Memoar, Opini, Kata Hati

Minggu, 06 Agustus 2017

3 (+2) Langkah Minta Maaf yang Benar dan Mewakili Ketulusan Hati





Saat seseorang melakukan kesalahan, minta maaf adalah hal yang wajar. Walaupun terdengar mudah, sebenarnya minta maaf tidak segampang teorinya. Tak sedikit hubungan yang rusak dan gagal diperbaiki hanya karena enggan minta maaf. Mulut seolah terkunci ketika harus mengucapkan dua kata tersebut. Sudah salah saja masih tidak mau minta maaf, apalagi kalau memang tidak salah. Ego pribadi letaknya terlalu tinggi untuk “menunduk” dan minta maaf.

Kadang-kadang kita minta maaf bukan karena melakukan kesalahan, melainkan karena tak ingin orang-orang yang kita sayangi pergi menjauh. Ada hal-hal yang membuat kita harus menurunkan ego. Dalam hidup, kita tidak selalu menang. Pemegang kunci atau pembuka jalan tak selalu jadi juaranya.


Bila sudah berniat minta maaf, lakukanlah sepenuh hati. Karena minta maaf itu susah, siapkan hati dan pikiran yang jernih. Lalu ikuti 3 (+2) langkah berikut ini:

I’m Sorry

“Maafkan aku.”
Hal pertama yang harus kita lakukan tentu saja mengucapkan “aku minta maaf”. Ucapan ini membuat niat minta maaf bisa disampaikan dengan sungguh-sungguh. Butuh jiwa besar dan kerendahan hati untuk mengucapkan kata maaf secara tulus. Jangan ragu melakukan hal ini meskipun suara mulai bergetar karena menahan luapan isi hati.

That’s My Fault

“Itu semua kesalahanku.”
Minta maaf saja rupanya belum cukup. Kita juga mesti menyampaikan bahwa kekeliruan yang terjadi adalah kesalahan kita. Kedengarannya memang sepele. Namun kenyataannya tak banyak orang yang menuturkan hal ini sewaktu minta maaf. Padahal ucapan ini adalah cara terbaik untuk mengakui kesalahan. Hati jadi lebih lega setelah mengucapkannya.

Tetapi bagaimana kalau bukan kita yang salah?
Mudah saja. Kita tidak perlu sok merasa bersalah kalau memang bukan kita yang melakukannya. Masih ada lain hari untuk menjelaskan tentang permasalahan ini setelah pikiran sama-sama jernih. Bila tidak bersalah, lanjutkan saja ke langkah berikutnya.

What can I do to make it right?

“Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan?”
Kita tidak sedang menghadapi Tuhan Yang Maha Tahu. Jadi, niat untuk memperbaiki keadaan harus kita sampaikan dengan jelas. Minta maaf memang tak cukup dengan kata maaf saja. Harus ada aksi yang dilakukan demi memperbaiki keadaan. Kalimat ini menunjukkan iktikad baik yang akan kita lakukan. Orang hebat tentu tak segan melakukan banyak hal demi memperbaiki keadaan yang sempat kacau. Percayalah bahwa minta maaf akan jauh lebih bermakna bila dibarengi dengan tindakan nyata.

(I promise that…)

“Aku janji kalau nanti aku …”
Kenapa kalimat keempat ini diletakkan dalam tanda kurung?
Karena langkah keempat dan kelima tidak perlu kita ucapkan sewaktu minta maaf. Simpan janji itu dalam hati. Simpan baik-baik dan jangan pernah melupakannya. Janji yang sudah diberikan kepada orang lain kerap jadi sumber kekecewaan jika tak bisa ditepati. Berjanji kepada diri sendiri setelah minta maaf adalah salah satu cara paling bijak untuk memperbaiki diri. Semoga janji-janji itu tetap terkenang dan tak membuat kita mengulangi kesalahan yang sama. 

(I will be a better person for you.)
Semua orang pasti ingin membahagiakan orang yang disayangi, demikian pula halnya dengan kita. Nyatanya, orang-orang yang kita sayangi sudah cukup berbahagia dengan kehadiran kita. Namun kita ingin melengkapi kebahagiaannya dengan hal-hal baru yang lebih baik lagi. Jadilah menjadi pribadi yang lebih baik setelah melakukan kesalahan. Metamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik adalah wujud permohonan maaf yang sesungguhnya.


 
Tak terhitung lagi kata maaf yang belum sempat kusampaikan kepadamu.
Maaf sering membuatmu gelisah.
Maaf jika aku selalu terkesan menggurui.
Maaf karena aku mungkin pernah tidak adil terhadapmu dan dia.
Maaf atas ketertutupanku yang membuatmu khawatir.
Maaf untuk semua air mata yang kau tumpahkan saat memikirkanku.
Maaf untuk semua beban yang kau tanggung sampai kamu sering berucap bahwa kamu bertahan “demi aku”.
Maaf belum bisa menjadi anak yang baik untukmu.
Dan maaf-maaf lainnya yang tak pernah kusebutkan dalam setiap percakapan kita.


Itu semua kesalahanku.
Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki keadaan?

Barangkali aku tak akan memberitahukan tulisan ini kepadamu. Biar kamu menemukannya sendiri. Biar hatiku yang memberi isyarat kepadamu. Mudah-mudahan kamu menerima permintaan maafku. Semoga kamu selalu bahagia menjalani tugasmu. Ketika merasa lelah dan putus asa, menolehlah ke belakang. Ada aku yang akan selalu mengikutimu.  










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa