Memoar, Opini, Kata Hati

Minggu, 08 Mei 2016

Menyapu Lantai Kotor Harus dengan Sapu yang Bersih




Hal ini sepele. Tetapi patut dipahami oleh semua orang. Tidak ada gunanya mencoba menyapu lantai kotor dengan sapu yang kotor. Karena orang yang mencoba membersihkan hanya akan merasa lelah ketika menggunakan sapu yang kotor. Sementara hasil yang didapat cuma sia-sia belaka.

Ini bukan hanya berlaku di bidang politik dan pemerintahan. Karena hal tersebut juga ada di dunia pendidikan Indonesia selama puluhan tahun. Lihat saja bagaimana kesejahteraan guru yang bertugas di daerah pedalaman malah kian menyedihkan dari hari ke hari. Kisaran dana pendidikan yang dianggarkan sebenarnya tidak sedikit. Namun entah dana itu lari ke mana, sungguh tidak tepat sasaran.


Problematika Yayasan Pendidikan Swasta

 

Serupa tapi tak sama. Sejumlah yayasan pendidikan swasta di Indonesia juga memiliki permasalahannya sendiri. Perihal kesewenang-wenangan pengelola yayasan bukan lagi cerita baru. Melainkan hanya cerita klasik yang dibungkus oleh intrik-intrik seru. Mungkin bisa dibilang mirip dengan sinetron. Ada sosok yang teraniaya, dan ada yang berjaya selama puluhan tahun.

Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh guru di sekolah swasta jika sudah menyangkut urusan dengan pihak yayasan. Belum lagi kalau peraturan umum kepegawaian yang sudah ditetapkan seakan jadi pembenaran sahih bagi tindak tanduk yayasan. Tetapi jangan sedih dulu. Selalu ada secercah harapan. Meskipun harus menunggu hingga puluhan tahun sampai keadaan bertambah parah.

Pemimpin Baru Butuh Dukungan dari Orang-Orang di Sekitarnya

 

Tongkat kekuasaan pemimpin baru tak ada gunanya jika tidak mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya. Tentu saja yang dimaksud adalah dukungan dari guru-guru yang siap memberantas ketidakadilan. Ada banyak hal yang harus diperbaiki dari sebuah yayasan sekolah swasta, termasuk Peraturan Umum Kepegawaian (PUK) lama yang isinya bertentangan dengan kesejahteraan guru dan kemajuan zaman.

“Sapu yang bersih” ini pasti sudah menunggu lama untuk membersihkan lantai kotor. Lama sekali mendekam di pojok ruangan. Ketika tiba waktunya, maka ia akan menunjukkan bahwa membersihkan lantai yang kotor selama puluhan tahun bukanlah sesuatu yang mustahil. Sang pemimpin baru akan menjadikan sapu yang bersih sebagai rekan untuk membersihkan lantai kotor.




Perjuangan adalah proses tanpa akhir. Semoga sapu bersih itu tak pernah lelah membersihkan apa yang harus dibersihkan. Waktu yang berlalu pasti menggerogoti kekuatan helai-helai ijuknya. Tetapi penantian dan perjuangannya akan menjadi contoh bagi sapu-sapu baru berikutnya.

Selalu ada yang lebih baik di antara yang baik. Tetapi kebaikan demi kebaikan itu tidak bisa disampaikan jika tidak ada salah satu yang memulainya terlebih dahulu. Terima kasih sudah memberi semangat, kekuatan, dan inspirasi selama beberapa belas tahun ini, wahai sapu lama yang bersih.

Hwaiting, nae panjangnim!







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa