Memoar, Opini, Kata Hati

Senin, 19 Oktober 2015

Suka Duka Jadi Penulis Freelance


Mungkin banyak orang yang membayangkan kalau jadi penulis freelance itu enak. Kenyataannya memang enak, tetapi bukan tidak diselingi dengan duka. Semua pekerjaan pasti memiliki suka duka. Selanjutnya, tinggal bagaimana setiap orang yang melakoni pekerjaan tersebut bisa membuat dirinya merasa nyaman.

Sumber :
Dokumentasi pribadi

Kenyamanan adalah kunci utama dalam menjalani sebuah pekerjaan, tidak peduli apa pun jenis pekerjaannya. Menjadi penulis freelance yang unggul dan dicari banyak perusahaan pun dilandasi oleh rasa nyaman. Dari sekian banyak suka duka yang dialami, tentu beberapa hal ini adalah yang paling sering dirasakan oleh penulis freelance :


Sulit Membagi Waktu Secara Disiplin

Bekerja tanpa berhadapan langsung dengan bos memungkinkan penulis freelance untuk lebih santai. Semua pekerjaan diselesaikan secara mandiri, termasuk untuk urusan mengatur waktu. Ketika merasa penat dan ingin bersantai sejenak tentu tak ada yang melarang.

Tetapi bersantai hingga kebablasan malah bisa membuat pekerjaan tak kunjung rampung. Bersantai itu boleh, atau malah harus. Namun waktunya harus bisa diseimbangkan dengan pekerjaan yang sedang menunggu untuk diselesaikan.

Deadline Mengejar, Malas Menghadang

Rasa malas itu manusiawi, kan?

Ada saat-saat ketika mood sedang turun dan tidak bisa menghasilkan ide-ide baru. Padahal deadline pekerjaan sudah di depan mata. Kalau sudah begini, sikap profesionalitas tentu harus diterapkan dengan baik. Singkirkan dulu mood yang tak stabil kemudian berusahalah untuk fokus pada pekerjaan.

Karena penulis freelance itu tak bisa bekerja dengan mengandalkan mood, melainkan harus mengandalkan sisi profesionalitas.

Seakan Kehabisan Kata-Kata

Penulis freelance harus selalu memiliki perbendaharaan kata yang memadai. Agar nantinya tulisan yang dihasilkan tidak monoton dan menarik untuk disimak. Sayangnya, hal yang satu ini sering dialami oleh para penulis freelance : seakan kehabisan kata-kata.

Sejumlah kata-kata yang sama diulangi terus-menerus hingga menimbulkan kebosanan saat menulisnya. Terutama sejumlah kata depan dan kata sambung seperti dan, dengan, agar, supaya, saat, ketika, kala, serta kata-kata lainnya. Kuncinya, penulis freelance harus rajin membaca banyak hal selain membaca tulisannya sendiri.

Selain membaca situs-situs berkualitas di internet, membaca buku dan menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia juga berpotensi memperkaya perbendaharaan kata.

Lupa dengan Portofolio Pribadi

Tidak seperti profesi karyawan tetap yang lebih fokus dengan perkembangan perusahaan, penulis freelance harus melakukan hal yang agak berbeda. Seorang penulis freelance harus mampu menghasilkan pekerjaan terbaik sekaligus tak lupa meningkatkan kualitas diri sendiri.

Karena persaingan di dunia freelance sangat ketat, penting sekali untuk meningkatkan kualitas diri sendiri. Cara untuk mengasah kreativitas dan meningkatkan kualitas sangat beragam, misalnya dengan nge-blog, membuat portofolio pribadi, mengikuti lomba menulis,menjalani pelatihan menulis, serta ikut serta dalam komunitas menulis.


Pekerjaan penulis freelance mungkin terdengar tidak keren dan biasa-biasa saja. Namun sesungguhnya banyak hal baru yang bisa digali jika seseorang tekun menjalankan pekerjaan yang satu ini. Siap menjadi penulis freelance yang berkualitas dan dicari banyak orang?

Sumber :
Dokumentasi pribadi





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa