Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 25 Juni 2016

Catatan untuk Para Pemimpin yang Kukasihi





Tak kusangka secepat ini akan mendapat kabar dari kalian. Secepat berkedipnya kelopak mata atau membalikkan telapak tangan. Entah aku harus bersyukur atau menatap nanar. Melihat kalian yang kukasihi benar-benar mendapatkan kesempatan itu. Sudah pasti aku gembira mendengar kabar tersebut. Tetapi aku juga punya keresahan tersendiri. Membayangkan semburat awan kelabu yang membuat kalian merasa kalut.

Takdir tidak pernah salah memilih arahnya. Di kala takdir itu sudah memilih kalian, tak ada alasan lagi untuk menggelengkan kepala. Jika sekarang kalian yang mendapat kesempatan, berarti Ia sudah menghendakinya sejak lama. Puluhan tahun kiranya Ia menempa dan menyiapkan kalian. Agar hari ini kalian mampu berdiri tegar dan siap menghalau badai masalah.

Derai air mata yang kalian tumpahkan kemarin menjadi penutup sempurna bagi lembaran lama. Belajarlah dari pemimpin-pemimpin kalian yang terdahulu. Tentu ada hal baik untuk dipetik dan hal buruk yang mesti ditinggalkan. Sesekali tidak ada salahnya menoleh ke belakang. Untuk belajar dari kesalahan dan berterima kasih pada pahitnya pengalaman. Kejernihan hati dan cita-cita mulia nanti akan membantu kalian mengurai masalah satu per satu.

Menyatukan dua pikiran dan dua hati bukanlah perkara mudah. Kendati demikian, tekad dan persahabatan kalian pasti membantu mewujudkannya. Perselisihan itu soal biasa. Salah satu dari kalian berhak marah sejenak. Bilamana seorang lainnya sedang keliru dan patut disadarkan.

Jangan lakukan perang dingin terlalu lama. Sebab ada kapal besar yang menunggu titah kalian. Bukankah sang nakhoda dan pendampingnya harus saling melengkapi satu sama lain?



Tentang perantara kasih-Nya kepada kalian, tentu malaikat pun tahu kalau akulah salah satunya. Namun sekarang aku tak akan mencintai kalian apa adanya lagi. Karena kini dua pemegang kendali harus mendapat tuntutan baru. Agar terus terpacu melangkah maju.

Pada akhirnya semua akan pergi dari dunia ini, kecuali doa. Jadi, mohon doakan aku supaya kasihku kepada kalian tidak pernah berubah. Supaya aku punya kekuatan untuk membantu kalian semampuku. Selama masih ada napas yang bisa kuhembuskan, maka selama itu pula aku akan berusaha menguntai doa-doa demi perjuangan kalian.

Barangkali aku terlalu banal untuk menyampaikan segenap doaku. Meskipun begitu, biasanya doa anak untuk sang ibu beroleh jawaban terbaik dari-Nya. Yakinlah bahwa hal-hal baik yang dahulu kalian tanam bisa segera kalian tuai di masa kepemimpinan ini.


Semoga semangat juang kalian menyerupai mentari yang menyinari bumi. Yang tidak pernah berjanji terbit lagi di esok hari. Tetapi selalu hadir demi menghangatkan seisi dunia.



Demikian catatan untuk para pemimpin yang kukasihi.
Salam takzim selalu dari aku, putrimu.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa