Memoar, Opini, Kata Hati

Minggu, 23 Juli 2017

Kepiting atau Cumi-Cumi, Manakah Pilihanmu?




Kepiting dan cumi-cumi memang sama-sama hewan laut. Keduanya mudah ditemukan di restoran seafood dan pusat pelelangan ikan. Di balik hal sederhana tersebut, ada pesan penting yang ingin disampaikan kepada kita. Iya. Coba kamu ingat-ingat apa perbedaan kepiting dan cumi-cumi. Perbedaannya bukan hanya dari segi filum saja, melainkan juga dari cara bertahan hidup. Kepiting dan cumi-cumi punya “perangai” yang berbeda, yang selanjutnya akan jadi bahan pembelajaran bagi kita.

Si Kepiting yang Pemarah

Yuk simak dulu video singkat berikut ini:



Terbukti kan kalau kepiting memang hewan yang pemarah. Saat diusik dengan sepotong ranting kecil, kepiting yang sedang membenamkan diri di pasir langsung merasa terganggu. Salah satu capitnya berusaha meraih ranting kecil itu. Dia tak mau melepaskan capit dari ranting itu walaupun si pemegang ranting sudah mulai berhasil menariknya keluar dari lubang. 

Bahkan hal yang sama kembali terulang saat si pemegang ranting menggoda kepiting untuk kedua kalinya. Alhasil, kepiting pemarah itu pun berhasil diangkat sampai ke permukaan pasir. Hanya bermodalkan sepotong ranting kecil.

Bila emosi kita mudah tersulut karena hal-hal kecil, kita tak ada bedanya dengan kepiting. Emosi yang berubah menjadi kemarahan akan merugikan diri kita sendiri. Sebab orang yang memancing emosi kita akan merasa berhasil dan bisa langsung melaksanakan niat-niat buruknya. Kemarahan akan membuat kita gelap mata. Akal sehat pun akan hilang untuk sementara waktu. Seperti halnya kepiting yang tak sadar dirinya akan ditangkap karena dia terlalu marah pada ranting kecil yang mengusiknya.

Cumi-Cumi yang Cerdik dan Tenang

Selain video tentang kepiting, ada satu video lagi yang juga harus disimak:


Cumi-cumi memang tampak lebih lemah dari kepiting. Tubuhnya lembek. Cuma punya 10 tentakel. Tak punya capit yang kuat dan tajam. Namun kegigihannya dalam mempertahankan hidup jauh lebih hebat dibandingkan kepiting. Sewaktu bertemu predator yang jaraknya masih cukup jauh, dia akan mengerahkan kekuatan otot tentakelnya untuk melarikan diri. Tetapi kalau predatornya sudah dekat, dia akan menyemprotkan tinta. Supaya pandangan sang predator terganggu dan dia pun sempat melarikan diri.

Coba lihat lagi video cumi-cumi itu. Saat berdekatan dengan predator, cumi-cumi lekas menyemburkan tinta pekat. Berharap sembari berusaha. Barangkali masih ada kesempatan untuk kabur dari incaran ikan lain. Tak perlu bergerak cepat tanpa terkendali. Sebab gerakan demi gerakan hanya membuat predator semakin agresif. Cara meloloskan diri mesti dipikirkan secara cermat dan tenang. Sehingga hasilnya sesuai dengan harapan.


Aku harap kalian meneladani cumi-cumi. Eh, bukan. Aku tahu kalian pasti jadi cumi-cumi. Bukan jadi kepiting yang mudah marah dan malah lengah.

Dia yang memegang ranting kecil itu sedang berusaha menyulut emosimu. Selalu ada cara untuk bebas dari jeratannya. Asalkan kamu mau berusaha tanpa kenal kata menyerah. Percayalah bahwa nanti ada waktunya dia akan lelah dan pergi. Sebab semesta punya cara-cara tak terduga untuk menyelamatkanmu. Masih ingat kan semua pertolongan yang selama ini hadir tepat pada waktunya?


Tantangan demi tantangan datang silih berganti. Bagaikan badai besar yang tak kunjung mereda. Kemarahan hanya akan membuahkan tindakan keliru dalam mengambil keputusan. Sampai akhirnya penyesalan datang saat semua hal tak sempat diubah lagi.

Jangan membuat keputusan saat sedang senang, sedih, marah, sakit, atau tersakiti. Jangan terkecoh dengan keadaan yang tampak tenang seperti tak berombak. Kepiting dan cumi-cumi tak pernah bisa memprediksi waktu kedatangan predator atau pemancing. Hanya satu yang bisa mereka lakukan, yaitu berusaha mempertahankan hidup dengan caranya sendiri.


Aku tak bisa banyak membantu. Tetapi ada satu yang perlu kalian tahu. Bahwa doa-doaku tak pernah sedetik pun lalai mengikuti langkah kalian. 

You’d never be alone. 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa