25 Quotes Kekinian J.S. Khairen

25 Quotes Kekinian J.S. Khairen

Aku dalam keinginanmu mungkin berbeda dengan aku pada kenyataan.

Begitu juga kamu dalam pikiranku,

mungkin tak selalu sesuai dengan kenyataan.

Kita hidup dalam dua kacamata.

Tak selamanya semua harus disamakan.

Cukup dipahami saja.

 

Pesan dari seorang sahabat:

“Mimpimu belum tinggi jika belum ditertawakan orang lain.”

 

Kita sering dipaksa untuk jadi nomor satu.

Padahal dunia bukan dirancang sebagai perlombaan,

melainkan bagaimana seseorang bisa memainkan perannya dengan baik.

 

Apa yang paling aneh dari rindu?

Mereka membuatmu tersiksa satu kali.

Saat mencoba menuntaskannya,

siksaan itu malah makin berlipat ganda.

Pertemuan itu bukan obat, tapi hanya pereda.

Saat kau sudah kebas dengan kegagalan,

saat itulah apa yang kau cari selama ini mulai tumbuh.

Ini bukan rumus motivator.

Gagal ibarat akar.

Dia tumbuh ke bawah dan terus menguat.

 

Biarkan mereka bising dalam ketidaktahuan hingga melahirkan sebuah “kira-kira”.

Indah sekali saat mendengar rintihan hati kecil mereka,

wajah mereka yang terpana sambil berujar “kok dia bisa?”

 

Tak apa rasa lelah hingga ke tulang.

Untuk tempat yang kita sebut pulang.

Hidup ini memang soal tualang.

Bukan soal siapa kalah siapa menang.

 

Impianmu besar, tapi daya juangmu kecil.

Kasihan sekali impian itu terperangkap dalam tubuhmu.

Pilih berikan mimpi itu pada orang lain,

atau kau yang berangkat jemput mimpi itu.

 

Hujan adalah janji setia langit kepada bumi.

Tak perlu ditunggu ia pasti datang.

 

Berikanlah aku absen wahai waktu, maka aku akan berhenti menunggu.

 

Jangan diam.

Tidak ada perjalanan yang sia-sia.

Tiap rintangannya menyimpan dua kemungkinan;

mempertemukanmu dengan orang baru

atau bertemu dengan jati diri yang selama ini kau cari.

 

Jurus paling mematikan adalah diam seribu bahasa.

Ia bahkan bisa menjadi serangan balik terbaik.

Saat ia diam,

boleh jadi sesuatu yang tak pernah kita perkirakan, sedang ia persiapkan.

 

Kita mudah memaafkan orang lain.

Tak peduli betapa tajam hati dan hidup kita ditikam.

Kita sulit memaafkan diri kita sendiri.

Bahkan atas kesalahan kecil yang terus kita rawat menjadi racun.

Mungkin kita harus belajar adil.

Baik pada orang lain ya bagus.

Baik pada diri sendiri, itu harus.

 

Jangan pernah berjanji untuk tidak saling menyakiti.

Itu mustahil.

Berjanjilah untuk selalu ada saat salah satunya tersakiti.

 

Kurangilah kecepatan, entah sedang mengejar apapun itu.

Beberapa hal justru baru terlihat saat engkau melangkah pelan.

 

Sudahlah, hidup ini sejak awal memang tidak adil.

Mengutuk orang, iri dengki, hanya akan memperburuk mimpimu.

Bangunlah, buat keberuntungan dengan kerja keras,

dengan jadi berbeda, dengan memberi makna.

 

Tiap orang punya tahun abu-abu.

Tahun saat semua rencana berantakan.

Kebetulan tahun ini, kita berantakannya rombongan.

Semoga selepas tahun penuh pelajaran ini,

kita bisa melangkah lebih tangguh.

 

Tak ada yang salah dari berhenti memperjuangkan sesuatu.

Justru memberi kita waktu untuk mempertimbangkan apakah ini sepadan.

 

Kita sering salah,

memilih jalah keluar dari masalah.

Mengutuk payung yang patah, kadang sambil marah-marah.

Padahal kalau tak mau basah, ya bersabarlah.

Diam saja di rumah.

Boleh jadi jalan keluarnya adalah dengan tidak berjalan meski satu langkah.

 

Pernah garuk-garuk sampai luka sendiri?

Begitulah jika hal tak penting-penting amat kau beri energi terlalu besar.

Mungkin tak semua masalah perlu kau garuk.

 

Saat hidupmu membaik,

itu bukan lampu hijau untuk mengomentari hidup orang yang lebih buruk.

 

Gedung tinggi fondasinya harus kuat.

Menancap ke dalam dan tak terlihat.

Jika ujian hidupmu kelam dan pekat,

anggap saja agar kelak kau tinggi mencuat.

 

Ada banyak cinta tak berbalas, meski doa hingga ke rongga langit mengalir deras.

Ada banyak mimpi yang hancur, meski keringat lelah mengucur.

Ada banyak sejarah tak tertulis, meski bergema suara tangis.

Ada banyak kepercayaan berubah pikun, meski diawali ucapan manis melantun-lantun.

 

Rasa curiga adalah benteng pertahananan,

dari mereka yang pernah punya masalah dengan kepercayaan.

 

Konsep “membenci” itu tak harus dua arah.

Jika kamu tak suka seseorang, bukan berarti dia juga harus benci padamu.

Begitu juga jenis perasaan lainnya.

No comments