Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 15 Juli 2017

Karena Aku Berusaha Agar Telinga dan Hatiku Lebih Besar dari Mulutku





Kata orang, karakter itu tak hanya ditentukan oleh faktor genetik saja. Ada hal-hal lain yang tak kalah penting, salah satunya adalah pengalaman hidup dan lingkungan sekitar. Mungkin ada orang yang mewarisi gen ekstrovert dari orang tuanya. Tetapi karena pengaruh lingkungan sekitar dan pengalaman hidupnya, gen ekstrovert tersebut tidak menonjol. Hanya muncul di saat-saat tertentu dengan intensitas rendah.

Semua orang punya pengalaman hidup yang unik dan berbeda dengan orang lain. Pengalaman itu tentu memberikan pembelajaran berharga yang diterjemahkan dengan makna yang berbeda-beda. Meskipun ada dua orang yang mengalami suatu hal pada waktu, tempat, dan kondisi yang sama, penerimaan dan pelajaran yang diperoleh pasti akan tetap berbeda.


Aku tahu pengalaman hidupku belum banyak. Tak ada apa-apanya jika dibandingkan perjalanan hidup kalian. Namun aku tahu bahwa pengalaman-pengalaman itu punya andil besar dalam pembentukan karakter dalam diriku. Ada pengalaman pahit, banyak pula yang manis. Semua terjadi begitu saja seperti pilinan pada seutas tambang, silih berganti mengisi hari-hariku.

Aku Bukannya Tidak Percaya Kepadamu

Barangkali orang lain menilai aku sebagai pribadi yang tertutup. Ah, bukan hanya orang lain, kamu juga pasti berpikir begitu. Tanpa perlu kamu sampaikan kepadaku atau orang lain, aku sudah tahu tentang hal itu. Aku bukannya tidak percaya kepadamu. Kamu mengenalku sejak kecil. Aku yakin kamu sangat bijaksana bila harus memberikan penilaian tentang aku.

Bukankah semua orang punya kekurangan?
Karena tak ada yang sempurna, ketertutupan itu sudah pasti jadi salah satu kekuranganku. Sedari kecil, aku telah berusaha untuk menggantungkan harapan dan percaya kepada diriku sendiri.

Aku Terbiasa Menjadi Pendengar


Your ears
will never get you in trouble.

Aku merasa nyaman saat menempatkan diriku sebagai pendengar. Kendati aku bukan pendengar yang baik, tetapi aku terus berusaha melakukannya semampuku. Bagiku, tak masalah bila semua orang yang kukenal menceritakan keluh kesahnya kepadaku. Pasti aku tak dapat banyak membantu. Namun bukankah perasaan jadi lebih lega setelah mencurahkan semua isi hati?

Kenyamanan itu mahal. Aku merasa bahagia jika bisa memberikan kenyamanan itu untuk banyak orang, termasuk untukmu. Aku tak cukup bijak dan panjang akal untuk membantumu menuntaskan semua masalah. Cuma satu hal yang bisa kujanjikan. Telingaku pasti selalu bersedia mendengar saat kamu sudah tak kuasa menyimpan  lara di hatimu.

Aku Tahu Masalahmu Pun Tak Kalah Besar

 


Beban di pundakmu sangat besar. Kamu berusaha memikulnya sekuat tenaga dengan susah payah. Kalau saja sebagian beban itu bisa kamu pindahkan ke pundakku, pasti aku sudah menyuruhmu dari dulu. Sayang sekali, beban itu hanya bisa kau ceritakan dalam bentuk curahan hati saja. 

Tak akan kubiarkan ada seorang pun yang menambah bebanmu itu, termasuk diriku sendiri. Bawalah beban dan selesaikan tanggung jawabmu dengan tenang. Kamu juga tak perlu merisaukan bebanku. Kesulitanku biarlah menjadi tanggung jawabku sendiri.


Aku Tak Mau Kamu Ikut Sedih dan Terluka

Sifatku yang keras kepala telah membentuk satu prinsip yang kupegang teguh hingga saat ini. Bahwa aku tak akan membuat orang-orang yang kucintai merasa sedih dan terluka. Aku tak ingin kamu menangis saat melihatku memikul beban itu. Aku ingin menemuimu dengan wajah bahagia. Karena aku juga bahagia ketika melihatmu tersenyum dan tertawa.

Maafkan aku kalau sampai saat ini masih sering membuatmu menangis dan terluka. Aku tak pernah bermaksud begitu. Semoga kedekatan hati kita tak lagi membuatmu bersusah hati. Aku hanya ingin memohon satu permintaan saja. Tersenyumlah dan pastikan bahwa kamu tidak pernah jauh dariku.


Terima kasih banyak untuk semua cinta yang kamu berikan dalam kurang dan lebihku.
Yakinlah bahwa aku selalu baik-baik saja. Selalu di sampingmu.




 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa