Orang-Orang Gila yang Berolahraga


Orang-Orang Gila yang Berolahraga

Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu pagi sering bawa petaka buat saya. Tiga kali seminggu ibu-ibu PKK rutin senam di lapangan dekat rumah dari jam setengah delapan sampai setengah sembilan pagi. Jarak lapangannya kurang lebih 10 sampai 15 meter dari jendela kamar saya. Sebenarnya nggak masalah sih kalau mereka senam dengan volume speaker yang wajar. Malang tak dapat ditolak karena senam diadakan dengan suara musik yang volumenya seakan mau menyaingi sound horeg.

Awalnya instruktur senam biasanya memutar musik dengan volume standar yang masih kedengeran di kuping peserta sekaligus nggak terlalu ganggu rumah-rumah di sekitarnya. Lama-kelamaan si ketua PKK kampret merasa belum cukup puas lalu mulai menambah volume, mungkin pikirnya biar sesi olahraga bersama jadi makin seru dan hot.

Keputusan sepihak si ketua PKK kontan menganggu pagi indah saya yang masih molor. Suara speaker sember itu masuk dengan begitu tidak sopannya ke kamar kemudian membuat saya mulai terbangun. Kalau lagi capek banget, biasanya suara itu nggak kedengeran karena saya tidur kayak mayat. Tapi lain cerita jika saya nggak terlalu pulas. Nggak jarang saya keberisikan sampai gagal melanjutkan tidur dengan tenang.

Musim Hujan dan Kiprah Para Perempuan Gila

Secercah harapan muncul di benak saya ketika musim hujan tiba, kurang lebih sejak awal November lalu. Saya pikir saya nggak bakal merasa terganggu lagi jika hari hujan pada Selasa, Kamis, atau Sabtu pagi. Sayangnya, pemikiran itu sebatas imajinasi belaka. Suatu Kamis pagi sewaktu hujan agak deras, saya malah nggak sengaja terbangun lagi karena suara sialan yang sama.

Seketika itu juga mata saya terasa segar karena akal yang berputar-putar tak disengaja. Masa iya hujan deras begini mereka masih senam juga?

Rasa penasaran bikin saya langsung bangun, buru-buru cuci muka dan sikat gigi sebelum melongok dari teras ke lapangan. Ya, benar saja. Para perempuan gila itu setia dengan rutinitas yang sama. Mereka rela hujan-hujanan demi tetap senam, bahkan tertawa lebih riang daripada hari-hari sebelumnya. Sungguh saya tak habis pikir dengan kelakuan mereka. Baiklah, barangkali saya harus ikhlas bahwa ternyata hujan pun nggak mampu menghentikan kegiatan mereka yang gaduh.

Yang Sehat dan Cantik Rupanya Gila Juga

Di sisi lain, saya punya seorang kenalan yang usianya terbilang senior. Beliau cantik dan sehat, termasuk sangat bugar jika dibandingkan orang-orang seusianya. Bentuknya ideal dengan postur tubuh tegap, jauh dari kata renta. Soal kegiatannya jangan ditanya, masih sibuk, aktif, dan anti mager.

Salah satu kebiasaan Beliau yang saya tahu dan saya coba teladani adalah rutin olahraga jalan kaki selama satu jam hampir setiap hari. Seingat saja Beliau hanya libur seminggu sekali. Rutinitas tersebut dijalani selama lebih dari 20 tahun belakangan ini, bersama teman-temannya di kompleks perumahan yang sama.

Saat saya bertemu Beliau, seketika saya teringat ingin menanyakan satu hal ini:

“Bu, pernah nggak pas mau jalan kaki pagi-pagi, eh ujan?”

“Pernah. Mel. Ibu pake payung deh. Kadang-kadang langsung bawa dua buat teman yang beda lima rumah aja dari Ibu.”

Waduh. Maaf ya, cantik. Sesungguhnya dapat kusimpulkan kalau kamu juga gila. Maksudnya, orang-orang yang jarang atau sama sekali nggak berolahraga pasti menganggap kamu gila karena olahraga pake payung. Kalau ujan ya nggak usah olahragalah, agaknya begitulah pemikiran kebanyakan orang. Maklum saja, kesalahan si mayoritas sangat gampang mematahkan kebenaran si minoritas. Tapi seenggaknya gila rame-rame bareng temen itu masih mendinganlah daripada kelihatan gila sendirian karena olahraga sambil ujan-ujanan.

Orang Gila Memang Tak Sadar kalau Dirinya Gila

Anggapan bahwa orang gila nggak sadar kalau dirinya gila bisa jadi benar adanya. Saya kok merasa ibu-ibu PKK dan kenalan saya itu gila karena olahraga nggak kenal waktu. Padahal kayaknya saja juga sama gilanya. Malah saya edannya lebih parah karena olahraga ujan-ujanan sendirian.

Dulu jalan kaki sekitar tiga kali seminggu, lama-kelamaan berusaha untuk nggak pernah absen kecuali karena hal-hal tertentu, misalnya hujan deras, banjir, atau kurang enak badan.

Dulu membatalkan niat jalan kaki jika hujan sudah reda tapi jalanan jadi becek, sekarang malah gas terus asalkan hujan udah berhenti dan nggak bikin banjir.

Dulu cuma jalan kaki sore karena malas bangun pagi, sekarang sesekali jalan kaki pagi bila sore mau pergi atau ramalan cuaca bilang sore bakal hujan deras.

Terlihat gila rame-rame karena senam sambil hujan-hujanan atau olahraga jalan kaki pake payung kayaknya masih lebih baik daripada gila sendirian seperti saya. Bahkan, belum lama ini saya pernah bela-belain jalan kaki rute pendek muterin kampung dua kali sewaktu gerimis nggak berhenti di sore hari. Kala itu, saya menikmati musik di kuping sambil berpikir terus-terusan; kayaknya gue emang udah beneran gila, rela ujan-ujanan asalkan tetap olahraga.

 

Kegilaan ini membawa saya pada pemikiran dari segi ilmiah yang sebenarnya mungkin secara nggak langsung karena saya aja yang pengen cari validasi. Olahraga akan menstimulasi tubuh melepas hormon serotonin (pengatur suasana hati), dopamin (pemicu rasa bahagia dan motivasi), dan endorfin (pembangkit rasa senang dan anti nyeri). Itu bukan kata saya ya, itu mah kata hasil penelitian di internet.

Nah, sepertinya saya udah ketemu nih penyebab ketidakwarasan ini. Sensasi nyaman yang dirasakan setelah rutin olahraga bikin siapa pun jadi termotivasi untuk selalu dapetin sensasi tersebut. Alhasil, tubuh seakan nagih buat berolahraga hingga menganggap penghalang-penghalang di sekitarnya cuma urusan kecil, termasuk hujan. Tubuh ideal dan tampang good looking itu bonus, tapi rasa puas setelah olahraga itulah yang nggak bisa digantikan dengan apa pun.

Pada akhirnya, saya terima-terima aja kalau dianggap gila karena olahraga melulu.

Yang penting gilanya bikin saya senang dan nggak nyusahin siapa-siapa.

No comments