30 Kutipan Puitis Sujiwo Tejo

Puncak kangen paling dahsyat ketika dua orang tak saling menelepon, tak saling SMS, tak saling BBM-an, dan lain-lain tak saling. Namun diam-diam keduanya saling mendoakan.

Mengenang mantan sah-sah saja. Tapi jangan keseringan. Karena mengenang adalah pekerjaan pensiunan.

Menikah itu nasib. Mencintai itu takdir. Kau bisa berencana menikahi siapa. Tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.

Cinta tak kenal pengorbanan, kekasih. Saat kau mulai merasa berkorban, saat itu cintamu mulai pudar.

Bukan tentang siapa yang kita kenal lebih lama, yang datang paling pertama, atau yang paling perhatian. Tapi tentang siapa yang datang dan tidak pergi.

Lama-kelamaan orang akan malas romantis karena takut disebut galau. Malas peduli karena takut disebut kepo. Malas mendetail karena takut disebut rempong. Malas berpendapat karena dikira curhat.


Jangan sengaja pergi agar dicari. Jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.

Wanita itu suka es krim dan cokelat, namun lebih suka kepastian.

Tuhan jagalah dia untuk aku (yang tak pernah Engkau inginkan untuk bersamanya).

Tahukah kau pekerjaan paling sia-sia di muka bumi? Memberi nasihat kepada orang jatuh cinta.

Tuhan itu Maha Asyik. Terkadang demi menyelamatkanmu dari orang yang salah, Ia mematahkan hatimu.

Tabahlah seperti perempuan, saban hari memandikan anak, tapi tak pernah menuntut adanya mesin cuci anak.


Segunung apa pun diamku merenung, tak mungkin aku sampai pada pemahaman mengapa aku mencintaimu, kekasih.

Cobalah jadi malam agar kau tahu rasanya rindu. Dan cobalah jadi senja agar kau tahu artinya menanti.

Kenapa tisu bermanfaat? Karena cinta tak pernah kemarau.

Cinta selalu meluap seluas apa pun mangkuk menadahku padamu, kekasih.

Sekuat apa pun kamu menjaga, yang pergi akan tetap pergi. Sekuat apa pun kamu menolak, yang datang akan tetap datang. Semesta memang kadang senang bercanda.

Aku pernah bilang “tunggu”, tapi kau tetap saja berlalu. Akhirnya kita tidak akan pernah bertemu.


Menghormati ibu bukan tugas bukan kewajiban, tapi ya terjadi begitu saja bagi siapa pun yang perasaannya masih bekerja.

Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan. 

Bau sampah kulit udang bagiku lebih enak ketimbang bau orang yang sok bermoral padahal bajingan.
Kamu adalah caramu merespon. Kalau caramu merespon lawan selalu ketawa mencemooh, ya berarti kamu tak pantas dihormati.

Bila keyakinanmu tidak bertambah karena dibenarkan dan tidak berkurang karena disalahkan, kau telah sampai pada keyakinanmu yang sejati.

Intinya, bagaimana sembahyang itu bisa mendorong seluruh hatimu untuk menolong orang lain. Itulah inti pergi ke masjid, gereja, wihara, kuil, dan sebagainya.

Gagal adalah cara manusia menamai yang sesuai kehendaknya namun tidak sesuai kehendak-Nya.


Tangga menuju langit adalah kepalamu. Maka letakkan kakimu di atas kepalamu. Untuk mencapai Tuhan, injak-injaklah pikiran dan kesombongan rasionalmu.

Korupsi lebih atau setidaknya sama saja dengan membakar kitab suci, yaitu menghina esensi kitab suci. Tak ada ajaran maupun agama yang tak mengharamkan korupsi.

Memberi itu baik. Tapi kalau atas dasar kasihan, berarti merasa lebih beruntung, merasa lebih baik. Itu sombong juga. Waspadalah. Tuhan Maha Guyon.

Bagi aku surga dan neraka gak usah dientar-entar. Saat kau dendam, iri, dan dengki, saat itu juga kau sudah di neraka.

Saya sering berharap moga-moga segala kebaikan yang kelak akan saya lakukan adalah kebaikan yang tanpa saya sengaja. Begitu, sehingga luputlah saya dari rasa sombong lantaran merasa sudah berjasa.

Kalau kamu ikhlas, mungkin kamu gak kaya. Tapi setiap kali butuh, duit itu ada. Begitu katanya.




No comments