Aku pernah bertemu dengan versi Tuhan yang paling sempurna menurutku.
Tuhan yang suka dengan ritualku, benci dengan orang yang kubenci, dan selalu setuju dengan pandanganku.
Aku menyembah-Nya dengan tekun. Hingga suatu hari, aku sadar: itu bukan Tuhan.
Itu diriku yang kuperbesar dan kusebut “Tuhan”.
Kita semua punya bakat menjadi pematung spiritual.
Setiap hari, tanpa sadar, memahat gambaran Tuhan sesuai keinginan kita sendiri.
Lalu kita sujud pada patung itu, berpikir kita sedang menyembah Sang Pencipta.
Lihatlah baik-baik.
Apakah “Tuhan” yang kita sembah:
- Marah pada orang yang berbeda keyakinan politik?
- Hanya menerima ibadah dengan cara kelompokmu?
- Mengutamakan penampilan agama daripada esensinya?
Jika ya, selamat.
Kamu baru saja ketahuan menyembah dirimu sendiri dalam jubah ketuhanan.
Ini bukan iman.
Ini spiritual narcissism tingkat tinggi.
Menciptakan Tuhan cerminan diri, lalu menyembah pantulan ego sendiri.
Ritual kita sering menjadi alat legitimasi, bukan jalan transformasi.
Berdoa pada saat-saat tertentu untuk merasa lebih suci dari tetangga.
Sedekah untuk mendapatkan reputasi dermawan.
Bedah kitab suci untuk mendapat gelar alim di komunitas.
Kita menggunakan agama seperti makeup spiritual.
Untuk terlihat lebih baik, bukan menjadi lebih baik.
Untuk mendapat pengakuan, bukan untuk mengalami perubahan.
Agama menjadi kendaraan ego, bukan pemecah ego.
Coba tes brutal ini.
Bayangkan Tuhan tidak akan:
- Memberimu surga meski kau rajin ibadah.
- Mengabulkan doamu meski kau berdoa pada waktu khusus yang ditentukan agamamu.
- Menghukum orang yang kau benci.
- Membenarkan semua pilihan hidupmu.
Apakah kamu masih mau menyembah-Nya?
Jika jawabanmu goyah, berarti selama ini yang kau sembah bukan Tuhan.
Yang kau sembah adalah sistem reward-punishment yang kamu tempelkan pada konsep Tuhan.
Ini kabar baik sekaligus menakutkan.
Tuhan yang sebenarnya mungkin:
- Lebih mencintai daripada menghakimi.
- Lebih memahami daripada menghukum.
- Tidak memihak kelompok tertentu.
- Tidak selalu mengikuti skenario ibadah kita.
- Tidak hitung-hitungan seperti akuntan.
- Tidak terbatas pada konsep agama mana pun.
Dia lebih besar. Lebih misterius. Lebih penuh kasih tanpa syarat.
Tapi apakah kamu siap untuk Tuhan seperti itu?
Atau kamu lebih nyaman dengan “Tuhan” versimu yang mudah diprediksi dan selalu membenarkanmu?
Cara keluar dari ilusi ini? Mulai dengan kejujuran spiritual:
Akui bahwa selama ini, ibadahmu mungkin lebih tentang kebutuhanmu daripada tentang Dia.
Coba ibadah tanpa agenda, berdoa satu waktu tanpa minta apa pun.
Berani bertanya: “Siapa Engkau sebenarnya, di balik semua gambaran yang telah aku buat tentang-Mu.”
Tuhan tidak butuh kita membela konsep kita tentang Dia.
Dia hanya ingin kita bertemu dengan-Nya, bukan dengan karikatur-Nya yang kita buat sendiri.
Mungkin, iman sejati dimulai ketika kita berani berkata:
“Aku tidak tahu banyak tentang-Mu, tapi aku ingin mengenal-Mu, bukan versi tentang-Mu.”
Karena akhirnya, yang penting bukan seberapa “benar” konsep Tuhan kita.
Tapi seberapa tulus kita mencari wajah-Nya yang sesungguhnya,
di balik semua ilusi yang kita Tuhankan.
Sumber: akun Threads @hijrahroso dengan adaptasi seperlunya.


No comments