Sebaik-baiknya orang, emang sebaik apa sih?
Tidak perlu membuktikan bahwa kita orang baik, karena memang bukan.
Berbuat baik ke orang jahat
ibarat memberi pelita ke orang buta di jalanan gelap.
Orang butanya tetap merasa jalannya gelap
dan tak akan berterima kasih kepadamu yang telah menerangi jalannya.
Iya, gitu aja.
Seseorang dengan niat baik tidak pernah menang dalam segala hal.
Kebaikan itu seperti lentera.
Ia menyala, tapi tahu kapan padam saat minyak habis.
Jika kau terus menyala demi orang lain, kau akan habis,
sementara mereka hanya bertanya:
“Apa tak bisa lebih terang lagi?”
Dunia ini terlalu jahat
untuk kita yang gampang percaya
dan menganggap semua orang itu bakalan baik kalau kita juga baik.
Jika baik disia-siakan,
apakah jadi jahat bisa menjadi sebuah pilihan?
Lebih baik jadi orang sadar daripada orang baik.
Orang baik tuh dia belum tentu sadar.
Orang baik tak pernah merasa dirinya baik,
seperti kupu-kupu tak pernah tahu sayap indahnya.
“Jauhkanlah aku dari orang-orang yang nggak membawa kebaikan.”
Skenario sebenarnya:
Kita yang dijauhkan karena diri kita nggak membawa kebaikan di kehidupan orang lain.
Sesekali bercermin biar bisa evaluasi diri.
Nggak selamanya kita jadi “orang baiknya”.
Jangan pernah percaya dengan segala kebaikanku.
Aku teramat jahat jika hatiku sakit.
Apa yang baik menurutmu belum tentu baik juga bagi orang lain.
Hidup ini jangan hanya menurutmu, menurutmu, menurutmu saja.
Aku bukan orang baik.
Ketika aku berbuat baik itu karena kamu lebih baik.
Semua yang hadir di hidupku adalah orang baik,
apa pun akhirnya, semua akan tetap baik di mataku.
Aku bukan manusia pendendam,
aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikan dari siapa pun.
Selalu kuingat,
sebaik-baiknya manusia pasti memiliki sisi buruk juga, begitu pun dengan aku.
Jadilah orang baik dengan memaafkan orang lain,
tapi jangan jadi orang bodoh dengan mempercayai lagi.
Berprasangka baiklah pada semua orang,
tapi jangan sangka semua orang itu baik kepada kita.
Kita tidak bisa menghindari rasa kecewa terhadap manusia,
sebaik apa pun seseorang, dia punya potensi mengecewakan.
Bukan berarti dia jahat, tapi karena dia manusia.
Orang baik itu tidak dilihat dari ibadahnya,
tidak juga dilihat dari banyak ilmu,
tapi dilihat dari caranya memuliakan orang lain.
Tidak selamanya orang baik akan diperlakukan dengan baik juga.
Kadang hidup memang tidak adil.
Terbiasalah.
Aku tidak peduli dengan sikap jahat orang lain kepadaku.
Aku hanya peduli pada mereka yang memperlakukanku baik.
Selebihnya akan aku abaikan.
Kamu hanya perlu lebih baik dari kemarin,
bukan lebih baik dari orang lain.


No comments