Memoar, Opini, Kata Hati

Kamis, 11 Agustus 2016

Memori Sepotong Roti





Murid-murid di kelas enam itu masih kebingungan. Dua di antara mereka, Melani dan Okta ditugaskan mengambil pesanan roti di gang sembilan. Bu Santi yang memberikan tugas tersebut.

“Okta sama Mel tau kan Cherry Bakery yang di gang 9 itu?”
“Tau, Bu.”
“Tolong ambilin roti pesanan Ibu, ya. Bawa bonnya, nih. Kalo udah langsung balik ke kelas lagi.”

Kedua murid tersebut mengangguk takzim kemudian bergegas keluar dari kelas. Jarak dari sekolah ke gang sembilan tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit. Tak ada hal yang dibicarakan Melani dan Okta dalam perjalanan menuju ke toko roti. Keduanya terlihat tergesa-gesa dengan langkah kaki yang lebar agar lekas sampai di tujuan.


Melani dan Okta sudah selesai mengambil pesanan roti Bu Santi. Jumlah rotinya banyak. Seluruh roti tersebut dikemas dalam empat buah dus besar berwarna putih. Sambil menjinjing dus-dus tersebut, Melani dan okta bergegas kembali ke kelas. Dalam perjalanan, rasa penasaran mengusik Melani untuk bertanya pada Okta.

“Ta, ini ada apaan sih, ya? Kok Ibu mesen roti banyak banget.”
Kayaknya Ibu ulang tahun deh. Ulang tahun ke-36.” Jawab Okta dengan nada sok tahu.

Okta adalah anak salah seorang guru SMP di sekolah yang sama. Tentu tak mengherankan jika ia mengetahui banyak hal tentang Bapak Ibu guru di sekolah. Entah yang dikatakan Okta benar atau tidak, jawaban darinya membuat Melani terlihat cukup puas. Sehingga Melani tidak bertanya lagi setelah mendengar jawaban dari Okta.

Ketika Okta dan Melani kembali ke kelas sembari membawa dus-dus berisi roti, Bu Santi segera membagikan roti-roti tersebut untuk semua murid. Masing-masing mendapat satu. Isi rotinya beragam, ada coklat, keju, nanas, dan strawberry. Rotinya masih hangat dan teksturnya empuk sekali. Sangat lezat dan pas untuk mengganjal perut yang lapar di siang hari. Bu Santi juga menyajikan beberapa roti di piring besar kemudian membawanya ke ruang guru. 

Murid-murid tidak tahu ada momen istimewa apa di tanggal 3 Desember tahun 2002 itu. Bu Santi tak menjelaskannya, juga tak memberikan jawaban pada murid-murid yang bertanya. Tanggal 3 Desember berlalu dengan cepat. Hari-hari berikutnya disibukkan dengan banyak persiapan ujian kelulusan SD. Bu Santi tampak sibuk menyiapkan catatan materi, soal latihan, dan PR untuk murid-muridnya.


Waktu berlalu begitu cepat, tetapi tidak demikian halnya dengan memori tentang sepotong roti. Belasan tahun terlewati, Bu Santi masih setia menjadi salah satu pendidik di sekolah kebanggaannya. Beliau selalu menjalani tugas-tugasnya dengan hati gembira. Karena baginya, menjadi pendidik di sekolah adalah cita-cita mulia yang memberikan ketenangan hati.
 
Siang itu Bu Santi sedang sibuk mengoreksi hasil ulangan murid di ruang guru. Tiba-tiba Mbak Yani, asistem umum sekolah masuk ke ruang guru sambil membawa sebuah kotak kado.

“Bu, ini ada paket buat Ibu.”
“Dari siapa, Mbak?”
“Barusan dianterin sama kurir paket gitu.”
Oh, makasih yah, Mbak.”

Bu Santi segera membuka kado yang ada di tangannya. Isinya sebuah handuk besar nan lembut berwarna hijau muda. Ada jahitan bordir bertuliskan “Frederica Susanti”, nama lengkap Bu Santi. Bersama dengan handuk tersebut, ada selembar surat kecil yang terlipat rapi. Rasa penasaran membuat Bu Santi langsung membacanya.

“Halo, Bu. Apa kabar? Semoga Ibu sehat selalu, ya.
Mungkin Ibu sudah lupa. Tapi Mel akan selalu ingat dengan hal ini. Tepat di hari ini pada tahun 2002 yang lalu, Ibu pernah membagikan roti untuk semua murid Ibu di kelas. Tidak ada murid yang tahu ada perayaan istimewa apa hari itu. Namun yang pasti saat itu kami senang sekali bisa makan roti gratis.

Bu, kebaikan-kebaikan kecil yang Ibu contohkan kepada kami dulu akan menjelma menjadi rantai kebaikan yang tak putus mengelilingi dunia. Dan suatu saat niscaya kebaikan itu akan kembali lagi kepada Ibu.

Sumber :
Favim.com

Selamat ulang tahun, Bu.
Semoga Ibu senantiasa dikaruniai kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan, dan semangat saat membimbing sahabat-sahabat kecil di kelas.


3 Desember 2015
Love,
Forever Your Little M
  

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis BTPN Sinaya - Femina 2015





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa