Memoar, Opini, Kata Hati

Jumat, 27 Oktober 2017

Tips Wisata Kuliner Saat Liburan di Thailand




Siapa sih yang gak ngiler lihat foto-foto dan video kuliner Thailand yang hits di Instagram?

Proses pembuatannya kelihatan seru. Komposisi makanannya juga tampak menggiurkan dan bikin semua orang ingin mencicipi. Kalau secara pribadi sih, saya gak terlalu suka dengan makanan-makanan yang saya cicipi di Thailand. Tapi ini sih penilaian subjektif saja. Entah karena saya belum berhasil menemukan makanan yang benar-benar enak atau memang rasa makanannya gak sesuai dengan selera saya.

Setelah mengunjungi Thailand beberapa hari lalu, saya jadi tergugah untuk menulis tips-tips wisata kuliner ini. Tentu saja tips ini dibuat berdasarkan pengamatan saya selama berada di sana.


Jangan Lupa Tanya Harga Sebelum Membeli

 



Tips yang satu ini sangat umum ketika berwisata kuliner, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kita pasti tak mau kan membayar ekstra mahal untuk makanan yang gak worth it. Hari pertama di Thailand, saya mencicipi Pad Thai (kwetiau goreng Thailand) di pinggir jalan dengan harga 120 baht per porsi (dengan kurs 1 baht = Rp 400,-). Memang sih kalau dihitung-hitung, jadinya cuma 50 ribuan. Tapi saya agak gak rela karena katanya jajanan Thailand itu murah dan enak.

Ternyata di hari terakhir, teman saya menemukan Pad Thai di tempat lain dengan harga 40 baht per porsi. Pad Thai yang lebih murah itu porsinya pas untuk satu orang dan harganya jauh lebih ramah untuk ukuran kantong turis Indonesia.

Tanya Dulu: Halal atau Tidak?

 


Masyarakat Thailand mayoritas beragama Buddha, jumlahnya bahkan mencapai 95% dari populasi penduduk secara keseluruhan. Inilah yang membuat makanan berbahan dasar babi menjadi sangat populer.

Seriously pork and lard everywhere.

Buat saya yang tidak menyukai daging babi, keberadaan aneka kuliner tersebut cukup mengganggu. Aroma daging babi menyeruak di mana-mana. Saya agak jijik melihat makanan dari babi dengan lemak super tebal dan juicy. Apalagi mayoritas pedagang street food di Thailand tidak bisa berbahasa Inggris. Orang yang tidak menyukai atau tidak mengonsumsi babi harus teliti dan membiasakan diri untuk bertanya sebelum membeli makanan.

Kalau bingung, tunjuk saja makanan yang ingin dibeli sambil berkata “This is chicken or beef?

Banyak Pegawai di Restoran Fast Food yang Tidak Bisa Berbahasa Inggris

 



Jangan berpikir kalau makan di restoran fast food Thailand adalah solusi terbaik untuk menghindari pedagang street food yang gak bisa Bahasa Inggris. Faktanya, banyak pegawai restoran fast food yang gak bisa Bahasa Inggris. Waktu disebut chicken sih dia ngerti. Tapi pas teman saya bilang mau pesan nasi putih (rice), jidat pegawai itu langsung berkerut sambil senyum-senyum tanda gagal paham.

Pegawai itu lalu menulis kata “thigh” (paha) pada secarik kertas. Mbak, please Mbak. Kami udah nyebut kata “rice” dengan pronunciation sebenar-benarnya. Akhirnya kami harus googling gambar nasi putih dan kasih liat ke pegawai itu, barulah dia paham lalu segera meng-input order makanan yang kami pesan. Dari situ kami berkesimpulan kalau banyak orang Thailand yang kurang paham pronunciation Bahasa Inggris dengan benar. 

Hal yang sama juga terjadi pada kasir supermarket. Saya mau nanya, terasi dalam kemasan itu siap saji atau harus dimasak dulu.
Miss, is it instant product or I have to cook it before served?

Pertanyaan saya cuma dibalas dengan senyuman gagal paham, persis seperti pegawai restoran fast food. Ya udahlah ya. Langsung beli aja. Saya gak nanya lagi daripada nanti kasirnya makin gagal paham.
 


Hal yang sama gak saya alami lagi waktu jajan di restoran fast food Bandara Don Mueang. Pramusajinya jauh lebih fasih berbahasa Inggris walaupun logatnya masih Thailand banget. Pesanan saya berupa french fries ukuran L dan pineapple pie bisa diorder secara cepat dan lancar tanpa kendala bahasa. Mungkin karena pramusaji restoran fast food di bandara berhadapan dengan turis internasional setiap hari. Bahasa Inggrisnya pun jadi lebih lancar dan gak malu-malu kucing.

Makan di Restoran Fast Food Harus Beresin Sisa Makanan Sendiri

 

Pernah makan di IKEA?
Kalau pernah, pasti sudah gak asing dengan konsep beresin sisa makanan sendiri setelah selesai makan. Jangan nunjukkin mental orang Indonesia yang maunya selalu dilayani ya kalau lagi makan di restoran fast food luar negeri. Termasuk restoran fast food di Thailand. Biasanya ada wadah khusus untuk membuang sisa makanan dan meletakkan piring kotor di restoran fast food tersebut. Gak mau kan kelihatan kampungan karena ninggalin meja kotor begitu aja setelah selesai makan di restoran fast food di Thailand?

Pilih Porsi Makanan Sesuai Kebutuhan

 




Porsi makanan dan minuman di Thailand ternyata jumbo. Minuman milk tea aja gelasnya bisa seukuran baskom kecil (Minuman aslinya bener-bener jauh lebih besar daripada yang kelihatan di foto.). Makanannya juga dijual dalam porsi besar, cukup untuk dimakan 2 hingga 3 orang yang kapasitas perutnya kecil. Jadi, jangan serakah dengan meminta ukuran yang paling besar saat membeli makanan dan minuman. Alangkah lebih baik bila kita mengamati dulu cara penyajian dan porsinya sebelum membeli. Supaya makanan atau minuman yang kita beli tidak terbuang percuma karena porsinya terlalu besar. Beli seporsi makanan atau minuman untuk dicicipi bersama-sama tentu lebih seru dan hemat.

Jangan Sampai Terjerat Rayuan Tukang Tuktuk

 

Ternyata ada tukang tuktuk yang sudah bekerja sama dengan restoran atau toko souvenir tertentu. Sehingga mereka akan mendapatkan komisi bila membawa kita makan atau berbelanja di tempat tersebut. Ketika kita naik tuktuknya, kita akan ditawari makan di restoran seafood dan langsung diantar ke restoran tersebut. Gilanya, biaya makan di restoran seafood tersebut bisa mencapai 1.000 baht per orang (sekitar Rp 400.000,-).

Kalau mau naik tuktuk untuk jalan-jalan keliling Thailand sih gak masalah. Namun kita wajib memastikan bahwa kita tidak akan diajak ke tempat-tempat yang tidak kita inginkan, ya. Sampaikan destinasi yang ingin kita datangi secara jelas. Jangan ragu untuk protes jika tukang tuktuk malah mengarahkan kita ke tempat lain yang mencurigakan.

Lebih baik kita mencari street food sendiri karena kita bisa lebih cermat memilih makanan yang kita sukai. Kesempatan bertemu extreme food seperti kalajengking goreng pun jauh lebih besar jika kita berburu kuliner secara mandiri.

 

Jajanan dan Oleh-Oleh Makanan Lebih Murah di Supermarket

 

Dulu saya pernah membaca review blogger tentang membeli oleh-oleh makanan di luar negeri. Blogger tersebut berpendapat bahwa membeli oleh-oleh makanan lebih murah di supermarket atau minimarket dibandingkan di toko oleh-oleh khusus. Kini saya sudah membuktikannya sendiri di Thailand. Harga oleh-oleh di toko khusus jauh lebih mahal daripada oleh-oleh di supermarket atau minimarket.

Sebungkus bumbu tom yum siap saji dibanderol dengan harga 40 baht di toko oleh-oleh. Kemasannya pun sudah dibungkus khusus. Setiap plastik berisi 4 bungkus bumbu sehingga kita tak bisa membelinya secara satuan. Padahal produk bumbu tersebut hanya 16 baht di supermarket dan minimarket. Kemasannya pun dijual satuan sehingga kita leluasa membeli sesuai jumlah yang kita butuhkan. Hal yang sama juga berlaku pada jenis oleh-oleh lainnya seperti biskuit, cokelat, buah kering, kacang, juhi, dan masih banyak lagi. 

Nah, 95% oleh-oleh makanan yang saya bawa dari Thailand memang saya beli di supermarket dan minimarket. Saya agak nyesel sih sempat belanja oleh-oleh makanan di dried food market. Bentuknya kayak toko khusus makanan gitu. Untungnya, saya gak beli banyak oleh-oleh di situ. Lebih asyik belanja oleh-oleh makanan di minimarket atau supermarket. Sampai saya lupa fotoin isi supermarketnya karena terlalu asyik milih oleh-oleh.


Sekian dulu ya ulasan tips tentang wisata kuliner di Thailand. Kesimpulannya, street food dan makanan Thailand lainnya gak terlalu cocok dengan lidah saya. Indonesia food is the best. Lain kali kalo berkesempatan kembali lagi di sana, saya pasti shopping oleh-oleh makanan di supermarket atau minimarket. Ada Supermarket Big C, Supermarket TOP, Seven Eleven, dan masih banyak lagi. Bye bye toko oleh-oleh makanan yang mahal dan bikin kantong jebol.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright©Melisa