Memoar, Opini, Kata Hati

Rabu, 13 September 2017

Definisi Bahagia





Ada yang aneh kalau aku jalan-jalan sendirian?

Aku menemukan banyak hal yang tak kudapatkan ketika aku bersama dengan orang lain. Kadang-kadang aku berjalan kaki. Menyelaraskan langkah dengan alunan musik yang hanya terdengar di telingaku. Banyak yang terpikirkan saat sedang sendirian. Bisa tentang diri sendiri atau tentang keajaiban demi keajaiban yang tercipta di antara kita. Kini aku berkesempatan langsung menuliskannya sembari duduk di salah satu sudut kedai kopi. Secangkir ice americano yang gelasnya sudah berembun masih setia menemaniku.


Hal-hal yang telah kita lalui selama ini sudah memberikan banyak pelajaran berharga. Bahwa kita saling terikat, terhubung, dan bergantung satu sama lain. Barangkali aku masih menjadi pribadi yang susah berterus terang. Paling tidak, aku tahu betapa hangatnya perasaan saat memiliki keluarga bahagia. Seperti penggalan lagu yang menemaniku saat menuangkan isi hati ini.

Hatiku hilang di dasar samudera cinta.
Kutemukan kembali saat kau menyinari hidupku.
Bagiku, kaulah yang membuat dunia indah.
Mewarnai hari-hariku, menerangi malam gelapku, sempurnalah jiwaku, bahagia bersamamu.

Apa yang belum atau tak pernah terucap lewat bibirku, semoga kamu memahaminya. Sedikit pun aku tak bermaksud membuatmu merasa serba salah. Kamu masih sosok yang dulu. Sosok yang melengkapi kekurangan-kekurangan pada masa kecilku. Kamu pasti lupa soal hal itu. Namun kenangan-kenangan indah itu akan selalu mengiringi langkahku. Sungguh besar dosaku bila aku menempatkanmu di posisi yang sulit. 

Bila aku acap kali tak paham, tolong jelaskan kepadaku dengan penuh kesabaran. Mohon jangan biarkan aku berada dalam kebingungan. Mungkin kamu tak lega atau tak mendapatkan solusi setelah mencurahkan isi hatimu. Tetapi justru cerita-cerita itu akan membuatku sedikit lega. Setidaknya aku mengetahui keadaanmu. Berkabarlah supaya aku tak risau. Aku pandai bersandiwara di hadapan orang lain. Karena keresahan-keresahan tentangmu biasanya kusimpan sendiri. Namun untuk urusan membohongi perasaanku sendiri, aku belum menguasainya.

Kamu pernah bilang bahwa mungkin lebih baik jika kamu tidak pernah bertemu dengan aku. Kamu bilang aku membebani langkahmu. Menghalangi keinginanmu untuk berlari lepas. Jika memang begitu susahnya bagimu, aku cuma bisa menyampaikan kata maaf lewat tulisan ini. 


Lantas bagaimana dengan keinginanku?
Bila aku diperbolehkan untuk mengulangi hidupku sekali lagi, aku pasti ingin sekali kembali bertemu denganmu. Menjalani takdir persis seperti yang sudah kita lewati hingga detik ini. Sebab salah satu definisi bahagiaku adalah kalian, yaitu kamu dan mereka. Warna-warni hidupku kian lengkap dengan kehadiran kalian.


Sekian dulu, ya. Jengah rasanya jikalau air mata bercucuran di tempat umum seperti ini. Terima kasih sudah menemaniku dari kejauhan ketika aku mencurahkan isi hati ini secara tertulis. Inilah pertama kalinya aku membuat satu tulisan utuh tentang kita saat aku sendirian di tempat umum. Terima kasih telah memberikan banyak pelajaran hidup dan membuatku tak pernah merasa kesepian. Kesempatan-kesempatan yang kumiliki untuk membahagiakanmu atau sekadar membantumu pasti tak akan aku sia-siakan.



Jika hujan, aku tak akan memberimu jaket.
Sebab jika aku sakit, lalu siapa yang akan menjagamu?
-Dilan-











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa