15 Quotes tentang Keras Kepala

15 Quotes tentang Keras Kepala

Aku dibilang keras kepala sebab tidak mau mendengarkan

dan mengiyakan apa katamu.

Tak ubahnya aku-menurutmu,

bahkan kamu jauh lebih keras kepala

sebab menuntut orang lain untuk sejalan dengan apa katamu.

 

Tentang si keras kepala.

Berulang kali,

mengulang dan membenarkan yang sudah tahu akan pahit akhirnya.

 

Belajarlah menerima pendapat orang lain dan jangan menjadi keras kepala,

karena tidak selamanya kita memahami segala sesuatu.

 

Merasa Cukup

Merasa Cukup

Suatu hari ada seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib yang bisa mengeluarkan kepingan emas dengan jumlah tak terhingga. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapa pun yang diinginkannya sebab kucuran emas baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika itu si petani terperangah melihat kepingan-kepingan emas berjatuhan di depan hidungnya. Ia lalu mengambil beberapa ember untuk menampung emas itu. Setelah semua ember penuh, petani kemudian membawanya ke gubuk tempat tinggalnya untuk disimpan di sana.

15 Quotes tentang Malas

15 Quotes tentang Malas

Malas ribut, malas berdebat, malas mencari tahu.

Karena dewasa hanya butuh ketenangan batin.

Diam bukan berarti tidak peduli,

mengalah bukan berarti kalah,

tapi hanya tidak ingin memperburuk keadaan.

 

Tapi, rindu itu tidak bisa disuruh-suruh.

Kalau sudah datang, dia maunya malas-malasan saja

sampai bosan sendiri dan pergi sendiri.

 

Orang yang paling malas untuk mengenal orang baru,

adalah orang yang pernah setia tapi disia-siakan.

 

Melawan malas itu susah.

Tapi kalau malas itu tidak dilawan,

hidupmu akan jauh lebih susah.

 

Jadilah orang malas,

yang malas ribut,

malas debat,

malas ikut campur urusan orang lain.

 

20 Quotes tentang Cahaya

20 Quotes tentang Cahaya

Tidak jarang,

mereka yang menghabiskan waktu untuk memberikan cahaya bagi orang lain

justru tetap berada dalam kegelapan.

 

Kegelapan tidak dapat mengusir kegelapan,

hanya cahaya yang dapat melakukannya.

 

Mereka yang tak menyadari kalau sedang berjalan di kegelapan,

tak akan berusaha mencari cahaya.

 

Semakin terang cahaya maka semakin gelap bayangannya.

 

Dalam kegelapan malam, kita belajar menghargai cahaya.

Begitu juga dalam kesulitan, kita belajar menghargai kebahagiaan.