Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 13 Februari 2016

Selisih Paham, Karena Guru Juga Manusia



Pernah mengalami selisih paham?
Pasti pernahlah, ya. Seenggak pernahnya pun, pasti pernah mengalami selisih paham yang tidak disadari. Selisih paham juga bisa terjadi di kalangan guru. Iya, guru.


Gurumu Juga Manusia Biasa Lho

Dari luar mungkin kita melihat mereka sebagai pribadi yang biasa-biasa saja. Kompak mendidik murid-murid dan menjunjung tinggi persatuan di ruang guru. Tetapi pada kenyataannya, sebagai manusia biasa ternyata guru juga dapat mengalami benturan-benturan kecil dengan sesama rekan kerja.

Ada satu istilah menarik yang pernah diungkapkan seorang guru senior. Guru tersebut berujar bahwasanya ada sesuatu yang menyebabkan frekuensinya dan salah seorang rekan kerjanya tidak pernah tune-in. Ah, semacam mau siaran radio saja. Singkatnya, sungguh sulit sekali untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan si dia. Hubungan sebagai rekan kerja tentu berjalan biasa saja. Tetapi tidak pernah bertambah “intim” atau akrab karena ada sesuatu yang terasa menghalangi.

Bisa Terjadi Karena Perbedaan Prinsip

Banyak sekali hal yang bisa mendasari dua frekuensi yang kurang tune-in satu sama lain. Mulai dari perbedaan prinsip dalam mendidik murid, perbedaan gaya bercanda atau memang atmosfer pergaulan yang berlainan. Sebab ada guru yang karakternya gemar bercanda dan bersosialisasi namun tak sedikit pula yang larut dalam kepentingannya sendiri.

Fenomena yang satu ini memang unik sekali. Di hadapan murid-murid atau orangtua murid, mereka semua tampak baik-baik saja. Komunikasi pun terjalin seperti biasa saban hari. Bukan marah lantas diam-diaman sepanjang segala abad.

Bila diumpamakan seperti sebuah kelas di sekolah, seorang murid tentu tidak dapat menjalin hubungan yang sangat akrab dengan semua teman sekelasnya. Murid tersebut pasti punya segelintir teman akrab, sementara ada pula teman yang chemistry-nya terasa sangat kurang dan “gak pernah nyambung”. 

Jangankan bisa nyambung, melihat deretan giginya ketika dia tertawa saja rasanya sudah menyebalkan. Kok kesannya jahat banget, ya.

Cara Mengatasi Kendala Frekuensi yang Tidak Tune-In

Profesionalitas adalah kunci utama bagi setiap pengambilan sikap yang tepat di sekolah. Berat banget sih bahasanya. Intinya, bersikap profesional dan menjunjung tinggi kepentingan lembaga pendidikan sebagai pencapaian nomor satu. Karena meski kedekatan hati tidak pernah bisa dijalin dengan rekan kerja tertentu, tetap ada lembaga pendidikan yang menjadi pemersatu.

Selama sikap profesionalitas itu tetap ada, niscaya seorang guru mampu mengesampingkan ego pribadinya ketika bekerja di sekolah. Kabar buruknya, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan hati semua orang. Sementara kabar baiknya, kita memang tidak perlu melakukan hal tersebut.

Cukup menjadi diri sendiri dan beradaptasi dengan lingkungan di sekitar kita. Bagaikan air dengan minyak, satu sama lain sebaiknya menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Tanpa perlu saling menyindir, tanpa perlu saling mengusik.


Tulisan ini ditulis pada 13 Januari 2016. Terinspirasi dari ketidaksengajaan mendengar percakapan di mobil sehari yang lalu. Ketika mendung yang pekat menaungi langit Pademangan.









3 komentar:

  1. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang guru tidak tune dengan siswa, faktor dari dalam diri guru sendiri, dari murid, maupun faktor eksternal lainnya (you name it). But by far, tulisan ini sudah bisa mewakili. Intinya sih kedua belah pihak belajar untuk komunikasi yang baik :D

    Salam kenal btw

    BalasHapus
  2. Betul sekali, Pak Guru :D
    banyak fenomena menarik ya kalo membahas tentang dunia pendidikan.
    Salam kenal, saya juga masih terus belajar menulis dan menganalisis dunia pendidikan yang menarik :)

    BalasHapus
  3. Salah satu kisah mengenai gagal paham antara guru dan peserta didik :) http://tulisanjaw.blogspot.com/2016/03/gagal-paham.html

    BalasHapus

 
Copyright©Melisa