Dari kopi, aku belajar:
Bahwa pahit adalah keniscayaan
untuk tiap nikmat keberhasilan yang kudapatkan.
Kehilangan adalah pahit yang tak pernah dikecap lidah.
Dalam hidup, ada rasa manis dan juga pahit.
Terkadang kita harus merasakan rasa pahit
untuk benar-benar menikmati rasa manis ketika datang pada kita.
Sebab kopi mengingatkanku pada cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Pahit, namun kita tak bisa berhenti menikmatinya.
Hidup tak harus selalu manis
karena pahit pun bisa menguatkan.
Seperti kopi yang tetap nikmat meski tanpa gula.
Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup
dan yang paling pahit adalah ialah berharap kepada manusia.
Saran itu mudah, yang sulit adalah menerimanya,
karena itu pahit dalam rasa.
Semangat masa muda
adalah tameng dari semua realitas pahit dan kekejaman dunia.
Sebuah kepastian yang pahit akan jauh lebih baik
daripada keplin-planan yang manis.
Bagaimana bisa menghargai rasa manis tanpa keberadaan rasa pahit?
Kadang kau kalah, kadang kau menang.
Kadang kau sengsara, kadang kau bahagia.
Kenangan pahit akan melekat kuat di dalam pikiran dibandingkan kenangan manis.
Cinta tidak seperti permen, tapi permen karet.
Kadang hilang rasa manis dan berubah jadi pahit.
Sepahit apa pun kopi, jangan menceritakannya pada gula.
Aku menerima seluruh bagian pahit dalam hidup,
lalu kurangkai sedemikian rupa hingga pekatnya tak lagi terasa.
Karena dengan begitu, aku bebas dari sakit.
Kenyataan pahitnya adalah,
kadang-kadang orang mengecapmu sebagai orang jahat,
agar mereka tak merasa bersalah saat memperlakukanmu dengan buruk.
Lalu, kamu takut dengan pahitnya hidup?
Kawan, kopi pun sempurna karena rasa pahitnya.
Tak semua cerita bisa diterima semua orang.
Ada beberapa hal yang harus kamu jalani dan telan pahitnya sendiri,
sekalipun itu pasangan atau orang tuamu sendiri.
Tak semua yang terasa pahit itu berakhir menyedihkan
seperti secangkir kopi
meskipun pahit namun ada kenikmatan di akhirnya.
Sering kali kebenaran itu terasa pahit.
Ia tidak hanya terasa pahit bagi penerimanya,
namun juga terasa pahit bagi yang menyampaikannya.
Sebab kopi mengingatkanku pada cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Pahit, namun kita tak bisa berhenti menikmatinya.


No comments