Memoar, Opini, Kata Hati

Minggu, 12 November 2017

Baik atau Buruk, Siapa yang Tahu?




Pada zaman dahulu kala di sebuah daerah yang makmur, ada seorang raja yang sangat gemar berburu. Sang raja senantiasa membawa banyak pengawal dan tabib kepercayaannya   ketika pergi berburu. Suatu hari saat sang raja berburu hingga larut malam, jarinya terluka karena gigitan seekor ular sendok.

Raja mulai jatuh sakit setelah jarinya digigit ular. Tubuhnya panas dingin, lemas, dan ia pun tak nafsu makan. Jarinya yang tergigit ular mulai membiru dan terasa sangat nyeri. Saat tabib memeriksa kondisi kesehatannya, raja bertanya,

“Bagaimana keadaanku, tabib? Apakah luka gigitan ular ini semakin memburuk?”
Tabib kerajaan pun menjawab, “Baik atau buruk, siapa yang tahu?”


Ah, jawaban seperti itu tentu saja tidak diinginkan sang raja. Obat yang diberikan tabib rupanya tak manjur menyembuhkan jari raja. Beberapa hari kemudian, jari sang raja mulai membusuk dan menimbulkan bau tak sedap. Tubuh raja yang kian lemah pun sudah hampir tak sanggup menahan rasa sakit. Melihat kejadian itu, sang tabib kerajaan akhirnya memutuskan untuk mengamputasi satu ruas jari sang raja.

Saat siuman, raja sangat murka melihat satu ruas jarinya hilang karena amputasi. Raja memberikan titah kepada pengawal istana untuk menjebloskan si tabib tua ke penjara bawah tanah. Setelah kesehatannya membaik, raja menghampiri si tabib yang sudah mendekam di penjara.

Raja berseru kepada tabib,
“Gara-gara kamu, aku harus kehilangan satu ruas jariku. Sekarang aku jadi cacat. Kalau bukan karena kamu, mungkin jariku masih bisa diselamatkan.”
“Baik atau buruk, siapa yang tahu?”
“Dasar tabib gila. Aku tak mau mendengar ocehanmu. Aku menyesal mempercayai tabib seperti kamu. Sekarang diamlah di sini, renungkan hasil perbuatan burukmu .”         


Beberapa bulan setelah memasukkan tabib ke penjara, raja mulai rindu dengan hobi berburunya. Sehingga raja pun memutuskan untuk masuk ke hutan bersama para pengawalnya. Kali ini raja ingin menjelajahi hutan ke bagian yang lebih dalam. Di tengah hutan, raja bertemu dengan sekelompok suku pedalaman. Jumlah mereka banyak sekali sampai para pengawal raja tak sanggup menghadapinya. Raja berhasil diculik oleh suku tersebut dan dibawa untuk dijadikan korban persembahan bagi dewa mereka.

Ketika kelompok suku pedalaman itu memeriksa tubuh raja, mereka terkejut dan marah karena mengetahui ada satu ruas jari raja yang putus. Mereka tak bisa mengorbankan persembahan yang fisiknya tidak sempurna. Tentu saja mereka tak ingin membawa para dewa murka dan menurunkan kutukan bagi suku mereka.

Raja pun akhirnya dilepaskan dalam keadaan hidup. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, sang raja berusaha menempuh jalan pulang ke kerajaannya. Setibanya di kerajaan, sang raja langsung menuju ke penjara untuk menemui tabib.

“Tabib, aku hampir saja dibunuh oleh suku pedalaman hutan saat aku berburu. Namun mereka tidak jadi mengorbankan aku sebagai persembahan saat melihat jariku yang cacat. Baik atau buruk memang tidak ada yang tahu. Aku menyesal telah memenjarakanmu. Harusnya aku berterima kasih kepadamu. Hari ini juga kamu akan dibebaskan dari penjara.”

Melihat rajanya yang sumringah, sang tabib mulai berbicara dengan tenang,
“Baik atau buruk, siapa yang tahu?
Keputusan raja untuk memenjarakan hamba justru sangat baik bagi hamba. Setiap kali raja berburu, hamba pasti setia mendampingi. Hamba akan ikut tertangkap saat mengikuti raja masuk ke tengah hutan. Jika suku pedalaman itu mengetahui bahwa jari raja tidak lengkap, mereka pasti akan melepaskan raja dan mengorbankan hamba sebagai gantinya.”


Cerita diadaptasi dari:
Brahm, A. 2016. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Jakarta: Awareness Publication.



Baik atau Buruk Memang Belum Ada yang Tahu

 

Hari-hari penuh beban memang sedang kalian jalani. Warna-warninya kian lengkap meskipun didominasi nuansa kelabu. Ada air mata yang berusaha ditahan ketika menerima perlakuan yang menyakitkan. Ada pula air mata yang diam-diam jatuh karena ketidakadilan yang diterima pemimpin sekaligus sahabatnya. Semua memang terasa sakit. Seperti panah yang tiba-tiba melesat dan menghujam hulu hati saat situasi sedang tak bisa ditebak. Namun, ada satu hal yang harus kalian ingat hari ini:

Baik atau buruk, siapa yang tahu?
Sejak beberapa waktu yang lalu kalian mulai belajar, bahwa dunia tak hanya dipenuhi orang baik saja. Bahwa bahaya bisa datang tiba-tiba tanpa diduga arahnya. Lengah karena lelah itu biasa. Niscaya kelengahan itu menjadi pelajaran yang luar biasa bagi langkah kaki kalian di hari-hari berikutnya. Jejak-jejak mulia yang sudah kalian jalani tak akan menghilang begitu saja. Sebab yang baik akan selalu terkenang dalam ingatan. Selalu abadi dan akan segera berlanjut meskipun sempat terhenti di tengah jalan.
 


Baik atau buruk, siapa yang tahu?
Kekecewaan dan amarah yang hari ini masih ada di hati kalian mungkin bisa menjelma menjadi rasa syukur di kemudian hari. Bersyukur karena tidak terjerat ke dalam bahaya yang lebih besar lagi. Bersyukur karena semua rencana-Nya selalu berjalan tepat dan baik bagi kalian. Oh iya, ada satu lagi nih yang harus kukatakan. Jangan sampai semua rencana jahat mereka membuat hubungan kalian merenggang.



Coba tengok sebentar ke samping, ada sahabatmu yang selalu setia mendampingimu. Sahabatmu jahil, kadang-kadang barangkali dia juga membuatmu kesal. Namun dia akan selalu ada untukmu. Dia akan jadi orang pertama yang marah bila kamu disakiti. Air matanya akan berusaha ditahan di depanmu walaupun dia juga ikut merasakan sakitmu. Kalian satu sama lain harus tahu bahwa sahabat kalian tak akan ke mana-mana.



Banyak hal baik dalam diriku (Eh, emangnya banyak yang baik, ya?) yang berasal dari keteladanan kalian. Tetaplah jadi teladan yang baik bagiku dan bagi semua orang yang ada di dekat kalian. Aku selalu ingin melihat senyum itu ketika kalian menyapaku. Senyum hangat dua sahabat yang masih sama seperti yang pertama kali kulihat belasan tahun yang lalu.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa