Memoar, Opini, Kata Hati

Jumat, 01 Juli 2016

Besar Kapal Besar Pula Gelombangnya





Kapal besar itu belum berangkat. Belum pula melepas sauh yang ditambatkan di bibir pantai. Tetapi aroma persaingan sengit sudah semakin terasa. Sebuah perselisihan panas antara kalian dan para penguasa. Pun halnya antara kalian dan para awak kapal yang punya perbedaan persepsi.

Tidak semua pihak senang hatinya karena kepemimpinan kalian. Beberapa tak pernah bosan menggerutu dan mengomentari kerja nakhoda dan pendampingnya. Sementara yang lainnya malah berteriak-teriak ingin menggerakkan kapal dengan caranya sendiri.

Awak kapal yang pernah berkesempatan menjadi nakhoda mungkin tidak sadar. Kalau ternyata caranya mengemudikan kapal dulu bukanlah cara terbaik. Bisa jadi dia terlalu lama menikmati empuknya kursi nakhoda. Berada di balik kemudi kapal selama beberapa tahun membuat dia lupa caranya jadi awak kapal kembali.



Nakhoda dan pendampingnya yang baru harus punya kesabaran seluas samudra. Kesabaran tak berkesudahan sewaktu menghadapi lika-liku dan tantangan dari awak kapal. Mengambil alih kemudi kapal dari sang mantan nakhoda mesti pelan-pelan. Supaya sang mantan nakhoda tidak lantas murka dan menghentakkan kemudi ke sembarang arah. Hentakan kemudi tak tentu arah bisa membuat kapal kian terombang-ambing. Atau bahkan menabrak gunung es besar di tengah laut.

Injaklah gas dan rem pada waktu yang tepat. Supaya kapal tidak kehabisan bahan bakar atau diam terlalu lama di tengah lautan. Sambil menyeimbangkan gas dan rem, jangan lupa melempar pandangan ke segala penjuru. Sehingga bahaya yang makin mendekat bisa lekas dihindari.

Semua orang yang ada di kapal pasti menginginkan keselamatan perjalanan. Hingga akhirnya mendarat di tempat tujuan. Keselamatan itu bukan cuma perihal raga yang tampak bugar. Namun juga soal hati yang nyaman dan bahagia. Itulah yang menjadikan tugas nakhoda dan pendampingnya bertambah berat. Karena melayani hati nyatanya tidak semudah melayani raga.

Kelak pasti ada banyak konflik di tengah perjalanan. Yang akhirnya menyulut emosi dan mencabik-cabik ketegaran hati kalian. Hendaknya kalian, nakhoda dan pendampingnya, selalu saling menguatkan. Agar perjalanan mengarungi lautan tidak terganggu oleh riak-riak kecil maupun gelombang besar. Meski raga dan akal budi kalian sempat melemah, ingatlah selalu tentang mereka yang menghendaki keselamatan di bawah kendali kalian.




Ketika kalian berdua berhasil membawa kapal besar tersebut tepat ke tujuannya, maka saat itulah kalian mereguk manisnya keberhasilan. Kalian menjelma jadi sosok yang membuktikan pada dunia. Bahwa di tangan kalian, kapal yang sering oleng itu nyatanya mampu mengarungi badai.


Laut yang tenang tidak akan menciptakan nakhoda yang andal. Berjanjilah untuk bertahan. Setelah kalian mantap memutuskan untuk memegang kendali. Harapanku untuk bisa menatap senyum kemenangan kalian di seberang dermaga sana, semoga segera kalian kabulkan.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa