. Bila soal pilihan ganda pasti memiliki satu jawaban yang tepat, pilihan dalam ujian hidup justru biasanya memiliki risikonya masing-masing.

Tugas manusia adalah memilih salah satu yang risikonya paling minim bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Hal inilah yang tidak pernah diajarkan secara tersurat di bangku sekolah. Kendati demikian, guru yang baik pasti akan mendidik muridnya untuk memiliki pola pikir semacam itu. Sebuah pola pikir yang logis, analitis, mengikuti perkembangan zaman, dan tidak melulu berpusat pada kepentingan diri sendiri.











10 komentar:

  1. Ya sih, emang kurang gereget kalau jawabannya pilihan ganda dan diambil dari buku. Kalau ada ujian aku malah tenang-tenang aja karena udah tau kalau gurunya bakalan ngambil dari buku cetak atau lks. Tapi kalau mau nerapin jawaban essai juga ada kekurangannya sih: banyak yang jadi korban, masih bisa minta sama temen, jawaban bisa dicari di internet. Tinggal buka hape trus browsing deh. Masing-masing punya kekurangannya sendiri, kok :)

    BalasHapus
  2. Hmm, dipikir2 Mas Reza bener juga,sih.
    Kalo esai bisa googling atau tanya temen ya. Tapi kalo tanya temen sensasi deg2annya lebih dapet
    Hehehehe :D

    Masing2 emang ada kekurangan kelebihannya :)

    BalasHapus
  3. kalau ujian aku mending aku kerjakan sendiri apa yang aku bisa, biar aku bisa mengukur kemampuan aku sendiri. klo sudah tau hasilnya, kita bisa memperbaiki ketika ulangan lagi. hasil dari kerjaan kita sendiri, lebih memuaskan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, kalo punya kemampuan sendiri pasti lebih mantap ya, Mas.
      Lagi pula nanti kita jadi lebih paham ilmunya karena hasil dari belajar sendiri :)

      Hapus
  4. Bikin soal Pilihan Ganda itu lebih susah lo dari pada soal isian.Apalagi jika harus mengikuti kaidah penulisan soal yang benar. Tapi buat guru soal macam ini memang memudahkan untuk pengoreksiannya. Apa pun jenis soal ulangannya, idealnya guru menggunakan berbagai macam jenis soal untuk menguji penguasaan materi pelajaran karena masing2 punya kelebihan dan kekurangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Bu.
      Bikin soal Pilihan Ganda yang kaidah penulisannya benar memang susah dan makan banyak waktu.
      Dan memang variasi soal Pilihan Ganda, isian, dll akan lebih menantang bagi murid. Jadi masih ada sensasi ketar-ketir dan rasa penasaran dengan soal ulangan tersebut.

      Hapus
  5. yang enaknya kalau pilihan ganda, pas mau habis waktu tinggal tebak-tebak jenggo,sukur kalau ada yang nyangkut hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo udah kepepet, yang paling asik emang tebak-tebak ya, Mas.
      Mengandalkan insting deh :D

      Hapus
  6. Kalau saya lebih suka soal pilihan ganda sih mba, soalnya kalau untuk saya, cara belajar sebelum ujian yang soalnya pilihan ganda cukup dibaca sekilas saja, tidak mesti harus dihapalkan, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe :D
      Iya, mas Riduan.
      Makanya kalo zaman dulu tuh soal bentuk pilihan ganda pasti ada, ya. Dicampur sama isian dan esai juga biar kebagian semuanya

      Hapus

 
Copyright©Melisa