Tips Menjadi Guru BK yang Ideal Bagi Murid


“Jadi guru BK (Bimbingan Konseling) sih gampang, Tinggal ceramah aja, digaji pula.”
Ups, nyatanya menjadi guru BK tidak segampang itu lo. Kalau cuma cuap-cuap, guru bidang studi lainnya pasti bisa. Keberadaan guru BK ibarat psikolog di dunia sekolah yang keras (uhuk). Contoh guru BK yang gak ada gunanya memang banyak. Jadi, langka sekali bila bisa memiliki guru BK yang perannya sangat ideal.

Bagaimana caranya menjadi guru BK yang profesional dan ideal bagi para murid?

Menata Ruang BK Agar Nyaman

Dari dulu, ruang BK identik dengan stigma “pengadilan” bagi murid yang bermasalah. Stigma tersebut harus benar-benar diubah agar murid merasa nyaman masuk ke ruang BK. Bereskanlah ruang BK secara menyeluruh. Singkirkan barang-barang yang tidak digunakan supaya tidak menimbulkan kesan sempit. Bersihkan seisi ruangan dan siapkan kursi yang nyaman di dalamnya.
Tak ada salahnya juga bila ruang BK dilengkapi pengharum ruangan, tisu, permen, dan benda-benda sederhana lainnya. Iya, murid yang meluapkan isi hati bisa saja menangis tersedu-sedu saat berbicara dengan guru BK. Sehingga tisu sangat dibutuhkan di ruang BK. Hal-hal sederhana tersebut akan membuat murid merasa nyaman dan lebih rileks ketika memasuki ruang BK.

Jadilah Pendengar yang Baik 

Seorang guru BK harus menempatkan diri sebagai pendengar yang baik. Pada dasarnya, mendengarkan memang menjadi tujuan utama bimbingan konseling di sekolah. Semua murid yang sedang bermasalah, bingung, atau resah membutuhkan pendengar untuk mencurahkan isi hati. Sering kali seseorang yang sedang bermasalah atau menanggung beban berat hanya perlu didengarkan. Karena hal tersebut sudah cukup membuatnya merasa lega usai berkeluh kesah.

Jangan Memperlakukan Mereka seperti Anak Kecil

Tak ada orang yang suka diperlakukan seperti anak kecil. Terutama murid SMP atau SMA yang sudah beranjak remaja. Ketika mereka ingin curhat atau mengeluh, dengarkan curhat tersebut dengan seksama. Jangan memperlakukan mereka seperti anak kecil dengan cara memarahi atau bersikap terlalu menggurui.
Masa remaja adalah tahap beradaptasi dan belajar mengelola emosi. Bila dimarahi atau terlalu digurui, seorang remaja malah akan merasa insecure dan rentan memberontak. Jadi, perlakukanlah murid sebagai seorang sahabat yang sedang ingin didengarkan.

Meminimalkan Kontak Fisik

Mayoritas murid yang beranjak remaja tidak terlalu menyukai kontak fisik. Meskipun kontak fisik tersebut dimaksudkan sebagai bentuk dukungan (misalnya mengelus rambut, memegang tangan, atau merangkul). Orientasi seksual murid sudah mulai matang ketika masa remaja. Jadi, meminimalkan kontak fisik adalah pilihan terbaik untuk membuat mereka tetap nyaman. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan sebagai pengganti, misalnya menatap dalam-dalam atau tersenyum lembut.

Menasihati Tanpa Menggurui

Meskipun harus menempatkan diri sebagai sahabat, guru BK tetap berkewajiban memberikan nasihat kepada murid-muridnya. Guru BK patut melakukan pendekatan personal secara intensif kepada setiap muridnya. Karena setiap murid pasti memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Jika sudah mengenal kepribadian murid secara mendalam, seorang guru BK bisa menentukan nasihat yang tepat untuk murid tersebut. Agar sang murid mau menerima nasihat dengan lapang dada demi menyelesaikan masalah-masalahnya.

Menjadi Fasilitator yang Efektif

Salah satu masalah besar yang kerap dialami murid-murid adalah hambatan penerimaan materi pelajaran di kelas. Jika murid tidak mampu memahami materi pelajaran, bukan berarti murid itu bodoh. Apalagi bila lebih dari separuh murid di kelas mengeluhkan hal yang sama. Kemungkinan besar kesalahannya terletak pada gaya mengajar guru mata pelajaran tersebut.
Guru BK sering merasa serba salah menghadapi persoalan tersebut. Rasanya mustahil menegur rekan kerja sendiri karena keluh kesah murid-murid. Padahal, guru BK memang harus menjalankan kewajiban sebagai seorang fasilitator. Sehingga Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dapat berlangsung secara efektif. Guru bisa menyampaikan materi pelajaran sampai tuntas dan murid bisa memahami materi pelajaran tersebut dengan baik.
Belum lagi masalah-masalah lainnya yang bikin murid jadi enggan belajar di kelas.

“Males sama Bapak X, Bu. Orangnya genit suka pegang-pegang anak cewek.”
“Kalo sama Ibu Y kita pasti disalahin terus, Bu. Orangnya baik kalau ada maunya aja.”
Memang butuh keberanian besar untuk menjadi guru BK yang berfungsi sebagai fasilitator secara maksimal. Karena seorang guru BK yang baik tak hanya mampu menangani murid-muridnya. Tetapi juga mampu memperbaiki hubungan antara murid-murid dan guru lainnya di sekolah.

Memberikan Motivasi yang Bersifat Konkret

Murid-murid di zaman modern ini tak suka mendengarkan ceramah gurunya terlalu lama. Apalagi bila isi ceramahnya berupa nasihat yang sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Alangkah lebih baik jika seorang guru BK memberikan motivasi yang bersifat konkret. Motivasi sederhana yang berasal dari video-video inspiratif bisa menjadi salah satu solusinya. Selain itu, guru BK juga bisa bekerja sama dengan para alumni sekolah untuk membuat sesi khusus. Sehingga para alumni bisa berbagi kisah seru seputar kehidupan masa sekolah dan kesuksesan kerja atau bisnis yang berhasil diraih.

Ketujuh tips ini kutulis karena terinspirasi darimu. Aku tahu kamu sudah berusaha walaupun sebenarnya ini bukan bidangmu. Suatu saat nanti kamu pasti akan tersenyum bersama semua murid kesayanganmu. Menjadi kamu memang tidak mudah. Oleh sebab itu, aku telah mempelajari banyak hal dari ketidakmudahan itu. Sekolah masih sangat membutuhkanmu. Kumohon jangan menyerah dulu. Masih banyak niat-niat mulia yang menunggumu mewujudkannya.





2 comments

  1. keren ni tips nya dan sepertinya bukan cm buat guru BK tapi buat semua guru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Bunda. Semoga ulasannya bermanfaat ya :)

      Delete