Hati-hati.
Jangan sampai kehilangan milikmu yang berharga
gara-gara ingin menangkap bayangan.
Seseorang akan benar-benar menikmati pengembaraan
ketika ia telah benar-benar terbebas dari bayangan pulang.
Tidak ada yang benar-benar menemanimu.
Bahkan bayanganmu saja akan meninggalkanmu
saat kamu tidak memiliki cahaya.
Menyesal sama seperti mengejar bayangan kita sendiri,
semakin dikejar, semakin jauh dari jalan keluar.
Teman palsu seperti bayangan.
Mereka selalu di dekatmu saat terang
tapi mereka tidak terlihat di mana pun saat gelap.
Kita jangan sampai kagum pada bayangan kita sendiri,
kadang-kadang bayangan itu tinggi besar ketika matahari condong,
padahal tubuh kita sebenarnya tetap kecil.
Pada akhirnya, kita harus menyadari,
ada banyak bayangan dan khayalan yang sebenarnya sering kali bertolak belakang
dengan kenyataan yang kita temui.
Ketidakpuasan mengikuti ambisi seperti sebuah bayangan.
Ketakutan adalah bayangan ketidaktahuan yang panjang.
Jangan terlalu bergantung pada siapa pun di dunia ini,
karena bayanganmu saja akan meninggalkanmu di saat gelap.
Hari ini aku bertanya pada bayanganku,
“Kenapa kau mengikutiku?”
Dia tertawa lalu menjawab,
“Siapa lagi yang kau punya selain aku.”
Bagaikan bayangan yang tak pernah meninggalkan tubuh,
begitu pula akibat dari perbuatan.
Hidup ini bagaikan bayangan.
Jika kau mengejarnya, ia akan menjauh.
Berjalanlah menuju cahaya, maka bayangan akan mengikutimu.
Semakin terang cahayanya,
semakin gelap pula bayangannya.
Di balik bayangan,
aku melihat lebih jelas daripada mereka yang berdiri di terang.
Belajar terbiasa dengan hal yang tiba-tiba berubah.
Bahkan, bayanganmu sendiri bisa meninggalkanmu.
Retak di cermin tidak menghancurkan bayangan.
Ia hanya memperlihatkan sisi lain yang tidak pernah terlihat.
Bayangan tak pernah berdusta.
Ia hanya muncul saat ada cahaya.
Begitulah hidup.
Sisi gelap kita bukan untuk disembunyikan, tapi untuk dikenali.
Tak semua langkah perlu terlihat.
Sebagian harus tetap dalam bayangan.
Sejak kapan dunia ini pernah benar-benar tentang aku.
Aku hanya menjadi bayangan dari harapan orang lain.
Menyusun langkah bukan karena ingin, melainkan karena takut mengecewakan.
Aku tersenyum agar mereka lega.
Aku kuat agar mereka tenang.
Dan aku patuh agar mereka bangga.
Tapi di balik semua itu, ada aku yang perlahan hilang.
Tenggelam di balik ekspektasi.
Dan tak seorang pun bertanya bagaimana rasanya menjadi aku.
Jangankan manusia, langit pun akan berubah warna jika sudah aktunya.
Jangankan orang lain, bayangan diri sendiri pun meninggalkan kita
jika tak ada sinar menerangi.
Semua akan asing pada waktunya.
Semua akan pergi dan hilang pada waktunya.


No comments