25 Kutipan tentang Kopi


Hidup ini seperti secangkir kopi.
Di mana pahit dan manis bertemu dalam kehangatan.

Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu.
Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat,
kopi tetap kopi.
Punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.

Jadilah seperti kopi,
yang tetap dicintai tanpa menyembunyikan pahitnya diri.

Rindu ini telah mengendap.
Ikhlas walau tak berbalas.
Seperti endapan kopi yang tak pernah diteguk.

Kopi itu pahit.
Rindu itu sakit.
Sediakan kopi di depan pintu rumahmu.
Bisa jadi rindu datang bertamu.

Cinta itu bebas.
Namun cinta itu juga tak bisa dipaksakan.
Cinta menyatukan dua perbedaan.
Seperti gula dan kopi yang saya seduh malam ini.
Kehidupan ibarat secangkir kopi.

Hidup adalah kopi.
Pekerjaan, uang, dan kedudukan adalah cangkirnya.
Terkadang kita hanya fokus pada cangkir.
Ingin cangkir yang lebih besar, lebih bagus, dan lebih mewah.
Hingga kita lupa
bahwa cangkir itu tidak akan mempengaruhi kualitas kopi yang ada di dalamnya.
Semoga kita tidak terlena dengan cangkir
hingga lupa menikmati kopi.

Adakah yang lebih setia daripada kopi?
Menemani hati yang ditinggal pergi,
bersama jejak kaki dalam sayupan lagu sepi.

Kopi tanpa gula adalah kopi yang jujur.
Dia tak perlu bermanis-manis di mulut.
Tanpa ragu menunjukkan jati diri
pada sang peminumnya.

Kadang kala hidup itu bagaikan kopi.
Kalo gak pahit, gak seru.

Mengenalku.
Yang kau tahu jangan hanya gelapnya luaranku.
Seperti halnya secangkir kopi yang belum kau seduh.

Jika hadirmu sekadar ada, tanpa ada rasa,
kupastikan kopi masih lebih baik darimu.

Secangkir kopi yang kunikmati
seolah berkata kepadaku bahwa
hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan.

Aku kopi, kamu gula.
Harusnya kita sempurna.
Tapi penyeduh tidak menyajikan kita di cangkir yang sama.

Jika kopimu terlalu manis,
cobalah meminumnya sambil mengenang masa lalu,
barangkali membantu.

Kopiku memang tak semanis janji-janjimu.
Tapi dengan tanpa sadar
salah satu janjimu bisa menglahkan pahit secangkir kopiku.

Aku adalah secangkir kopi.
Jika kamu tak mengerti pahit dan getirku,
mungkin teh lebih cocok untukmu.

Aku tahu mengapa kau suka minum kopi susu.
Kopi membuat matamu menyala,
susu membuat matamu manja.

Cinta itu seperti kopi susu.
Dituang dalam satu wadah.
Bercampur menyatu hingga sulit dipisahkan.
Sampai waktunya habis
diminum oleh sang pembuatnya.

Kesempurnaan rasa kopi berasal dari rasa pahitnya.
Oleh karena itu, kenangan pahit akan
membentuk kita yang lebih baik di masa depan.

Terkadang hidup itu seperti secangkir ampas kopi.
Di mana yang membuat nikmat terkhianati
dan tak lagi dihargai.

Setidaknya aroma kopiku masih setia menemani.
Meski tak sewangi aroma parfummu yang beranjak pergi.

Kopi adalah hal sederhana.
Ia kerap bercerita tentang
bagaimana seharusnya kita menikmati pahitnya hidup.

Kali ini,
aku mulai mencoba mengenal rindu.
Seperti takaran Ibu membuat kopi Ayah.

Mari minum kopi.
Agar pahit rindumu terasa manis
dan dingin hatimu sedikit hangat.





No comments