Memoar, Opini, Kata Hati

Sabtu, 12 Agustus 2017

Membangun Pagar atau Jembatan? Pilihlah yang Terbaik!




Di sebuah desa kecil hiduplah dua orang kakak beradik laki-laki yang rukun. Keduanya memiliki lahan pertanian masing-masing. Selama 40 tahun, mereka hidup berdampingan dan bergotong royong. Pinjam meminjam alat pertanian, bertukar bibit tanaman, dan saling membantu bukanlah hal asing bagi mereka.

Suatu ketika, saudara yang lebih muda menyewa buldozer dan membuat sebuah sungai besar. Aliran sungai tersebut memisahkan tanah pertanian miliknya dan saudaranya yang sudah berdampingan sejak lama. Setelah mengetahui hal tersebut, si kakak menjadi sangat geram. Dia merasa bahwa adiknya sudah tak ingin lagi menjalin hubungan baik dengannya.


Keesokan harinya, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah sang kakak di pagi hari. Orang tersebut adalah tukang kayu yang membawa sekotak perkakas lengkap. 

“Permisi, saya sedang mencari pekerjaan. Apakah Anda punya pekerjaan untuk saya?” tanya sang tukang kayu.

“Nah, kebetulan Anda datang ke sini. Lihatlah di seberang sana. Adik saya sengaja membawa buldozer untuk membuat sungai dan memisahkan lahan pertanian miliknya dan milikku. Kelihatannya dia sudah tak menganggapku sebagai saudara lagi. Lebih baik aku putus hubungan dengannya.”

“Lalu apa yang bisa saya kerjakan, Tuan?”

“Saya punya setumpuk kayu ulin yang kokoh. Tolong buatkan pagar setinggi 3 meter dari kayu-kayu itu. Supaya saya tidak perlu lagi melihat muka adikku dan lahan pertaniannya.”

“Saya memahami maksud Anda. Baiklah, saya akan segera menyelesaikannya hari ini.”


Tukang kayu itu segera mengangkut kayu-kayu dan bahan lainnya dengan sigap. Dia bekerja keras sejak pagi hingga sore dengan kayu-kayu ulin tersebut. Ketika hari menjelang senja, ia memberitahukan kepada sang tuan bahwa pekerjaannya sudah rampung. Namun sang tuan malah terkejut bukan kepalang dengan hasil pekerjaan si tukang kayu. Tak ada pagar tinggi seperti permintaannya. Hanya ada sebuah jembatan besar yang menghubungkan satu sisi sungai dengan sisi sungai lainnya. 



“Saya kan menyuruhmu membangun pagar. Kenapa kamu malah membangun jembatan?” 

“Betul, Tuan. Namun saya kira Tuan dan adik Tuan membutuhkan jembatan, bukan pagar.”
Sang adik yang melihat jembatan kayu tersebut bergegas berlari ke tengah jembatan, menghampiri kakaknya dan tukang kayu yang sedang bercakap-cakap.

“Kak, kau benar-benar sangat bijaksana. Kau membangun jembatan kokoh ini setelah semua yang kulakukan kepadamu. Aku sadar bahwa hubungan baik kita adalah hal yang jauh lebih penting dari apa pun. Jembatan ini akan memudahkan kita untuk bertemu setiap saat. Aliran sungai yang kubangun bisa digunakan untuk mengairi lahan pertanian kita.”

Kakak beradik itu lantas berpelukan dengan gembira di tengah jembatan. Setelah menyaksikan kejadian mengharukan tersebut, sang tukang kayu segera berbalik badan dan bergegas pergi.

“Tuan tukang kayu, Anda mau pergi ke mana? Masih banyak pekerjaan yang bisa Anda selesaikan di lahan pertanianku” tukas sang kakak.

“Saya sangat senang berada di sini. Namun saya harus pergi, Tuan. Masih banyak jembatan lain yang harus kubangun.”

Sumber:


Mengapa Kayu Ulin?

Kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu paling kuat. Teksturnya semakin kokoh bila terkena air. Inilah yang membuat kayu ulin sering digunakan untuk membuat jembatan. Semakin lama, jembatan dari kayu ulin akan semakin kuat dan tak mudah rusak karena terpaan air laut atau cahaya matahari.

Bu, jikalau nanti masalah kembali datang bertubi-tubi, jangan mendirikan pagar tinggi di lahan kalian masing-masing. Ingatlah bahwa ada “jembatan kokoh” yang terbuat dari kayu ulin. Jembatan yang menjadi simbol pertolongan-pertolongan tak terduga untuk perjuangan kalian. Mempertahankan ego itu ibarat mendirikan pagar setinggi-tingginya. Kalian tak akan bisa memberikan perhatian satu sama lain karena terhalangi pagar yang tinggi.

Gunakan kayu-kayu itu dengan bijaksana. Bangunlah jembatan kokoh agar mantap berpijak dan lancar melangkahkan kaki. Langkah kaki kalian pasti tak selalu seirama. Terseok-seok, kadang tersandung, terjatuh, bahkan terantuk batu hingga terluka. Yakinlah bahwa semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Sampai nanti tepat waktunya Dia mengucapkan kata selesai. 

Kalian tak harus selalu melewati jembatan kokoh itu. Banyak jalan lain yang bisa kalian lalui. Namun saat kalian mulai merasa saling berjauhan, bertemulah di tengah jembatan. Mulailah mengingat kembali perjuangan yang selama ini telah kalian lakukan.


Aku akan selalu jadi salah satu jembatan kayu untuk kalian. Mungkin kalian tidak menyadarinya. Namun aku akan terus melakukannya.


Jembatan memang selalu jadi pendengar setia bagi siapa pun. Barangkali jembatan kelihatan diam saja. Siang dan malam dia bersedia menjadi pijakan dan tempat berkeluh kesah. Dia yang kalian jadikan pijakan itu akan ikut bahagia menyaksikan hubungan baik kalian. Bilah-bilah kayunya yang kokoh dan rapat akan memuluskan langkah kaki kalian sampai ke tempat tujuan.

Tak perlu kau tanyakan soal perasaan si jembatan. Angin kencang dan hantaman ombak saja tak pernah berhasil mengganggunya. Apalagi kalau hanya kerikil kecil atau goresan-goresan yang ditorehkan orang iseng. Dia jauh lebih kuat daripada yang kalian duga. Percuma menanyakan tentang keluh kesah si jembatan. Kalian tak ubahnya seperti orang gila, yang berbicara sendiri tanpa mendapat jawaban apa-apa.

Kalian hanya perlu bangkit terus setelah jatuh dan berpijak dengan mantap pada jembatan itu. Tak peduli terpaan panas, hujan, angin, atau gelombang besar, jembatan dari kayu ulin itu akan selalu ada. Tak pernah bergeser, tak pernah melemah, dan setia menantikan langkah demi langkah kalian. 


You jump, I jump.
You laugh, I laugh.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa