Memoar, Opini, Kata Hati

Selasa, 04 Juli 2017

Herder Pemberani dan Pom yang Lembut




Di sebuah rumah besar, tinggallah seekor anjing herder dan seekor anjing pom. Mereka dipelihara sejak masih bayi oleh pemiliknya. Keduanya merupakan anjing yang manis dan setia. Kendati demikian, herder dan pom memiliki karakter yang sangat berbeda. Herder memiliki jiwa pemberani, sedikit jahil, dan pandai mengenali tamu yang niatnya tak baik. Sementara pom justru sangat lembut, penurut, dan mudah akrab dengan tamu yang baru dikenalnya.

Hampir semua tamu yang berkunjung ke rumah itu menyukai si pom. Karena pom selalu bertingkah manis, tak peduli siapa pun tamu yang mengunjungi pemiliknya. Lain halnya dengan herder yang sedikit jahil. Dia sering menggoda tamu yang datang ke rumah. Ada yang digondol sepatunya, dijilati betisnya sampai lari tunggang langgang, atau dicakar dengan kukunya yang tajam. Saat bertemu orang yang berniat tak baik, sang herder tak segan untuk segera menggigit orang tersebut.

Sang pemilik merasa agak kewalahan dengan perilaku herder kesayangannya. Suatu hari, ia menasihati si herder secara keras.

“Kamu itu peliharaan yang pintar, setia, dan lucu. Tetapi tingkahmu kerap membuat tamu-tamuku jadi ketakutan. Seharusnya kamu bersikap lebih baik kepada semua orang yang datang. Supaya mereka merasa nyaman ketika bertamu ke sini. Kamu mengerti, kan?”

Mendengar perkataan pemiliknya, herder menjadi sangat sedih. Ia merasa bahwa tuannya itu membenci wataknya yang pemberani.

“Huh, dia tak tahu kalau aku hanya menggigit tamu yang berniat buruk. Sudahlah, mungkin aku harus diam saja. Menjadi penurut seperti si pom yang lembut,” gumam herder.


Suatu hari, sang pemilik rumah pergi berbelanja lebih lama dari biasanya. Hanya ada herder dan pom di dalam rumah. Di tengah suasana sepi tersebut, seorang pencuri yang menyelinap masuk rumah melalui jendela. Pom menghampiri pencuri tersebut dengan wajah bersahabat sembari menggoyang-goyangkan ekornya. Dia sangat kegirangan dan mengira si pencuri itu adalah orang baik yang bisa jadi teman barunya.

Melihat kejadian itu, herder cuma duduk termenung dengan wajah sedih. Dia tak ingin lagi mengganggu tamu yang datang ke rumah. Karena dia sudah kapok dimarahi oleh pemiliknya. Herder hanya pasrah melihat si pom mendekati pencuri yang baru saja masuk ke rumah.

Si pencuri yang tertegun melihat keindahan bulu pom lantas berpikir, “Ah, sepertinya aku tak perlu mencuri TV dan barang berharga lainnya yang berat. Anjing kecil ini ringan dan sangat cantik. Kalau dijual, harganya pasti mahal.”

Usai berpikir sejenak, pencuri bergegas meraih pom dengan kedua telapak tangannya. Tanpa perlawanan, si pom pun diangkat dan siap dibawa oleh pencuri. Tak lama kemudian, terdengar suara grendel pintu berderit. Nah, si pemilik rumah sudah pulang dan sedang membuka pintu.

Sang pemilik rumah sangat kaget melihat pencuri itu sudah menggendong anjing pomnya. Tangan kanannya meraih tongkat pemukul kasti yang terletak tak jauh dari pintu. Tanpa pikir panjang lagi, pencuri segera melepas pom dari tangannya dan keluar lewat jendela yang tadi sudah ia buka. Gerakannya cepat sekali sampai menghilang dari pandangan sebelum sempat dikejar.


Usai kejadian tersebut, pemilik rumah segera menghampiri dua anjing kesayangannya. Ia lantas membelai kepala herder sembari berujar,

“Aku memang menyuruhmu bersikap baik kepada semua orang yang datang. Namun bukan berarti kamu tak boleh waspada seperti biasa. Aku melarangmu untuk langsung menggigit orang, bukan melarangmu menggonggong. Suaramu yang lantang akan membuat pencuri ketakutan dan tak berani masuk ke rumah kita. Kamu juga tak rela kan kalau pom sampai diculik oleh pencuri itu?”

Tak cuma menasihati herder, pemilik rumah juga melakukan hal yang sama kepada pom.
“Sifatmu yang lembut dan penurut membuat banyak orang suka kepadamu. Tetapi jangan sampai sifat itu malah membuatmu lalai menjaga dirimu sendiri. Kalau kamu sudah terperangkap oleh tipu muslihat orang jahat, kami akan kesulitan untuk menyelamatkanmu.”

Pemilik rumah lalu memeluk dua anjing peliharaannya dan berkata dalam hati,
“Kalian berdua adalah kesayanganku. Peliharaan hebat dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mudah-mudahan kalian senantiasa saling melengkapi dan saling menjaga satu sama lain.”

Kalian yang Terus Berjuang, dengan Segala Kelebihan dan Kekurangan yang Ada.

 

 
 
Sejak aku mengenal kalian, aku tahu kalian selalu berusaha saling memahami dan melengkapi. Masalah demi masalah yang datang, semoga semakin menguatkan hati kalian. Jangan berkecil hati karena kekurangan pada diri sendiri. Masing-masing dari kalian sudah diberkahi dengan kelebihan yang istimewa. Hanya perlu menjadi diri sendiri yang lebih baik lagi dari hari ke hari.

Jangan menghiraukan mereka yang iri dengan kekompakan kalian. Karena kesetiaan dan perjuangan sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan kesungguhan hati kalian. Perpaduan kewaspadaan dan tindakan lemah lembut akan menghasilkan kekuatan luar biasa yang tak disangka-sangka. Jadi, herder dan pom kesayanganku sudah tahu kan strategi besar yang mesti diwujudkan di hari-hari berikutnya?

Salam,
Anak anjing nakal, kesayangan herder dan pom.
 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa