Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 20 Agustus 2016

Karena Matahari Tidak Boleh Ada Dua





Aku bisa merasakan tanda-tanda kecil itu. Beberapa tanda yang tampak ketika kamu dan dia sedang tidak enak hati. Kurasa kamu dan dia memang harus mahir menata hati. Karena tugas-tugas besar ini bisa meluluhlantakkan kenyamanan hati kalian di saat yang tidak terduga.

Kamu lebih sering memilih diam sewaktu menghadapi terpaan badai masalah. Kalimat-kalimatmu dalam percakapan kita menjadi singkat. Hal semacam ini sungguh tidak lazim aku temui darimu. Sebab biasanya kita bercakap-cakap lama dan panjang sekali. Bahkan pernah hingga berjam-jam lamanya. Tetapi aku paham gejolak suasana hatimu. Aku, yang tak segan melontarkan candaan atau beradu pendapat denganmu, akan berusaha membiarkanmu menata puing-puing hati yang berserakan.

Lain kamu, lain pula halnya dengan dia. Saat dia sedang semenjana saja, obrolanku dengannya berkisar tentang senda gurau. Tak jarang aku dan dia bertukar informasi tentang aktivitas yang sedang dilakukan. Namun ketika ada ketidaknyamanan yang mengusik kelembutan hatinya, maka ia pasti akan memunculkan gejala-gejala ini.


Dia akan mengetik percakapan daring itu panjang sekali. Kurang lebih 15 sampai 20 menit aku menunggunya selesai melampiaskan isi hati. Seandainya dia mengungkapkan makian pun aku tak bakal protes. Asalkan beban hatinya menjadi ringan. Tetapi hatinya masih terlalu lembut untuk bisa mengungkapkan sumpah serapah melalui layar gawainya.



Kalian adalah matahariku yang selalu memancarkan cahaya cinta dan ketulusan secara bergantian. Cahaya yang kekuatannya sangat dahsyat dan istimewa. Sebuah kekuatan yang puluhan tahun belakangan ini menghasilkan bibit-bibit unggul nan luar biasa. Tak ada harapan muluk-muluk yang kuinginkan dari matahariku. Selain keinginan untuk melihat matahariku senantiasa tersenyum dan bergairah memancarkan cahaya terbaiknya.

Karena matahari tidak boleh ada dua, aku yakin jikalau kamu dan dia akan berbagi peran yang sama besar. Salah seorang di antara kalian tentu memilih menjadi bulan yang meredup sejenak saat seorang lainnya tengah bertindak sebagai matahari. Kala emosi itu tengah meradang laksana sengatan panas matahari, maka salah satu dari kalian pasti terampil menjadi penyejuk suasana.

Bersinarlah bergiliran setiap hari. Penuhi dunia kalian dengan cahaya cinta dan ketulusan. Sebuah bentuk cahaya istimewa yang sudah lama kukenal. Sesulit apa pun hari-hari kalian, kuharap kalian senantiasa sehat, kompak, dan berbahagia.

Izinkan aku menjadi bintang kecil kesayangan kalian. Bintang kecil yang tak pernah jemu mengagumi sorot cahaya kalian meski hanya dari kejauhan.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa