Memoar, Opini, Kata Hati

Kamis, 24 Agustus 2017

Hal-Hal yang Sebaiknya Tak Dilakukan Saat Merasa Kecewa




Kekecewaan kerap membuat kita larut dalam perasaan sedih dan marah. Terasa begitu menyakitkan. Terutama jika kekecewaan itu disebabkan oleh orang-orang yang sangat kita sayangi. Banyak hal yang berkecamuk dalam hati saat merasa kecewa. Perasaan campur aduk yang tak dapat dijelaskan oleh kata-kata.

Namun kita harus mengingat beberapa hal penting ini. Bahwa ternyata hal-hal ini sebaiknya tidak dilakukan saat merasa kecewa. Kalau kita berhasil menahan diri untuk tidak melakukannya, niscaya kekecewaaan kita tak akan berujung pada penyesalan.

Mengumpat

Penelitian yang dilakukan di Universitas Cambridge, Universitas Stanford, Universitas Maastricht, dan Universitas Hongkong menemukan hasil mencengangkan. Ternyata orang yang suka mengumpat cenderung lebih jujur. Karena ketika seseorang mencari kata ganti agar kalimatnya tak terdengar kasar, kemungkinan besar orang tersebut akan mengubah pernyataan awal yang ingin disampaikannya.

Walaupun mengumpat menunjukkan suatu bentuk kejujuran, hal tersebut tak sepatutnya kita lakukan. Kita pasti tak ingin orang-orang yang kita sayangi malah terluka dengan umpatan dari mulut kita. Ucapan yang sudah keluar dari mulut tak akan bisa ditarik lagi. Cobalah menenangkan diri. Sejatinya, hal yang paling sulit ditaklukkan di dunia ini adalah diri sendiri. 

Mengucapkan “Aku Lelah”

Lelah hati jauh lebih sulit diatasi daripada lelah fisik. Dari luar pasti kita kelihatan baik-baik saja, begitu sehat dan seakan bisa beraktivitas dengan baik. Lantas siapa yang peduli dengan lelah hati yang kita alami?

Simpan kata lelah itu untuk diri sendiri. Sampai nanti lelah hati itu enggan mengganggu dan akhirnya pergi. Kata lelah hanya akan membuat orang-orang yang kita sayangi jadi mencemaskan kita. Sementara orang-orang yang membenci kita justru hendak berpesta mensyukuri kejatuhan kita. Dia tak menciptakan perasaan kita sebagai suatu benda yang bisa dilihat atau disentuh secara harfiah. Jadi, jangan biarkan sembarang orang melihat atau menyentuhnya.

Membuat Sebuah Janji

Jangan berjanji ketika sedang kecewa. Karena janji tersebut merupakan representasi dari luapan emosi yang sedang kita rasakan. Kita tak bisa berpikir jernih saat hati diliputi kekecewaan. Janji adalah utang yang wajib dibayar. Butuh persiapan dan pertimbangan matang agar kita bisa menepati janji yang sudah kita ucapkan. Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bisa dipegang janjinya.

Mengambil Keputusan Mendadak

Mengambil keputusan mendadak sewaktu merasa kecewa merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Sama halnya seperti membuat janji, sebuah keputusan adalah cerminan dari kematangan pribadi kita. Jangan sampai kita menyesali keputusan keliru yang kita pilih karena dipengaruhi emosi sesaat. Besar atau kecil, sebuah keputusan harus dipertimbangkan secara cermat. Setiap keputusan yang kita pilih akan mempengaruhi jalan hidup kita di masa kini dan masa mendatang. 

Bertemu Banyak Orang pada Suatu Kegiatan

Energi dan semangat cenderung terkuras habis akibat kekecewaan yang kita rasakan. Oleh sebab itu, lebih baik kita meluangkan waktu untuk diri sendiri. Usahakan agar tak bertemu banyak orang pada suatu kegiatan bila kondisinya memang memungkinkan. Sisihkan waktu untuk merenung dan menenangkan diri sendiri. Niscaya pikiran kita akan lebih jernih dan bebas dari rasa kecewa.

Melampiaskan Kemarahan kepada Orang Lain

Jika kita bertemu dengan banyak orang ketika hati sedang kecewa, peluang untuk melampiaskan kemarahan kepada orang lain akan semakin besar. Sedikit masalah atau kesalahpahaman bisa memantik luapan emosi yang sedang kita simpan di hati. Padahal tak sepatutnya orang lain menjadi sasaran pelampiasan rasa kecewa yang sedang kita alami.

Everybody has their own story. Semua orang punya masalahnya masing-masing. Namun yang terbaik adalah mereka yang selalu berusaha terlihat baik dan normal di hadapan orang lain.
                                                            

Aku bohong kalau kubilang tidak sedang kecewa kepadamu. Sudah pernah kukatakan bahwa aku mati-matian menjaga perasaanmu agar senantiasa bahagia. Jadi, aku akan marah sekali bila ada orang lain yang membuatmu terluka. Bahkan aku sangat kecewa bilamana luka itu terlihat olehku. Barangkali aku kecewa karena tak bisa menjaga perasaanmu dengan baik.

Aku tahu kamu bisa bergembira dan berbagi cerita dengan mereka yang kamu sayangi saat kamu sedang tak berbicara denganku. Namun tidak demikian halnya denganku. Obrolan ringan kita sudah membuatku sangat gembira. Bila percakapan itu terhenti atau menjadi dingin, aku begitu tersiksa. Kamu tak perlu mengetahuinya. Karena aku pun tak ingin kamu mengetahuinya.

Pagi ini aku tak butuh kata terimakasih yang kau ucapkan. Rasanya malah kecewa sekali membaca kata demi kata itu. Seakan-akan aku cuma orang asing bagimu. Tak apa-apa kok. Aku sudah berlatih menata hati. Aku berusaha supaya kekecewaanku tidak mengusik orang lain, terutama kamu. Hanya dua hal yang akan kulakukan saat kecewa, tidur sepanjang hari atau bekerja sekeras-kerasnya.

Kadang kala sesuatu yang dianggap sepele oleh seseorang merupakan hal besar yang sangat penting bagi orang lain. Seperti suara tawa atau senda guraumu bersama orang lain yang membuatku begitu bahagia saat mendengarnya. Baik-baiklah di situ, bersama orang-orang lain yang kamu sayangi.


Jikalau suatu waktu kamu lelah, segera balikkan badanmu. Aku pasti ada di situ. Selalu jadi support system-mu. Aku tak akan mundur selangkah pun darimu.
Kamu juga mesti ingin kata-kataku ini, yang sudah sering kulontarkan kepadamu.
Sedihmu, sedihku.
Sedihku, biarlah menjadi tanggunganku sendiri.

Kata orang, jenis kopi favorit itu bisa menggambarkan kepribadian para penyukanya.

Kamu tahu mengapa aku suka es kopi hitam?



Aku ingin dikenal seperti es kopi hitam itu. Dingin dan misterius. Namun ada sensasi rasa manis dan pahit ketika diseruput. Karena aku jauh dari kata sempurna, sudah pasti ada pahit yang terasa bila sudah mengenalku. Manis dan pahit itu, semoga tidak membuatmu jera. 

Rasa sayangku beribu-ribu kali lipat lebih besar daripada rasa kecewaku hari ini.
Aku sayang kamu, 99%-ku.
Mohon jangan dijawab dengan “terimakasih” lagi, ya.
Izinkan aku menyayangimu dengan segala ketidaksempurnaanku, memelukmu lewat doa, dan menjagamu lewat tangan-Nya.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa