Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 17 September 2016

Serba-Serbi Supervisi Dadakan untuk Guru SD






Stop judging others by what you see.
Because what you see is …
what they want you to see.

Setuju dengan quotes tersebut?


Faktanya, memang banyak sekali orang yang menampilkan sisi baik dirinya ketika berhadapan dengan orang lain. Istilah kerennya sih pencitraan, ya. Siapa pun bisa melakukan pencitraan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan guru pun juga bisa melakukannya lo.

Guru kan bisa menunjukkan kepada kepala sekolah atau atasan lainnya bahwa dia sudah mengajar dengan baik. Tuh buktinya, murid-murid punya nilai yang bagus. Padahal bisa saja kan nilainya bagus karena sudah mengalami proses manipulasi, bukan karena benar-benar paham dengan pengajaran yang disampaikan gurunya.

Salah satu cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengatasi pencitraan dalam mengajar tersebut tentu saja supervisi dadakan. Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan mendefinisikan supervisi sebagai pengawasan utama atau kontrol tertinggi.



Kalau Supervisinya Tidak Dadakan, Bagaimana Ceritanya?




Siapa pun akan bergegas mempersiapkan diri sebaik mungkin kalau diberitahu bahwa dirinya akan menjadi objek supervisi. Persiapan guru pun bisa ditebak dengan mudah. Biasanya guru akan menyiapkan materi pelajaran yang paling dikuasai oleh murid-murid sekelas. Mengulang materi yang sudah diajarkan pun tak jadi masalah asalkan bisa selamat dari supervisi. Untuk memantapkan penilaian pada supervisi, jangan lupa membuat slide atau memanfaatkan media pembelajaran yang super menarik. Supaya proses pengajaran yang disampaikan guru tersebut jadi terkesan seru dan bergaya modern.

Satu lagi dong hal yang tidak boleh terlewatkan kala menjadi objek supervisi. Menata perangai agar tidak kelepasan marah saat mengajar. Bila biasanya guru yang bersangkutan langsung ngamuk kalau ada murid yang tingkahnya menyebalkan atau gagal paham terus saat belajar, maka lain ceritanya saat proses supervisi berlangsung. Sang guru pasti akan berusaha untuk lebih sabar dan menerangkan materi pelajaran secara pelan-pelan dan manis. Tak lupa satu hal pelengkap yang menjadi pamungkas, yaitu memanggil murid-murid paling pinter di kelas untuk mengerjakan soal di papan tulis. 

Dan pencitraan pun bisa dikatakan “sempurna”.


Mengapa Harus Supervisi Dadakan?


Supervisi dadakan bikin suasana jadi lebih “rame” dan menarik. Memang tidak semua guru yang menjadi objek supervisi akan terserang panik dadakan bila harus melalui proses tersebut. Guru yang selalu memiliki persiapan mengajar yang baik tentu akan melalui tahapan supervisi tanpa kendala berarti. Persis seperti kondisi belajar mengajar yang dilaluinya setiap hari.

Sementara yang gelagapan adalah mereka yang sering mengabaikan persiapan mengajar, suka marah-marah dan kasar kepada murid yang belum memahami mata pelajaran, atau kerap mendapatkan kerutan dahi sebagai respon dari murid-murid yang gagal paham ketika belajar. Pokoknya akan seru sekali melihat ragam reaksi guru yang menjadi objek supervisi dadakan. Pasti tidak sedikit pula yang mau marah karena merasa “dijebak” atau tidak diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri. Murid-murid SD kan masih polos dan lugu. Jadi, murid-murid tersebut tentu tidak akan berusaha menutup-nutupi tingkah laku gurunya yang memang belum menjadi pendidik yang baik sewaktu berada di kelas.



Supaya lebih seru, mungkin supervisi dadakan harus dibuat secara candid. Hal ini bisa diwujudkan dengan cara meletakkan action cam atau media perekam video lainnya secara tersembunyi di kelas. Tentu saja peletakan media perekam tersebut tidak boleh diketahui oleh siapa pun di kelas. Dengan demikian, proses belajar mengajar yang hendak diamati akan berlangsung natural tanpa rekayasa. Ini baru namanya pemanfaatan candid yang tepat, smart, dan kece.


Kira-kira apakah sudah banyak sekolah yang mengadakan supervisi dadakan?

Kegiatan pengawasan ini sama sekali tidak bertujuan untuk menjatuhkan guru sebagai sosok pendidik. Lebih dari itu, justru supervisi dadakan patut dimanfaatkan secara efektif untuk mendukung kualitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah. Guru yang cerdas, menyenangkan, dan mampu mengemas materi pelajaran secara menarik pasti membuat murid-murid makin semangat saat belajar, kan?











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa