Memoar, Opini, Kata Hati

Rabu, 01 Maret 2017

Tetaplah Setia Menyirami Bibit-Bibit Bunga Itu






Ada satu kisah yang tidak pernah bisa kulupakan dari acara perpisahan SMU-ku di tahun 2009. Saat itu aku dan teman-teman sekamarku sempat bersenda gurau tentang acara malam perpisahan. Kami berkelakar bahwa kami tidak akan menangis tersedu-sedu seperti murid-murid angkatan sebelumnya.

Malam perpisahan pun tiba. Aku masih jemawa menyalami bapak ibu guruku. Satu per satu kusalami, ada beberapa yang mencium pipi kiri dan kananku. Sampai pada akhirnya di ujung barisan, ada guru bahasa Indonesiaku yang bergegas menyambut jabat tanganku. Bapak guruku itu menyalamiku seraya berkata, “Mel, kamu itu harapan semua orang.”

Usai bersalaman dengan beliau dan mengucapkan terima kasih kepadanya, aku mulai menangis. Tidak menangis terisak-isak, melainkan mulai merasa terharu karena kalimat bapak guruku itu. Ketika sekarang aku merenungkan semua hal yang sudah kulalui selama ini, aku sadar bahwa Sang Maha Kasih membimbingku melalui perantaraan orang-orang yang kukasihi. Dia bahkan mengirimkan kalian untuk mendampingi hari-hariku sampai detik ini.


Jauh sebelum aku menjadi harapan bagi banyak orang, aku cuma anak kecil biasa. Aku bagaikan remah nasi yang menempel di pakaian, begitu kecil dan tak berarti. Aku tak pernah berani bermimpi setinggi langit untuk meraih cita-citaku. Biasanya cita-cita itu aku ucapkan ketika ada yang bertanya. Sekaligus sebagai pemacu semangat bagi diriku sendiri.

Semesta membawaku bertemu dengan kalian berdua. Sosok pembimbing yang begitu hebat dan penuh dedikasi. Hari-hari bersama kalian adalah selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan. Kalian mencurahkan kasih sayang dan ilmu pengetahuan kepadaku dan murid-murid lain. Seperti pemilik kebun yang setia menyirami bibit-bibit bunga kesayangannya. Saat aku sedang sedih atau mengalami kesulitan, kalian akan segera membantuku dengan segenap daya yang kalian miliki. Barangkali kalian sudah lupa dengan hal-hal kecil tersebut. Namun bagiku, ingatan masa kecil itulah yang senantiasa membawaku kembali kepada kalian.

Kini aku sudah dewasa. Cita-cita menjadi dokter itu memang tidak berhasil kugapai. Tetapi kuharap kalian tetap berbangga hati melihat aku yang hari ini bersama dengan kalian. Hari ini aku mendengar cerita kalian. Cerita yang hampir sama dengan hal yang pernah terjadi padaku dulu. Bibit-bibit bunga yang kalian besarkan dengan kasih sayang terancam kehilangan harapannya untuk bertumbuh bernas dan indah. Hal ini tak lantas membuat kalian menyerah begitu saja. Karena kalian masih mengusahakan pertolongan terbaik, persis seperti pertolongan yang kalian berikan kepadaku beberapa belas tahun lalu.




Bu, tetaplah setia menyirami bibit-bibit bunga itu dengan kasih sayangmu. Rawatlah mereka sepenuh hati seperti yang kamu lakukan kepadaku. Jikalau mereka tampak agak layu karena cobaan hidupnya, naungi mereka dengan kesejukan nasihatmu. Jangan lupa menaburkan pupuk yang kalian sebut budi pekerti dan ketulusan hati. Agar mereka bisa berkembang menjadi sosok sebaik dan sehebat kalian.

Nanti akan tiba waktunya melihat bibit-bibit bungamu tumbuh menjadi bunga-bunga indah yang menghiasi dunia. Yakinlah bahwa semesta akan selalu mendukung kita untuk mewujudkan hal-hal baik. Sebab semesta selalu punya jalan yang tidak kita sangka-sangka. Izinkan aku mendampingi kalian yang kini menjadi pembimbing sekaligus pemimpin. Jangan biarkan orang lain mengusik usaha dan harapan kita. Mari mengerahkan segenap tenaga demi mewujudkan cita-cita luhur yang sudah lama kalian impikan.

Salam sayang dan hormat selalu dari aku, putrimu.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa