Lebah yang tak kenal lelah mengumpulkan madu sering sekali dilupakan,
tapi satu sengatan kecilnya langsung mengundang kemarahan dan kebencian.
Kupu-kupu terlalu menjadikan sang lebah sebagai euforianya.
Padahal sang lebah datang hanya sebatas fatamorgana.
Lebah tidak menghabiskan waktu untuk menjelaskan kepada lalat,
bahwa madu lebih nikmat dibandingkan kotoran.
Jadilah seperti lebah.
Ia hinggap di tempat yang baik,
memakan yang baik,
dan menghasilkan yang baik.
Pandangan lebah selalu mencari bunga meskipun di tempat sampah,
sedangkan seekor lalat selalu mencari kotoran sekalipun di taman bunga.
Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.
Kendati lebah itu menyengat, ia tetaplah akan menghasilkan madu.
Yang tidak baik untuk sarang lebah,
tidak bisa baik bagi lebah.
Saat kamu mencari madu,
kamu harus siap disengat lebah.
Kau harus menjadi lebah supaya bisa mendekati bunga.
Namun Tuhan menjadikanmu lalat.
Dan kau harus sadar bagaimana takdirnya.
Mencintaimu
layaknya seekor lebah yang berusaha melewati mawar yang berduri
hanya untuk setetes madu.
Lebah tidak pernah sibuk membuktikan dirinya.
Ia cukup bekerja, lalu madu berbicara.
Seekor lebah pun akan pergi
ketika mengetahui bunga yang disinggahi tidak ada madunya lagi.
Kamu tahu lebah rela mati demi melindungi sarangnya?
Saat dia menyengat musuh, itulah tindakan terakhirnya demi yang dicintai.
Karena cinta sejati tak selalu manis, tapi juga soal pengorbanan.
Cinta fatamorgana diibaratkan seperti bunga dan lebah.
Bunga menyukai lebah, sedangkan lebah selalu menyengatnya.
Terbukti,
apa yang membuatmu sakit itu yang membuatmu candu.
Manusia itu seperti lebah.
Dia akan memberimu madu apabila menyukaimu,
Dan dia akan menyengatmu bila ia benci padamu.
Kau harus menjadi lebah supaya bisa mendekati bunga.
Namun, Tuhan menjadikanmu lalat.
Dan kau harus sadar bagaimana takdirmu.
Biarkan aku hidup seperti lebah
yang tak akan mengganggu jika tidak diganggu duluan.
Lebah tak pernah salah.
Ia datang untuk merawat, bukan memiliki.
Jika bunganya diambil orang lain, itu bukan karena lebah kurang,
melainkan karena bunga itu tak tahu siapa yang setia saat ia belum mekar.
Aku tidak kehilangan bunga.
Aku hanya selesai jadi lebah.
Meninggalkan bunga itu di taman yang bukan lagi tempatku.
Harapan ibarat satu lebah yang membuat madu tanpa bunga.
Lebah tak sama dengan tawon.
Tawon tak menghasilkan madu, rakus, dan menyengat berkali-kali.
Hidup ini tak perlu selalu kaya manfaat seperti lebah, tapi minimal tidak seperti tawon.


No comments