Memoar, Opini, Kata Hati

Selasa, 07 November 2017

Karena Motivator Itu Bukan Mereka yang Muncul di TV



Saya masih ingat dengan jelas mengenai rincian peristiwa itu. Ketika saya baru saja lulus kuliah dan masih jadi pengangguran. Nasib dan isi kantong yang tak menentu karena belum mendapatkan pekerjaan tetap. Saat itu, saya sudah mulai menjadi penulis freelance dengan bayaran yang sangat murah. Satu artikel bahkan tak bisa untuk membayar sepiring gado-gado. 

Namun ternyata pekerjaan itulah yang saya tekuni sampai sekarang. Sebuah pekerjaan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Pekerjaan yang juga membawa saya berusaha meraih mimpi-mimpi kecil agar lekas jadi kenyataan.


Penipu Online Itu Motivator Sejati Bagi Saya

Kalau ditanya tentang sosok motivator yang saya kagumi, jawabannya tentu saja bukan Mario Teguh, Merry Riana, atau yang lainnya. Bagi saya, motivator adalah mereka yang berada di sekeliling saya. Mereka yang langsung memberikan pelajaran hidup bagi saya sekalipun kami tak saling kenal. Salah satu yang paling hebat adalah penipu online yang berkeliaran di marketplace.

Kala itu, saya tertegun saat menelusuri daftar mobil bekas di salah satu marketplace terbesar di tanah air. Bayangkan saja, orang bodoh mana yang tak tergiur melihat Honda Civic Nova dua pintu dengan harga 15 jutaan saja. Memang sih tipe mobil itu termasuk salah satu mobil jadul yang sudah tak ada versi barunya. Namun tetap saja, harganya hanya 15 juta rupiah. Bentuk mobilnya keren banget, spesifikasinya terbilang sempurna, dan velg-nya pun racing.

Sebenarnya saya hanya iseng melihat-lihat saja. Belum ada keinginan yang benar-benar kuat untuk membeli mobil bekas. Tetapi tak dapat dipungkiri kalau sejak saat itu saya mulai termotivasi untuk giat bekerja. Mengumpulkan uang supaya bisa segera membeli mobil pertama, begitu pikir saya.

Tuhan Tahu, Tapi Menunggu

Akhir tahun 2015, ibu saya jatuh sakit dengan kondisi yang cukup parah. Suaminya baru saja menjual mobil untuk melunasi tagihan kartu kredit. Kondisi kesehatan ibu membuat saya merasa agak kebingungan. Bolak-balik kontrol ke rumah sakit pasti akan merepotkan bila tak ada mobil pribadi di rumah. Isi kantong saya tampaknya cukup untuk membeli Honda Civic Nova yang kece nan murah itu. Rupanya Tuhan tahu, tapi menunggu. Menunggu waktu yang tepat sewaktu saya benar-benar membutuhkan mobil.

Saya pun mulai menghubungi penjual mobil bekas di marketplace itu satu per satu. Jelas terdengar bahwa ibu-ibu yang mengangkat telepon itu berlogat Batak. Bukannya mempersilakan saya berkunjung untuk melihat mobil secara langsung, dia malah menyuruh saya menyetorkan sejumlah uang muka. Katanya untuk tanda jadi, karena sudah banyak yang menawar mobil itu. Ah sudahlah, saya memang lagi kepepet tetapi saya tidak sebegitu bodohnya. Setelah menelepon tiga hingga empat penjual mobil dengan tipe yang sama, barulah saya makin menyadari kalau mobil tipe itu dengan harga belasan juta hanyalah kedok untuk menipu.

Pagi itu, tanggal 13 Januari 2015, suami ibu saya pergi bersama temannya dari pagi. Mereka mengunjungi rumah seorang pemilik mobil bekas tipe Toyota Starlet. Mobil tersebut ternyata memiliki kualitas yang cukup baik. Sehingga saya disuruh cepat-cepat menyelesaikan proses pembayarannya. Celakanya, harga mobil itu jauh jauh jauh di atas perkiraan saya. Tentu saja jauh dari 15 juta rupiah.

Akhirnya, ibu saya menggadaikan emasnya untuk menggenapi uang tabungan saya. Hari itu juga, saya berjodoh dengan dia. Toyota Starlet warna merah maroon produksi tahun 1990. Warna merah sungguh bukan warna favorit saya. Namun saya membelinya dengan senang hati, dengan uang hasil keringat saya sendiri. Asalkan mobil itu layak pakai dan tidak merepotkan, itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Beberapa bulan kemudian, saya berhasil menebus emas ibu saya yang digadaikan untuk membeli si merah. Lega sekali rasanya. Utang pertama saya yang nominalnya cukup besar akhirnya berhasil saya lunasi secara lancar.

Selama hampir tiga tahun bersama, si merah turut mewarnai perjalanan hidup saya. Mobil pertama yang umurnya lebih tua dari saya ini adalah teman setia ketika saya belajar mengemudikan mobil. Bentuk yang mungil membuatnya nyaman dikendarai di jalanan macet. Spare part-nya pun masih mudah ditemukan di bengkel. Beberapa perbaikan mesin dan komponen lainnya bisa berlangsung lancar karena ketersediaan spare part-nya memadai. 

Jodoh Kita Selesai Sampai di Sini

Sejak pertengahan tahun 2017, saya mulai berniat menjual si merah. Karena saya sebenarnya jarang bepergian. Sayang sekali kalau si merah hanya teronggok di garasi. Kualitas mesinnya juga akan menurun jika jarang digunakan.

Sebenarnya ada rasa berat melepas mobil pertama saya ke tangan orang lain. Tetapi kini saya paham bahwa mobil bukanlah objek investasi. Nilainya akan terus merosot jika saya bersikeras mempertahankannya di halaman rumah. Keberadaan ojek online dan taksi online kini mempermudah saya bila ingin bepergian. Sebab pada dasarnya saya bukan orang yang senang mengemudikan mobil sendiri saat bepergian. 



Sudah cukup banyak orang yang melihat, test drive, dan menawar si merah. Hingga hari ini, 7 November 2017, si merah resmi berpindah tangan ke orang lain. Saya melepasnya tepat pada harga yang saya inginkan dan tepat pada waktu yang saya inginkan. Sehingga saya tidak perlu memperpanjang pajak si merah untuk satu tahun ke depan.


Terima kasih banyak untuk kebersamaan kita selama hampir 3 tahun ini.

Baik-baiklah dengan pemilikmu yang baru. Jangan merepotkan dan jangan mogok di tengah jalan.

Kamu sudah memberikan banyak pelajaran hidup yang baru. Kini, saya bukan lagi saya seperti 3 tahun lalu. Bukan lagi anak muda naif yang bermimpi punya mobil keren dengan harga belasan juta. 






  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa