Merasa Cukup

Merasa Cukup

Suatu hari ada seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib yang bisa mengeluarkan kepingan emas dengan jumlah tak terhingga. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapa pun yang diinginkannya sebab kucuran emas baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”.

Seketika itu si petani terperangah melihat kepingan-kepingan emas berjatuhan di depan hidungnya. Ia lalu mengambil beberapa ember untuk menampung emas itu. Setelah semua ember penuh, petani kemudian membawanya ke gubuk tempat tinggalnya untuk disimpan di sana.

Kucuran emas yang terus mengalir membuat si petani mulai mengisi karung-karung, tempayang, bahkan rumahnya hingga penuh. Karena merasa masih kurang, ia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emas. Mata air yang mengeluarkan emas trerus mengalir hingga akhirnya si petani mati tertimbun emas dalam lubang akibat ketamakannya sebab dia tidak pernah bisa berkata “cukup”.

 

Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”.

Kapankah kita bisa berkata cukup?

Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.

Pebisnis pun hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target.

Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.

Suami berpendapat istrinya kurang mahir mengurus rumah tangga.

Semua merasa kurang dan kurang.

Kapankah kita bisa berkata cukup?

 

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.

Cukup adalah persoalan kepuasan hati.

Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang mampu mensyukuri.

Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.

Cukup jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandep, dan cepat puas diri.

Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima,

bukan apa yang belum kita dapatkan.

Jangan biarkan kerasukan manusia membuat kita sulit berkata cukup.

Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini,

maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata cukup.

 

No comments