Memoar, Opini, Kata Hati

Jumat, 03 Juni 2016

Semoga Kalianlah yang Jadi Jawabannya





Bukankah menyenangkan jikalau kamu bisa berjalan berdampingan dengan sahabatmu?

Langkah kakimu dan langkah kakinya tentu tak selalu seirama. Namun tekadmu demi mewujudkan cita-cita mulia merupakan alasan yang lebih dari cukup untuk melangkah bersama. Sesekali bila dia tertinggal, kamu bisa berhenti sejenak untuk menunggunya. Sementara jika dia mulai berhenti seraya mengeluh, maka kamu siap menarik tangannya dan mengajaknya melanjutkan perjalanan.

Tatkala dia mengambil jalan yang salah, wajar kalau kamu merasa kesal dengan keputusannya. Tetapi perasaan itu tak akan berlangsung lama. Sebab kamu tentu sigap untuk segera mengingatkannya.Watakmu yang tegas dan cekatan membuatmu kerap berada beberapa langkah di depannya. Nanti dia juga akan memberitahumu. Bahwa ada kalanya melangkah perlahan-lahan sangat dibutuhkan. Supaya tidak salah mengambil jalan atau terkena jebakan.


Jalan mungkin berliku, tetapi kamu dan dia tak akan lelah jika terus melangkah bersama. Kata orang, ucapan adalah doa. Sehingga guyonanmu hari itu kututup dengan kata amin. Meski mentari berhenti bersinar, kuharap kamu dan dia tak pernah berubah. Aku yakin bahwa daya magis kekuasaan yang sering membuat orang lupa diri tak akan mempengaruhi dirimu dan dia.

Hal itu memang belum tiba, namun selalu aku semogakan. Seandainya kesempatan itu benar-benar datang kepadamu, kuharap kamu mau mempertimbangkannya masak-masak. Semoga percakapan kita pada malam itu cukup berarti dan mampu meneguhkan keyakinanmu. 

Kendatipun tidak memperoleh kesempatan, kamu dan dia selamanya menjadi kebanggaanku. Aku tahu kamu dan dia pasti senantiasa melangkah ke arah yang benar walau bukan sebagai pemegang kendali. Tetapi jika kesempatan yang datang itu menjelma jadi kenyataan, aku hendak jadi orang pertama yang tak jemu mendukung keputusanmu. Nanti aku akan menunggu dan tersenyum ke arahmu dari depan gerbang. Senyum dan sapaanku bergembira menyambutmu dan dia yang sudah menyandang status baru. 




Sejauh apa pun kamu berlari dari takdirmu, takdir itu pasti bergegas menghampirimu pada waktu yang tepat. Tak ada manusia yang sempurna, demikian pula halnya dengan kamu dan dia. Namun aku berani bertaruh kalau kamu dan dia bersedia menahan reruntuhan langit dalam perjalanan mencapai cita-cita mulia. 

Semoga kalianlah yang jadi jawabannya. 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa