20 Quotes Dokter Ryu Hasan (dr. Roslan Yusni Hasan, Sp.BS)


20 Quotes Dokter Ryu Hasan (dr. Roslan Yusni Hasan, Sp.BS)

Orang beragama apa pun kalau pelit ya pelit.

Orang jahat kalau itu kalau ketemu agama makin jadi jahatnya.

 

Salah satu variabel paling berpengaruh

pada seberapa besar kecenderungan seseorang untuk bahagia atau tidak bahagia

adalah seberapa besar kemampuan otaknya

untuk melupakan banyak hal yang tidak menyenangkan.

 

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan,

saya setuju kalau uangnya dikit.

Kalau banyak bisa.

 

Kenapa banyak yang kebingungan membedakan urusan pribadi dan urusan publik?

Ya karena dari kecil diajari bahwa mengurus hal-hal pribadi orang lain adalah kebaikan.

Reseknya mendarah daging.

 

Sebetulnya kalau mereka itu paham

bahwa keyakinan kita itu belum tentu benar atau belum tentu salah kan nggak ada masalah.

Masalahnya orang berkeyakinan itu terobsesi dengan kebenaran.

Belum terbukti kok terobsesi.

 

Salah satu tanda kiamat adalah banyak orang tidak percaya agama,

artinya agama tersebut sudah mau kiamat, ada benarnya juga.

 

Kalau kamu belasan tahun bahkan puluhan tahun berdoa pengen kaya

tapi nggak kaya-kaya juga,

jangan kecil hati, banyak yang bernasib sama.

Orang jadi kaya bukan karena berdoa, tapi karena dapat harta.

 

Tidak ada profesi yang lebih mulia ketimbang profesi lain.

Pelakunya yang menentukan nilainya,

seprofesional apa seseorang menjalani profesinya.

 

Alam semesta berjalan tanpa mengikuti moral apa pun,

kalau kita mencoba mencarinya, yang kita temui adalah paradoks.

 

Motivator sukanya bilang: “keluarlah dari zona nyaman”.

Coba suruh mereka berhenti jadi motivator, itu kan zona nyaman mereka.

Lihat saja

nanti pasti mereka punya alasan dengan berakrobat mulut.

 

Agar tidak gampang menderita, jangan merasa penting.

Kalau kita itu merasa penting,

berterima kasih dan minta maaf sama orang itu sulit.

 

Otak kita tidak dirancang untuk membedakan salah dan benar.

Otak kita dirancang untuk mempertahankan kehidupan selama yang dimungkinkan.

Tak peduli salah atau benar,

tapi kalau itu memberikan manfaat, kita bisa bertahan,

ya udah, itu yang dipilih otak kita.

 

Manusia itu pada akhirnya percaya kepada orang yang dianggap punya otoritas.

Yang namanya authority based truth.

Jadi kita hanya menganggap itu benar

kalau yang memberikan penjelasan itu orang yang punya otoritas.

Siapa?

Kepala suku, dukun, ahli agama.

Ini orang-orang yang pantang bilang nggak tau.

Apa aja dijawab meskipun salah.

Tetep aja pokoknya dia tuh sulit bilang nggak tau.

Padahal nggak tau itu nggak salah.

 

Tata krama itu sebetulnya menyampaikan yang tidak sesungguhnya.

Supaya apa?

Supaya kita bisa bekerja sama.

 

Nggak ada orang berubah karena nasihat.

Orang itu bisa berubah dengan latihan.

 

Jangan membiasakan emosi melanggar dan membajak rasionalitas.

Itu akan berbahaya.

 

Tidak semua-semua kamu harus paham.

Dan tidak semua-semua harus paham kamu.

Jadi kalau pertanyaannya, “apa yang harus?”

Nggak ada keharusan.

 

Moral itu kan selalu setiap kelompok itu punya kecenderungan berbeda

dengan moral kelompok yang lain.

Berdasarkan apa? Ya suka-suka dia.

Moral di suatu tempat dan suatu waktu

sangat bisa berbeda dengan moral di lain tempat apalagi di waktu yang berbeda.

 

Menghargai privasi itu adalah variabel paling besar untuk empati.

Dan kalau kita menghargai privasi,

kita memperbesar peluang kita untuk bahagia.

 

Manusia itu mengambil kesimpulan nggak penting kesimpulannya benar atau nggak.

Yang penting dia puas dengan kesimpulannya.

 

No comments