Memoar, Opini, Kata Hati

Rabu, 06 September 2017

Untukmu yang Mengenalkan Secangkir Americano Kepadaku





Aku masih ingat betul. Empat tahun lalu, kau bilang kepadaku bahwa kau menyukai secangkir americano. Kopi hitam dengan semburat rasa pahit dan aroma kuat itu senantiasa menemani hari-harimu. Sejak itulah secangkir americano selalu mengingatkanku akan dirimu. 

Hari-hariku waktu itu jadi lebih berwarna karena kehadiranmu. Walaupun kita jarang bercakap-cakap. Hanya sesekali melempar pandang satu sama lain ketika bertemu. Tak banyak waktu untuk berbagi cerita lisan. Namun obrolan-obrolan hangat di antara aku dan kau pernah menjadi pembuka harapan bagiku.



Satu hal yang ingin kukatakan hari ini, bahwa sebenarnya aku tak pernah berharap muluk-muluk darimu. Aku tahu kita berbeda. Rasanya jarak itu terlalu jauh untuk diseberangi. Begitu berat bagiku bila harus berada di posisi yang sama denganmu. Kau seperti dekat tetapi jauh dariku. Sesuatu yang tampaknya tak akan pernah bisa kugapai. Bahkan ketika kau bilang bahwa aku harus menunggumu pulang dari negeri nun jauh di sana.

Apakah aku salah karena tak berani berjanji kepadamu?

Bagiku, janji adalah sebuah hal besar. Sebuah utang yang nanti harus kutunaikan sebaik mungkin. Hati yang tak pernah salah menilai pasti peka sebelum membuat sebuah janji. Supaya janji itu tak sekadar jadi bualan tanpa makna. Nyatanya, jarak dan waktu itu sudah membuktikan kepada kita. Janji itu tak kita butuhkan sebab pada akhirnya kita semakin menjauh. Sibuk dengan jalan hidup masing-masing kemudian melupakan sedikit kenangan manis yang pernah ada.

Sekarang, aku suka americano. Segelas besar americano dengan tambahan es dan gula cair secukupnya. Biarkan hatiku dingin bagaikan segelas americano yang kelihatan hitam pekat. Namun ketika diseruput, ada sensasi manis yang tertinggal di pangkal lidah. Aku yang tak suka basa-basi dan bermanis-manis ini memang cocok dengan es americano, kan?
 


Kini aku kerap duduk sendirian di sudut ruangan dengan satu unit laptop dan segelas es americano di atas meja. Kadang kala kubiarkan es americano itu pahit karena aku malas beringsut mengambil gula cair. Supaya aku tetap ingat bahwa hidup tak selalu manis. Kadang kala ada rasa pahit dari harapan yang tak sesuai kenyataan. Tak jarang pula pahit itu berasal dari ketidakmampuan membahagiakan orang-orang yang kusayangi.

Mereka yang tak mengenalku dengan baik pasti berpikir demikian. Berpikir tentang aku yang dingin, angkuh, dan misterius. Persis seperti segelas es americano yang tak terlalu banyak disukai orang. 

Sekarang, aku suka americano. Namun bukan berarti minuman tersebut mengingatkanku kepadamu. Es americano itu tentang diriku sendiri. Barangkali juga tentang aku yang keras kepala dan tak jarang membuat orang-orang di sekitarku jadi khawatir. Kini aku bukan lagi yang dulu seperti saat kamu baru mengenalkan secangkir americano kepadaku.  Pahit dan manis yang saling melengkapi itu sekarang sudah lebih kupahami. 




Kendati tak ada yang berubah dari hari ke hari, ternyata semuanya jauh berbeda sewaktu aku menoleh ke belakang. Hari ini aku sibuk menyayangi mereka yang selalu ada untukku. Rasa sayangku memang tak sempurna. Namun semoga cukup membuat mereka merasa dicintai tanpa kata kecuali.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa