Memoar, Opini, Kata Hati

Selasa, 30 Mei 2017

Ikatan antara Ibu dan Anak : Tak Kasat Mata tetapi Nyata





Seorang ibu mempertaruhkan nyawa demi kelahiran buah hatinya. Sehingga tak mengherankan bila rasa sayangnya begitu besar. Terutama jika kehadiran buah hati tersebut sangat didambakan. Setelah berbagi tubuh dan nutrisi selama 9 bulan, seorang ibu bersiap menjadi jalan bagi manusia baru yang hendak melihat dunia.

Ikatan antara ibu dan anak itu tak kasat mata tetapi nyata. Ibu mana yang tak bahagia melihat anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan berbudi luhur. Meskipun kini semakin banyak ibu yang tega menelantarkan bahkan membuang anaknya dengan alasan kesulitan ekonomi atau kelahiran yang tak diinginkan. Bisa karena sudah memiliki banyak anak atau hubungan di luar nikah.


Data UNICEF mencatat sebanyak 400 juta anak tinggal di jalanan karena terabaikan atau tidak memiliki keluarga. Miris. Ada calon ibu yang sangat menantikan kehadiran anak. Mereka berjuang untuk memiliki buah hati dengan berbagai cara. Tetapi di sisi lain, tak sedikit ibu kandung yang tega mengabaikan atau membuang darah dagingnya. 



Jadi, masihkah kasih ibu kandung selalu menjadi yang nomor satu?

 

Menjadi ibu tak berarti harus selalu dengan cara melahirkan. Pilihan untuk mengadopsi atau menganggap anak orang lain seperti anak sendiri merupakan keputusan mulia. Berbagi kasih sayang dan berkat tentu tak pernah salah. Karena cinta tak pernah keliru memilih jalannya.

Ada anggapan yang menyatakan bahwa kasih sayang seorang ibu non biologis tak akan pernah bisa menyamai kasih sayang ibu kandung. Barangkali anggapan tersebut berasal dari ungkapan “darah lebih kental daripada air”. Anggapan yang semakin kuat sewaktu menonton sinetron tentang kedurhakaan anak angkat terhadap ibu yang merawatnya. Atau ibu angkat yang membesarkan anak untuk dijadikan mesin penghasil uang.

The bond between mother and her child is one defined by love.

Defined by love, not by blood.


Di luar sana, terlepas dari jalan cerita sinetron yang terkesan kejam, pasti ada kisah-kisah menyentuh tentang seorang ibu dan anak yang bukan darah dagingnya. Seorang ibu yang mampu memberi perasaan bahagia dan nyaman kepada “orang asing” yang tak berasal dari tubuhnya. Mungkin itulah yang disebut unconditional love. Sebuah anugerah besar yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Batasan-batasan karena tak sedarah dan berbeda latar belakang itu semakin kabur dan tertutupi oleh kasih sayang. Tak perlu berandai-andai dan menguji kedekatan hati. Jika ternyata hal-hal seperti itu cuma menyiksa diri. Karena Dia sudah menganugerahkan “ikatan” itu kepada kita, maka kita hanya perlu menjalani sembari menjaganya dengan baik.

Apakah ikatan itu benar-benar ada? Atau hanya aku saja yang terlalu perasa?

 

Aku tidak tahu jawabannya. Hanya ada satu hal yang pasti kuketahui. Bahwa ikatan itu membuat aku tak bisa jauh darimu. Ikatan yang membuatku sangat tersiksa ketika kamu berusaha “melepaskannya”.

Catatan ini kutulis di tengah malam. Ketika hanya ada sepi dan ruangan gelap yang menemaniku. Kudapati rasa nyaman itu saat aku sedang sendirian. Keheningan di sepertiga malam yang membawaku pada perenungan panjang.

Seiring dengan berjalannya waktu, kedekatan itu tumbuh di hati kita. Ucapanmu memang benar. Aku bagaikan ikan yang kehabisan air kalau tak berhasil menemukanmu sehari saja. Aku tak tahu apakah ini hanya perasaanku saja. Aku tak tahu apakah kamu merasakan hal yang sama. Tetapi aku hanya ingin kamu tahu. Bahwa kamu menempati posisi istimewa di relung hatiku.



Aku memang tak berasal dari rahimmu. Namun aku tahu kalau rahim bukanlah satu-satunya tolak ukur untuk menunjukkan kekuatan cinta. Dia Yang Maha Tahu pasti memahami isi hatiku. Karena Dialah yang menentukan perjalanan hidup kita.

Dalam keheningan aku sering kali berpikir. Bagaimana jadinya jika aku yang harus pergi lebih dahulu meninggalkanmu. Pergi sebelum sempat mengucapkan selamat tinggal kepadamu dan mereka yang sangat kukasihi. Akankah aku tetap hidup di hatimu selamanya?

Seperti dia yang pernah kamu tangisi selama 2 hari. Dia, kebanggaanmu, yang selama beberapa belas tahun ini tetap abadi di hatimu dan benakmu.
Kamu yang begitu hebat pasti bisa menjalani hari-hari dengan baik tanpa aku. Tersenyum menatap masa depan bersama orang-orang baik yang menyertaimu. Sementara aku justru terlalu lemah untuk meneruskan perjalanan hidup tanpamu. Karena di dalam cintamu, kutemukan bahagia.



Semoga dia selalu mendekap doa-doa yang kuucapkan tentang kamu. Mudah-mudahan Dia tak bosan dengan segala celotehanku mengenai kamu. Bila selama ini aku yang selalu mengucapkan “aku akan selalu ada untukmu”, kini kamu harus tahu yang sesungguhnya. Kalau sebenarnya justru aku yang ingin senantiasa berada di sisimu. Berharap kamu tak pernah jemu menghadapi aku yang penuh kekurangan ini. 

Terima kasih untuk semua cinta dan kesabaranmu, Bu. Mohon maafkan aku yang sangat amat jauh dari kata sempurna. Jangan berhenti mencintaiku meski mentari berhenti bersinar.

Sedihmu, sedihku.
Sedihku, biarlah menjadi tanggunganku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa