Memoar, Opini, Kata Hati

Senin, 25 Januari 2016

Belajar Di Sekolah Indonesia Tidak Bisa Jadi Patokan Kecerdasan, Mengapa?


"Andi kamu belom siap-siap juga? Nanti telat lho…”
“Iya, Ma. Sebentar lagi, nih.”

Sekolah. Butuh 7 huruf saja untuk membuat sebagian besar pelajar Indonesia jadi mager setengah mati. Murid yang rajin saja bisa mager, apalagi yang malas. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan malas sekolah. Salah satu yang paling sering jadi penghambat adalah ketidakpahaman saat belajar di kelas.

Secara garis besar, hampir semua sekolah di Indonesia menyiapkan sistem belajar yang hampir sama. Masuk tepat waktu di pagi hari dan resmi keluar kelas di sore hari. Itulah sebabnya pendidikan di Indonesia tidak bisa jadi patokan kecerdasan dan masih belum dapat menyaingi kualitas pendidikan di sejumlah negara lain. Kira-kira apa ya penyebabnya?

Semua Mata Pelajaran Wajib Dikuasai dengan Baik

 

Sumber :
Instagram   
Apa pun pelajarannya, kamu harus berusaha dengan baik. Kenyataan bahwa si dia yang selalu diakui keunggulannya adalah dia yang juara pada hampir semua mata pelajaran. Dia yang menguasai hampir semua pelajaran dengan baik akan dianggap sebagai murid yang pandai dan patut ditiru. 


Padahal sejatinya setiap orang punya minat dan bakat yang istimewa. Toh kalau pun ada murid yang semua nilainya jeblok, mungkin saja hatinya memang tidak ada di situ. Tidak ada di kelas yang membosankan itu. Ada murid yang manis dan penurut, dan ada murid yang memang punya cikal bakal jiwa pemberontak. Jadi tidak mengherankan jika jiwa-jiwa pemberontak ini sering tak kuasa untuk konsentrasi belajar di kelas.

Tidak Ada Pilihan untuk Minat Tertentu, Kecuali pada Kegiatan Ekstrakurikuler

 

Sumber :
Instagram
Para murid biasanya bebas memilih kegiatan ekstrakurikuler sesuai minat dan bakatnya. Tetapi tidak demikian halnya dengan kegiatan belajar mengajar di kelas. Semua mata pelajaran akan diberikan dalam porsi yang sama. Matematika dan pelajaran bahasa biasanya mendapat porsi yang paling besar. Tidak ada kesempatan untuk mendapatkan tambahan ilmu yang diminati secara lebih detail lagi. 

Dunia kan tidak melulu soal penerapan ilmu matematika dan bahasa. Ada banyak hal indah lainnya yang bisa dikenal sejak usia sekolah. Bukankah memuaskan rasa ingin tahu anak terhadap minat tertentu akan membantu pengembangan kreativitasnya?

Ujian Hanya Menjadi Tes Daya Ingat, Bukan Sarana Pemacu Kreativitas

 

Sumber :
Instagram 

 
Masih ingat kapan terakhir kali kamu mati-matian menghafalkan pelajaran?

Bagi para alumni yang sudah lulus sekolah bertahun-tahun yang lalu, hal ini hanya jadi kenangan absurd yang tentu tak ingin diulang kembali. Hari-hari ujian dipenuhi oleh kesibukan mengisi otak hingga penuh. Ya, mengisi otak dengan banyak teori, rumus-rumus serta hafalan pelajaran.

Isi otak tersebut harus dipertahankan hingga lembar ujian terisi penuh dan sudah diberikan kepada pengawas ujian. Lalu, wusss… ingatan akan semua pelajaran tersebut seolah sirna begitu kamu melangkah keluar dari ruang ujian. Ironis. Tetapi memang itulah kenyataannya. Ujian atau ulangan di sekolah sekadar jadi tes daya ingat saja. Sementara urusan kreativitas justru kian tumpul karena otak lebih sering digunakan untuk menjejalkan hafalan.

Porsi Pelajaran Keterampilan yang Sangat Sedikit

 

Sumber :
MemeCenter.com

Mayoritas pelajaran yang diberikan di sekolah adalah ilmu-ilmu teoritis. Ilmu-ilmu tentang bagaimana rumus sinus cosinus harus dipecahkan, mengenai tata cara pilkada yang patut dihafalkan atau perihal cara menulis surat resmi dengan bahasa baku. Tak banyak penyelenggara pendidikan yang ingat bahwa hidup yang sesungguhnya di dunia nyata justru tidak terlalu butuh ilmu-ilmu teoritis.

Bukan tidak dibutuhkan, melainkan tidak terlalu dibutuhkan. Alangkah lebih baik jika ilmu-ilmu teoritis digunakan untuk mendukung keterampilan sesungguhnya. Keterampilan mengenai cara berkomunikasi yang sopan, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga hingga cara berbisnis yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Tidak ada lagi soal-soal tentang “temukan nilai X” atau “buktikan kebenaran tentang persamaan di bawah ini” dalam kehidupan nyata. Hal ini tentu patut dipahami oleh generasi muda sejak duduk di bangku sekolah. Agar nantinya murid-murid tidak terlalu terkejut kala harus memasuki kehidupan nyata yang sesungguhnya.


Betapa senangnya bila punya murid yang prinsip hidupnya “tidak suka bukan berarti tidak bisa”. Sebab murid seperti ini biasanya akan bertekad menyelesaikan pendidikan dengan baik biarpun ia tidak menyukainya. Namun murid dengan karakter ini jelas langka bak satwa endemik yang hampir punah. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban para penyelenggara pendidikan di Indonesia untuk memperbaiki sistem pengajaran di sekolah. Jelas tidak ada yang lebih baik selain senantiasa memantaskan diri.










2 komentar:

  1. it's true mbak, dan mari kembangkan pedidikan alternatif ala kita :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting pendidikannya bisa diterima dengan baik sama anak-anak ya, Mbak. Jadi anak-anak gak sekadar membeo atau ngikutin buku cetak aja deh ;)

      Hapus

 
Copyright©Melisa